Pantai Pulau Merah: Sunset dan Surfing Spot di Banyuwangi

Halo! Masih dalam cerita trip ke Banyuwangi minggu lalu. Banyuwangi emang crazy bangeet ya! Mau mendaki gunung ada, mau main di pantai juga ada. All in one. Setelah kemarin saya cerita tentang mandaki ke Ijen, sekarang waktunya kasih info tentang pantai Pulau Merah di Banyuwangi.

Pantai Pulau Merah

Kenapa namanya pantai Pulau Merah? Apa warna pasirnya merah kaya nama pantai Pink di Pulau Komodo? Ya mungkin hampir benar jawabannya. Kalau saya cek-cek di Mbah Google, dinamain pantai Pulau Merah karena di sini ada satu pulau atau lebih tepatnya bukit yang tanahnya berwarna merah. Tapi ini ga bisa dilihat dari jauh, karena ketutup pepohonan. Katanya, kalau pas air laut surut kita bisa ke bukit itu buat pembuktian haha. Kalau pas sunset, pasir di pantai ini berwarna merah kena sinar dari matahari yang mau tenggelam.

Bukit yang katanya bertanah merah

Kalau mau ke sini bisa naik mobil atau motor pribadi, atau sewa. Dari stasiun Banyuwangi Baru sekitar 2 jam lebih dikit bua sampai di pantai Pulau Merah. Itu kondisi kalau tidak musim liburan ya. Kalau musim liburan ya ada macet-macet dikit, orang-orang juga mau main ke pantai. Akses jalan menuju pantai berupa aspal, ada beberapa jalan berlubang. Kita bakal ketemu sama site penambangan emas di jalan dekat pantai. Nanti di kanan kiri juga bakal ngelewatin kebun Buah Naga milik warga (kemarin, Januari lagi musim Buah Naga). Yang unik, kebun Buah Naga warga ini dipasangi lampu bohlam di tiap sela-sela pohonnya, jadi kalau hari gelap kebunnya akan terang. Lampu ini merangsang pertumbuhan bunga dan buah Naga jadi petani bisa panen sepanjang tahun dan produksinya juga meningkat. Sejahteraa~ Aamiin~

Loket pantai Pulau Merah buka dari jam 07.00-17.00 sore. Ga bisa catching sunrise di sini. Tapi jangan khawatir, kita bisa nontonin sunset yang super bagus sampe puas. Jam tutup loketnya jam 17.00, tapi kalian boleh sampai malam di sini (kalau ga masuk angin). Harga tiket masuknya only Rp. 8.000,-. Btw kalau sewa mobil dari kota Banyuwangi ke pantai Pulau Merah (PP) sekitar Rp. 400.000,- termasuk driver dan bensin.

Bisa sewa alat surfing dan tempat duduk buat selonjoran

Menjelang sore, ya sekitar jam 16.00 sore biasanya pantai mulai ramai. Karena mungkin matahari sudah ga begitu terik. Bakal banyak orang-orang yang surfing, baik pemula ataupun profesional, orang lokal dan mancanegara. Pantai Pulau Merah ini salah satu pantai yang ombaknya bagus buat surfing. Pantainya tidak banyak batu, kalau angin kencang ombaknya bisa sampai lima meter! Tapi, kalau ombak sampai lima meter, biasanya pengunjung dilarang surfing atau mandi di pantai. Batas ombak yang boleh pas dua meter sajaaa, biar ga terjadi hal yang buruk-buruk gaes. Kalau ga punya papan surfing, bisa sewa yang harganya sekitar Rp. 50.000,-.

Sunset di Pulau Merah

Selain surfing sama renang-renang di pantai, kita bisa juga mancing pakai kapal nelayan. Syaratnya, kalau ombak lagi bersahabat ya. Tapi, kita harus bawa alat pancing sendiri soalnya ga ada sewaan. Oiya, di sini juga ada lapangan voli pantai. Sambil nunggu matahari tenggelam alias sunset bisa voli pantai dulu.

Kapal nelayan yang bisa di sewa di Pulau Merah

Kalau hari sudah gelap alias sudah puas nontonin apa motoin sunset, bisa melipir makan ke warung-warung di pinggir parkiran. Harganya masih terjangkau. Jangan khawatir, di sini juga ada mushola ya.

Lobster dan kolesterol

Sekian dulu ya cerita perpantaiannya. Semoga tulisanku bisa kasih info yang bermanfaat buat kalian. Buruan atur jadwal sama tabungan deh buat ke Banyuwangi. Banyak juga penginapan-penginapan like Bali di pinggir pantai Banyuwangi. Jangan lupa buang sampah di tempatnya ya. Sampai ketemu di cerita berikutnyaaa~

Cheers,

Tika

Perjalanan Menuju Kawah Ijen Banyuwangi

Notifikasi dari Papa: “Mbak, mau jalan-jalan ke Banyuwangi nggak? Ada tiket gratis berangkat Senin besok pulang Kamis”. Siapa yang tak mau gratisaan~ Beberapa teman dekat saya pasti tau kalau sudah dari lama saya ingin sekali solo traveling ke Banyuwangi, mau perjalanan buat kenal diri sendiri lebih dalam hehe. Tapi Tuhan baik bangeeet, dikabulinnya ke Banyuwangi sama orang tua.

View dari puncak gunung Ijen

Dari Jakarta ke Banyuwangi tidak ada kereta langsung, kita harus transit dulu untuk bisa sampai di Banyuwangi. Saya naik kereta tujuan Surabaya (12 jam) lalu transit di Surabaya (5 jam) dan lanjut kereta ke Banyuwangi (6 jam). Perjalanan hampir 24 jam. Bisa bayangkan gimana rasa bokong dan pinggang? Hahaha. Untuk tujuan Banyuwangi (dengan transit), banyak sekali pilihan kereta dari kelas ekonomi sampai luxury, dari yang berangkat pagi sampai yang berangkat malam. Ini saya coba buatkan info, untuk pilihan keretanya bisa cek di web/app tiket online ya.

Pilihan kereta ke Banyuwangi

Penginapan bisa pilih di Banyuwangi atau di daerah basecamp gunung Ijen. Harganya mulai dari Rp. 100.000,-. Trip kali ini, saya bermalam di rumah Tante dekat stasiun Kalisetail (saya tidak turun di stasiun Banyuwangi). Tiba di stasiun Kalisetail sekitar pukul 16.00 sore.

Biasanya orang-orang berangkat ke kawah Ijen pada dini hari untuk bisa melihat blue fire. Btw, blue fire ini hanya ada dua di dunia, di kawah Ijen dan di Iceland. Blue fire bisa disaksikan sekitar pukul 02.00 – 04.00 pagi. Dari rumah Tante (Kalisetail), kami dijemput jam 23.00 malam oleh travel. Jalanan menuju basecamp Ijen beraspal bagus, naik turun kanan kiri pepohonan, hanya bisa dilalui dua mobil arah berbeda.

Perjalanan dari Banyuwangi ke basecamp Ijen sekitar satu sampai dua jam, kami tiba jam 00.30 pagi. Loket karcis baru dibuka jam 01.00 pagi. Kami menunggu di salah satu warung di area parkir basecamp Ijen. Ngobrol bersama supir dan guide kami ditemani teh hangat. Suhu udara di Ijen ini mencapai belasan derajat, jadi jangan lupa bawa jaket tebal dan sarung tangan. Lebih baik lagi kalau pakai sepatu dan kaos kaki agar lebih hangat. Mendaki Ijen kali ini kami pakai guide, kalau tidak salah harganya Rp. 250.000,- sudah termasuk tiket masuk, air mineral 600 ml, senter/headlamp bagus dan masker untuk ke kawah belerang.

Jalur pendakian gunung Ijen. Ojek yang sedang mendorong penumpang in frame.

Kami mulai mendaki sekitar jam 01.00 pagi. Jarak dari gerbang pendakian sampai ke puncak sekitar 3 KM, kalau kata guide kami bisa ditempuh selama satu jam saja, tapi versi bule hahaha. Kalau saya yang kaum engap? Kemarin saya dua jam. Jalur pendakiannya berupa tanah berpasir yang kalau saat musim kemarau licin berpasir. Jalurnya lebar dengan kanan kiri hutan. Kalau lelah, bisa istirahat dulu di pos. Sepanjang perjalanan kalau tidak salah saya menemui ada tiga pos. Posnya besar dan bersih, ada tempat duduk semen jadi tidak perlu duduk di lantai.

Salah satu pos di jalur pendakian

Kabar gembira buat yang tidak suka capeknya naik gunung, di Ijen ini ada ojek (tapi tidak online haha). Ojeknya seperti gerobak/troli yang di dorong. Kita tinggal duduk selonjoran saja di atas troli. Biaya ojek dari gerbang pendakian sampai puncak dan kembali lagi ke gerbang pendakian (pergi-pulang) sebesar Rp. 800.000,- (ditarik tiga orang driver). Kalau mau turun dari puncak sampai gerbang pendakian (jalur turun) hanya Rp. 200.000,- (didorong satu orang driver). Di sepanjang perjalanan kita akan bertemu banyak ojek kosong yang akan menawari kita. Tertarik naik ojek ratusan ribu? Hehehe.

Ojek di gunung Ijen, start from 200K.

Para penambang belerang di Ijen sekarang juga sudah menggunakan troli ini untuk membawa bongkahan belerang dari puncak ke Pondok Bunder. Troli-troli ini hibah dari seorang warga negara Swiss, yang setiap tahun juga dimaintenance kondisinya masih layak atau tidak.

Setelah jalan menanjak 2 KM kita akan bertemu warung Pondok Bunder. Warung di ketinggian 2.214 mdpl ini menjual minuman hangat macam kopi dan teh, juga makanan ringan seperti pop mie. Di sini juga ada toilet untuk buang air kecil tapi dengan air terbatas. Warung Pondok Bunder ini jadi tempat para penambang belerang menimbang belerang yang mereka bawa dari kawah Ijen.

Kalau sudah cukup beristirahat di warung, perjalanan masih ada 1 KM menuju puncak Ijen. Dari warung perjalanan menanjak sebentar lalu lanjut landai terus sampai puncak. Udara dan angin sudah mulai terasa dingin. Para ojek yang tadi saya ceritakan hanya bisa sampai puncak saja. Jadi kalau kita mau lanjut untuk lihat blue fire, tidak bisa naik ojek.

Puncak Ijen: pangkalan ojek terakhir

Dari puncak Ijen, kita perlu turun lagi ke bawah sekitar 1 KM untuk sampai di spot blue fire. Jalurnya batuan curam dan terjal (alasan harus pakai sepatu ke Ijen). Blue fire bisa terlihat dari puncak walaupun tidak terlalu jelas. Kalau mau ambil foto blue fire tidak bisa dari puncak, harus turun ke bawah atau kalau mau bawa lensa tele. Blue fire bisa dilihat dari jam 02.00 – 03.00 pagi, saat langit masih gelap. Saya memilih untuk melihat blue fire dari kejauhan saja (puncak) karena sudah engap membayangkan track terjal curam saat naik dari kawah nanti. Sorry, anaknya lagi pesimis hahaha.

Setelah melihat blue fire, menuju sunrise atau sekitar jam 05.00 pagi kita bisa ke arah puncak. Dari arah kawah naik ke arah kiri, jalan terus aja sampai mentok. Puncak gunung ijen berada di ketinggian 2.348 mdpl. Guide saya baik sekali, dia kasih tau spot-spot foto bagus di puncak dan sepanjang jalan turun. Bahkan saat saya sudah lelah untuk foto, dia masih semangat buat arahin gaya.

Kawah gunung Ijen

Beberapa waktu lalu Ijen habis kebakaran, di puncak dan sepanjang jalurnya masih terlihat batang-batang pohon gundul yang masih hitam. Kata guide, pas kebakaran kemarin keadaan warung-warung di bawah kaya kena tsunami, banyak yang rusak kena abu-abu. Sampai saat ini kondisi di gunung Ijen masih dalam tahap pemulihan.

Pepohonan sisa kebakaran kemarin 😦

Jam 06.00 pagi kami turun karena takut ketinggalan kereta dari Stasiun Banyuwangi jam 09.00 pagi. Perjalanan turun dari puncak Ijen ke basecamp (warung) hanya satu jam saja. Bisa lari pas track landai. Pemandangan turun dari puncak bagus banget! Disuguhin Gunung Raung, Gunung Ranti dan Gunung Merapi (Jawa Timur).

Kita juga masih akan bertemu sama para ojek yang membawa penumpang turun dari puncak. Saya takut kalau dalam keadaan turunan terjal tiba-tiba gerobak/trolinya lepas atau drivernya tidak bisa mengerem, tapi ternyata rem tangan mereka pakem sekali dan mereka sudah terlatih. Jadi, tidak perlu khawatir. Khawatir di dompet aja kalau kamu mau keluar uang ratusan ribu hahaha.

Btw, harga tiket masuk untuk lokal hanya Rp. 5.000,- (weekdays) dan Rp. 7.500,- (hari libur). Turis mancanegara Rp. 100.000,- (weekdays) dan Rp. 150.000,- (weekend). Gunung Ijen tidak bisa untuk camping/bermalam, wisatawan hanya boleh berkunjung dari jam 01.00 pagi sampai jam 12.00 siang saja. Jadi kalau mau mendaki pagi hari jam 06.00 gitu, menghindari udara dingin, masih bisa. Kemarin pas perjalanan turun saya banyak bertemu pengunjung yang mendaki pagi hari setelah sunrise. Kata guide, kalau hari libur apalagi long weekend seperti natal dan tahun baru kemarin, wisatawan membludak dan sepanjang jalur pendakian sampai ke kawah macet orang. Oiya, kalau tidak pakai guide bisa sewa masker sama para penjual di basecamp atau puncak, harganya Rp. 35.000,- dengan kualitas bagus.

Sampai di basecamp (warung) bisa selonjoran lurusin kaki sambil menyeruput kopi atau teh hangat dan pisang goreng hangat seharga Rp. 1.000,- sambil ngobrol-ngobrol sama ibu warung. Pesan mie rebus juga bisa kalau perut lapar habis mengeluarkan banyak energi mendaki gunung.

Setelah istirahat sebentar, kami langsung berangkat ke stasiun Banyuwangi diantar bapak driver travel yang tadi malam menjemput kami. Perjalanan hanya 1 jam dari Ijen.

View dari puncak gunung Ijen

Semoga cerita ke gunung Ijen ini bisa kasih banyak info buat kalian ya. Jangan lupa bawa turun sampah dan buang di tempatnya. Dahulukan para penambang belerang yang lewat. Sampai jumpa di cerita berikutnya!

Cheers,

Tika

HIJAUKAN IBU KOTA BARENG IBU SUTRIYATI

Akhir-akhir ini berasa banget ga sih kalau cuaca Jakarta lagi super panas? Belum lagi kualitas udaranya juga buruk. Happy banget kalau lagi panas terik tiba-tiba nemu daerah yang asri banyak pepohonan, bikin adem. Rasanya seperti dapat banyak oksigen dan mood langsung membaik seketika.

Ngomong-ngomong soal daerah asri, ada satu lorong unik di daerah Kebayoran Selatan, Jakarta Selatan. Lorong Tanaman Obat Keluarga (LORGA) ditanami berbagai tanaman hotikultura dari tanaman obat, tanaman hias, sayuran hingga buah yang jumlahnya mencapai 160 tanaman.

Lorong Tanaman Obat Keluarga (LORGA)

Ibu Sutriyati atau biasa dipanggil Eyang Uti adalah penggagasnya. Suatu hari tetangganya ada yang sakit perut karena diare tapi persediaan obat sedang habis dan warung tutup. Eyang menyarankan untuk mengkonsumsi 3-5 lembar pucuk daun jambu biji, dikunyah sampai airnya tertelan. Tak lama setelah itu tetangganya memberi kabar kalau diarenya sudah sembuh.

Eyang Uti dan LORGA

Sejak itulah Eyang mencari tahu lebih banyak tentang tanaman obat. Eyang membaca banyak buku yang berisi jenis-jenis tanaman obat dan khasiatnya yang ternyata banyak ditemui di sekitarnya. Eyang membuat daftar semua tanaman, tapi hanya setengahnya yang masih ada sekarang karena sifat tanaman yang memang mati dan tumbuh lagi sesuai musim.

Sampai sekarang, Eyang jadi ketagihan mencari dan menanam tanaman obat. Kalau ada acara piknik, Eyang selalu request untuk pergi ke tempat yang banyak tanaman. Kalau ada teman yang sedang di luar kota, Eyang juga suka titip minta dibawakan biji atau benih tanaman. Seperti saat temannya ke Papua, Eyang minta dibawakan biji matoa untuk ditanam di area rumahnya yang sekarang sudah tumbuh rindang.

Merawat tanaman dengan mencabut daun-daun yang sudah menguning.

Saya diajak menyusuri LORGA sambil dijelaskan satu per satu tanaman yang kami jumpai. Ada rumput syahwat untuk viagra, gandarusa dan sirih untuk pegal linu, teh hijau untuk pelangsing tubuh, ekor kucing untuk obat luka, dewandaru untuk minuman kesehatan, zodia untuk pengusir nyamuk, leak untuk darah rendah, keladi tikus untuk kanker, anting-anting untuk jantung koroner, serta tanaman sayur dan buah seperti kaylan, terong, jeruk nipis, cabai, kacang panjang, seledri, bawang Dayak dan masih banyak lagi.

Ekor kucing untuk obat luka
Bawang Dayak untuk masuk angin

Siapa pun boleh menggunakan hasil tanaman yang ada di LORGA tapi dengan syarat harus ikut merawatnya. Selain menyirami tiap pagi atau sore, Eyang dan warga sekitar rumahnya juga memiliki program Kamis Bersih di mana setiap hari Kamis mereka membersihkan wilayahnya agar selalu bersih dan asri. Biasanya mereka menjual bibit tanaman di Car Free Day untuk mengajak masyarakat peduli lingkungan.

Halaman rumah Eyang Uti

Di usianya yang sudah 78 tahun, Eyang masih aktif di banyak kegiatan organisasi di kecamatan Kebayoran Lama diantaranya Kelompok Wanita Tani (KWT) di lingkup RW dan Kelompok Tani (POKTAN) di Sudin Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta selatan. Eyang juga sering menjadi pembicara dalam acara penghijauan lingkungan dan tanaman obat. Menurutnya, bersosialisasi di umur yang sudah tua ini sangat penting agar tidak mudah pikun.

Berkat kepedulian terhadap lingkungan yang sampai sekarang terasa manfaatnya, Eyang pernah meraih juara KALPATARU tingkat provinsi dan PROKLIM (Program Kampung Iklim) tingkat nasional.

Eyang Uti mencintai tanaman sejak 10 tahun lalu. Beliau tidak lelah memotivasi dan membantu warga untuk melakukan #AksiHidupBaik dengan menanam tanaman. Tidak ada alasan untuk tidak menanam tanaman walaupun di rumah tidak ada lahan tanam karena bisa ditanam dengan vertikultur. Dengan menanam tanaman dan merawatnya, berarti kita juga menyayangi ciptaan Tuhan.

Saya dan Eyang Uti

Saya bilang ke Eyang kalau sudah tua nanti juga mau punya kebun yang isinya banyak tanaman dan bisa panen sendiri, kemudian Eyang membalasnya “Kenapa harus tunggu tua dulu? Dari sekarang kan bisa menanam tanaman”.

Benar juga ya, dalam hati saya. Semoga cerita tentang Eyang Uti ini bisa menginspirasi kita untuk mengadirkan suasana lingkungan sekitar yang humanis dan harmonis dengan mulai menanam di halaman tempat tinggal. Jangan tunggu hari tua.

Ikuti cerita #AksiHidupBaik lainnya di akun Youtube dan Instagram Ibu Ibukota.

Pantai Teras Kaca di Gunung Kidul

Awalnya, saya sudah menyusun rencana kalau hari ini kami akan mengunjungi Pantai Sepanjang dan tetangga-tetangganya di Gunung Kidul. Tapi kemudian teman saya mengusulkan untuk mengganti tujuan ke Teras Kaca yang katanya sedang hits. Tujuan berpindah, syukurnya lokasi masih di daerah Gunung Kidul. Karena saya belum pernah ke sana, jadi perjalanan ini pakai bantuan google maps. Kami melewati jalur Jalan Imogiri jadi kami sempatkan untuk brunch dulu di Sate Klathak Mak Adi. Gurih banget Klathak siang itu! Happy tummy!

Sate Klathak Mak Adi

Perjalanan menuju Teras Kaca sekitar 1,5-2 jam dengan kondisi jalan yang sudah bagus beraspal. Jalannya naik turun seperti kalau mau ke pantai di Gunung Kidul pada umumnya.

Sebelum memasuki area pantai, ada pos masuk untuk membayar retribusi sebesar Rp. 5.000,- per orang. Area parkir cukup luas, bisa muat untuk bis juga. Mungkin karena tergolong baru, jadi masih banyak beberapa area yang masih dalam perbaikan.

Fasilitas di Teras Kaca sudah lengap, ada banyak toilet, musholla dan warung makan. Karena kami tidak makan di sana, jadi mohon maaf kami tidak tau harga makanannya berapa.

Area Pantai Teras Kaca

Oiya, biaya parkir mobil Rp. 10.000,-, mungkin kalau kendaraan roda dua Rp. 5.000,-. Dari area parkir kemudian jalan beberapa meter ada pos retribusi lagi untuk bayar tiket sebesar Rp. 5.000,-. Nah, di pos ini nanti kita ditanya mau foto di spot mana (ada gambar di spanduknya). Ada sekitar lima spot foto dengan harga variatif dari Rp. 10.000,- hingga Rp. 50.000,-. Spot fotonya ada teras kaca, ayunan seperti di Maribaya Bandung tapi ini dengan background laut, ada ujung kapal ala-ala Titanic, becak dengan hiasan lope-lope dan masih ada lagi yang saya lupa hehe.

Teras Kaca
Ala Kapal Titanic

Setelah memasuki area pantai ternyata semua spot foto itu hampir ada di setiap ujung tebing. By the way, Teras Kaca ini bukan pantai yang berpasir putih dan bisa langsung main air di bibir pantainya, ya. Teras Kaca ini lokasi wisata di atas tebing dengan landscape laut di ujungnya.

Landscape Teras Kaca
Spot natural yang “ngumpet”

Hampir tidak ada spot foto natural di Teras Kaca ini. Semuanya sudah terhias dengan spot-spot (yang katanya) instagram-able. Antrian di tiap spot pun juga ramai ketika kami datang pas weekdays kemarin. Kebayang kan kalo weekend antriannya akan seperti apa?

Teras Kaca sangat direkomendasikan buat teman-teman yang sangat senang mencari spot foto yang instagram-able. Namun, untuk teman-teman yang suka lokasi natural tanpa hiasan warna-warni silakan bisa cari pantai lain di Gunung Kidul. Tenang, masih banyak pantai di Gunung Kidul yang menarik, kok! Hehe.

Kami yang jengkel wkwk

Akhirnya, karena lumayan jengkel dengan spot-spot foto itu, kami bergegas pindah tujuan ke Watu Gupit buat sunsetan sambil makan mendoan hangat seharga Rp. 8000,- sajaa. Cerita tentang Watu Gupit pernah saya tulis di sini hehe.

Tips Sehat Mental di Era 4.0

“Selamat datang di era 4.0” sebuah greetings untuk kamu yang sedang membaca postingan saya kali ini hehe. Era 4.0 di mana teknologi dan internet sangat memudahkan kita dalam mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan orang banyak. Hampir setiap orang juga memiliki akun media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain.

Adanya internet dan akun-akun positif tentang kesehatan mental membuat kita semakin aware dan mudah berempati pada kasus kesehatan mental. Selain itu, sekarang juga banyak layanan konsultasi dengan psikolog dan psikiater terpercaya melalui media dan aplikasi online tanpa harus perlu ke klinik atau rumah sakit. Banyaknya aplikasi chatting saat ini sangat memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan teman-teman. Hal ini bisa sangat berguna ketika kita memiliki masalah dan butuh bercerita tinggal chat atau telepon mereka agar kita sedikit lebih lega daripada harus memendam sendirian. Kemudahan berkomunikasi ini bisa kita gunakan untuk mencari support saat kita merasa sedang tidak sehat, baik fisik maupun mental.

Media sosial di saat sekarang sering kali membuat kita jadi mudah stress dan rendah diri. Kita jadi mudah membandingkan pencapaian orang lain dengan diri sendiri, padahal setiap orang sudah punya timing sendiri untuk sukses. Kadang kita merasa iri ketika melihat postingan orang-orang liburan sedangkan kita masih harus berurusan dengan deadline. Dalam hal ini, kita harus mengontrol pikiran kita sendiri untuk sadar dan paham bahwa media sosial adalah tempat orang-orang memposting hal bahagia, jadi kita tidak perlu iri. Sekali pun ada hal sedih yang mereka bagikan, kita harus berempati tanpa menghakimi.

Think Before Share (sumber: behance.net)

Kemudahan mengakses segala informasi melalui internet ini ternyata juga punya dampak negatif. Apalagi ketika kita tidak mencari kebenaran sebuah berita atau artikel sebelum kita bagikan di media sosial. Penyebaran berita yang tidak sesuai (hoax) terutama di bidang kesehatan mental sangat berbahaya. Hoax bisa menyebabkan post traumatic stress syndrome (PTSD) bagi mereka yang memiliki trauma di masa lalu. Misalnya ada kabar hoax mengenai akan datang Tsunami di daerah pesisir, bagi mereka yang tinggal di daerah pesisir Aceh dan Donggala bisa jadi membuat cemas dan takut padahal berita tersebut tidak benar.

Kita juga bisa mudah untuk mendiagnosa sendiri penyakit yang kita derita, baik fisik maupun mental. Hanya dengan membaca sebuah postingan atau artikel di internet, kita bisa langsung berasumsi dan mendiagnosa diri sendiri padahal untuk diagnosa tersebut tidak mudah dan memerlukan kriteria-kriteria tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga profesional seperti psikiater dan psikolog. Hal tersebut tentu saja berbahaya karena pasti akan mencari self-help atau self-treatment dari artikel-artikel di internet yang belum tentu tepat dengan keadaan yang sesungguhnya, kalau pertolongan itu salah malah akan memperparah keadaan. Sebaiknya, segera kunjungi tenaga profesional untuk mendapatkan diagnosa dan self-treatment yang tepat.

Don’t Self-Diagnose (sumber: ericamesirov.com)

Kita harus bijak dan berpikir kritis saat membaca informasi mengenai kesehatan mental di media sosial. Apakah informasi tersebut benar? Siapa yang menulis informasi tersebut? Bagaimana dengan referensi artikelnya? Jika informasinya sudah benar, penulisnya seorang profesional (psikolog atau psikiater) dan referensi artikelnya terpercaya maka kita boleh membagikannya.

Cara lain agar kita tetap sehat mental adalah dengan menggunakan media sosial secukupnya. Kita bisa meninggalkan sejenak media sosial dengan berinteraksi di kehidupan nyata, mencari kegiatan positif untuk mengelola emosi. Kita juga perlu mengontrol diri sendiri dengan mengatur feeds media sosial, kita bisa unfollow dan block hal-hal yang membuat kita tidak nyaman karena bahagia kita datangnya dari diri sendiri. Terima kasih sudah membaca 🙂

“Karya ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi”.

Sehat Mental Tanpa Cyberbullying

Sekarang kita hidup di zaman semua serba mudah. Kehadiran teknologi yang semakin canggih dan akses internet yang semakin cepat menjadi kita mudah untuk mendapatkan berbagai informasi dan berkomunikasi dengan orang lain tanpa perlu bertatap muka. Bahkan sekarang hampir semua kalangan umur bisa menggunakan smartphone dan memiliki akun media sosial.

Cyberbullying adalah salah satu masalah yang sering kita temui di media sosial. Cyberbullying bisa berdampak pada kesehatan mental karena biasanya berupa hate-speech, body shaming, pelecehan seksual, pengancaman, dll. Salah satu kasus yang belum lama terjadi adalah kematian seorang artis Korea bernama Sulli. Sulli ditemukan meninggal gantung diri di rumahnya.

Dari video di atas, kita bisa lihat bahwa Sulli mengalami cyberbullying. Komentar-komentar negatif dan gosip-gosip mengenai dirinya banyak ditemukan di internet. Hal tersebut pasti membuat dia sangat stress sampai bisa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sulli tidak mau melaporkan para pelaku cyberbullying kepada pihak kepolisian karena karena para pelaku yang masih dibawah umur.

Para pelaku cyberbullying ini biasanya melakukan hal tersebut karena dendam, sakit hati, kecemburuan sosial dan ingin terlihat hebat. Mereka tidak bisa mengontrol emosi dirinya dan tidak memikirkan dampak buruk dari apa yang mereka posting. Padahal cyberbullying ini tidak ada manfaatnya sama sekali.

Cyberbullying bisa membuat korban menjadi pesimis dan mudah stress bahkan bisa melukai diri. Kalau kita menjadi korban cyberbullying sebaiknya kita ceritakan kepada orang terdekat dan melaporkan tindakan tersebut kepada pihak berwenang. Kita juga bisa memfilter feeds media sosial dengan unfollow, mute dan block akun-akun serta komentar jahat yang kita lihat. Selain itu, mencari support orang sekitar juga penting, karena lebih banyak orang yang menyayangi kita di dunia nyata dibandingkan mereka yang jahat di dunia maya.

Kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain terhadap kita, tetapi kita bisa mengontrol perilaku kita sendiri untuk orang lain. Salah satu kontrol perilaku yang bisa kita lakukan adalah berperilaku baik di media sosial. Kita bisa menahan emosi dan jempol untuk tidak memposting hal yang menjurus pada cyberbullying, berpikir ulang apakah yang kita bagikan di media sosial hanya untuk kepuasan pribadi atau kebermanfaatan banyak orang.

Semoga kita bisa selalu menjadi orang baik untuk diri sendiri dan orang lain, ya!

“Karya ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi”.

KECANDUAN MEDIA SOSIAL (MEDSOS)

Halo! Masih dalam rangka self-development di tahun 2019 ini, hari Sabtu kemarin saya berkesempatan ikut online class Level Up Series #6 : How to Cope with Social Addiction yang diadakan oleh Alpas. Pematerinya seorang psikolog klinis yang juga concern dengan masalah anak muda saat ini, Mbak Ayu Rahmawati Tirto.

Media sosial (setelah ini disingkat medsos ya) ini adalah sebuah hal yang mempengaruhi sistem reward di otak kita yang punya efek menyenangkan kalau digunakan. Penggunaan yang wajar tentu akan punya banyak manfaat, tapi kalau penggunaannya sudah melampaui batas wajar alias kecanduan ini jadi berefek buruk. Gambar di bawah ini adalah sedikit gambaran dari dampak medsos.

Dari medsos kita bisa dapat hal-hal yang menyenangkan seperti fitur likes atau views yang bisa jadi achievement, menambah networking dan knowledge. Salah satu dampak negatif dari medsos juga ada over sharing.

Over sharing ini terjadi ketika kita terlalu banyak membagikan detail kehidupan, mengeluh terlalu sering sehingga orang lain jadi tau masalah rumah tangga (misalnya), menunjukan diri kita dengan hal yang negatif misalnya dengan posting marah-marah berlebihan padahal tidak ada gunanya buat orang banyak, menunjukan secara terus menerus hubungan romantis, serta posting semua yang berpusat pada diri sendiri.

FOMO (Fear Out Missing Out)

FOMO ini adalah perasaan khawatir ketika orang lain mengalami hal menyenangkan ketika kita tidak ada. Jadi bikin kita harus mengikuti apa yang terjadi di sekeliling kita biar tidak kehilangan kesenangan yang mereka lakukan. Hubungan “tidak nyata” di medsos bikin kita merasa harus catch up dengan hal itu. Orang-orang yang punya FOMO tinggi, punya engagement yang tinggi juga sama medsos.

Balik lagi ke medos. Dua hal yang seharusnya kita pahami, medsos yang kita gunakan ini untuk kebutuhan apa? Dan apa efek yang kita kejar dari medsos ini?

Dari dua pertanyaan tadi, bercabang lagi pertanyaan lain : apa yang kita butuhkan di medsos ini? Apa masalah kita sehingga kita berpaling ke dunia maya untuk memenuhinya? Mengapa tidak kita penuhi di dunia nyata? Apa kita tidak punya dukungan sosial di dunia nyata? Apa yang salah dengan cara-cara kita? Silakan teman-teman jawab 🙂

Konten-konten sekarang semakin kreatif dan menarik jadi tidak jarang banyak orang betah berlama-lama buka medsos. Bermedsos berjam-jam sampai merusak produktivitas dan menimbulkan kecemasan ini udah bisa dianggap berbahaya. Medsos jadi punya efek negatif, karena si pengguna sudah kecanduan. Terus, kriteria apa aja sih yang bisa dikatakan seseorang kecanduan medsos?

Pertama, medsos menjadi hal yang penting. Kedua, punya toleransi, maksudnya adalah pengguna membiarkan atau memperbolehkan ketika jam bermedsos ini bertambah, misal awalnya mau main medsos cuma satu jam per hari lalu keterusan jadi tiga jam. Ketiga, ada modifikasi mood, pengguna akan merasa tidak nyaman kalau belum buka medsos. Terus kebiasaan main medsos sudah menimbulkan konflik di kehidupan nyata. Selanjutnya, adanya permasalahan ketika stop bermedsos, pengguna merasakan kosong dan cemas ketika stop bermedsos. Yang terakhir, adanya kekambuhan, pengguna tidak bisa berhasil untuk berhenti atau mengurangi intensitasnya.

Lalu, gimana cara agar tidak kecanduan medsos? Kalau kita berpikir medsos adalah penghilang stress, kita bisa dengan mencari cara pengelolaan stress yang lain. Misalnya bisa dengan melakukan hobi atau kegiatan produktif lain yang bisa lupa waktu untuk buka medsos. Bisa juga dengan bersosialisasi di kehidupan nyata, memperkuat hubungan dengan orang-orang terdekat agar bisa dapat support yang dibutuhkan. Bikin reward setelah selesai melakukan pekerjaan atau menjadwalkan main medsos juga bisa jadi cara menghindari kecanduan. Terakhir, bisa dengan over thinking sebelum share, pikir ulang apa yang ingin kita share, apakah untuk kebutuhan pribadi atau kebermanfaatan banyak orang?

Gimana dengan orang-orang yang bekerja di balik atau berurusan dengan medsos? Kalau kasus ini, mereka bukan kecanduan tetapi lebih ke frekuensi karena mereka bukan untuk terpenuhi atau tidak kebutuhan pribadinya. Untuk kebosanan dengan medsos, mereka disarankan untuk work-life balance, stress management di tempat kerja atau melakukan hobi yang disenangi. Kalau mereka bekerja di balik medsos tapi sosialisasi di dunia nyata baik, memiliki self-management dan emosi yang baik, merasa baik-baik saja kalau tidak buka medsos, mereka tidak dikatakan kecanduan. Selagi apa yang mereka posting lebih ke arah profesional (kerjaan) dan bermanfaat, bukan merelease emosi-emosi semata.

Segitu dulu ya ilmu yang bisa saya share dari sesi kemarin. Semoga bisa bermanfaat, ya. Semoga kita bisa lebih bijak dan selalu membagikan hal-hal positif di medsos. Terima kasih sudah membaca 🙂

“Karya ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi”.