Perjalanan Menuju Kawah Ijen Banyuwangi

Notifikasi dari Papa: “Mbak, mau jalan-jalan ke Banyuwangi nggak? Ada tiket gratis berangkat Senin besok pulang Kamis”. Siapa yang tak mau gratisaan~ Beberapa teman dekat saya pasti tau kalau sudah dari lama saya ingin sekali solo traveling ke Banyuwangi, mau perjalanan buat kenal diri sendiri lebih dalam hehe. Tapi Tuhan baik bangeeet, dikabulinnya ke Banyuwangi sama orang tua.

View dari puncak gunung Ijen

Dari Jakarta ke Banyuwangi tidak ada kereta langsung, kita harus transit dulu untuk bisa sampai di Banyuwangi. Saya naik kereta tujuan Surabaya (12 jam) lalu transit di Surabaya (5 jam) dan lanjut kereta ke Banyuwangi (6 jam). Perjalanan hampir 24 jam. Bisa bayangkan gimana rasa bokong dan pinggang? Hahaha. Untuk tujuan Banyuwangi (dengan transit), banyak sekali pilihan kereta dari kelas ekonomi sampai luxury, dari yang berangkat pagi sampai yang berangkat malam. Ini saya coba buatkan info, untuk pilihan keretanya bisa cek di web/app tiket online ya.

Pilihan kereta ke Banyuwangi

Penginapan bisa pilih di Banyuwangi atau di daerah basecamp gunung Ijen. Harganya mulai dari Rp. 100.000,-. Trip kali ini, saya bermalam di rumah Tante dekat stasiun Kalisetail (saya tidak turun di stasiun Banyuwangi). Tiba di stasiun Kalisetail sekitar pukul 16.00 sore.

Biasanya orang-orang berangkat ke kawah Ijen pada dini hari untuk bisa melihat blue fire. Btw, blue fire ini hanya ada dua di dunia, di kawah Ijen dan di Iceland. Blue fire bisa disaksikan sekitar pukul 02.00 – 04.00 pagi. Dari rumah Tante (Kalisetail), kami dijemput jam 23.00 malam oleh travel. Jalanan menuju basecamp Ijen beraspal bagus, naik turun kanan kiri pepohonan, hanya bisa dilalui dua mobil arah berbeda.

Perjalanan dari Banyuwangi ke basecamp Ijen sekitar satu sampai dua jam, kami tiba jam 00.30 pagi. Loket karcis baru dibuka jam 01.00 pagi. Kami menunggu di salah satu warung di area parkir basecamp Ijen. Ngobrol bersama supir dan guide kami ditemani teh hangat. Suhu udara di Ijen ini mencapai belasan derajat, jadi jangan lupa bawa jaket tebal dan sarung tangan. Lebih baik lagi kalau pakai sepatu dan kaos kaki agar lebih hangat. Mendaki Ijen kali ini kami pakai guide, kalau tidak salah harganya Rp. 250.000,- sudah termasuk tiket masuk, air mineral 600 ml, senter/headlamp bagus dan masker untuk ke kawah belerang.

Jalur pendakian gunung Ijen. Ojek yang sedang mendorong penumpang in frame.

Kami mulai mendaki sekitar jam 01.00 pagi. Jarak dari gerbang pendakian sampai ke puncak sekitar 3 KM, kalau kata guide kami bisa ditempuh selama satu jam saja, tapi versi bule hahaha. Kalau saya yang kaum engap? Kemarin saya dua jam. Jalur pendakiannya berupa tanah berpasir yang kalau saat musim kemarau licin berpasir. Jalurnya lebar dengan kanan kiri hutan. Kalau lelah, bisa istirahat dulu di pos. Sepanjang perjalanan kalau tidak salah saya menemui ada tiga pos. Posnya besar dan bersih, ada tempat duduk semen jadi tidak perlu duduk di lantai.

Salah satu pos di jalur pendakian

Kabar gembira buat yang tidak suka capeknya naik gunung, di Ijen ini ada ojek (tapi tidak online haha). Ojeknya seperti gerobak/troli yang di dorong. Kita tinggal duduk selonjoran saja di atas troli. Biaya ojek dari gerbang pendakian sampai puncak dan kembali lagi ke gerbang pendakian (pergi-pulang) sebesar Rp. 800.000,- (ditarik tiga orang driver). Kalau mau turun dari puncak sampai gerbang pendakian (jalur turun) hanya Rp. 200.000,- (didorong satu orang driver). Di sepanjang perjalanan kita akan bertemu banyak ojek kosong yang akan menawari kita. Tertarik naik ojek ratusan ribu? Hehehe.

Ojek di gunung Ijen, start from 200K.

Para penambang belerang di Ijen sekarang juga sudah menggunakan troli ini untuk membawa bongkahan belerang dari puncak ke Pondok Bunder. Troli-troli ini hibah dari seorang warga negara Swiss, yang setiap tahun juga dimaintenance kondisinya masih layak atau tidak.

Setelah jalan menanjak 2 KM kita akan bertemu warung Pondok Bunder. Warung di ketinggian 2.214 mdpl ini menjual minuman hangat macam kopi dan teh, juga makanan ringan seperti pop mie. Di sini juga ada toilet untuk buang air kecil tapi dengan air terbatas. Warung Pondok Bunder ini jadi tempat para penambang belerang menimbang belerang yang mereka bawa dari kawah Ijen.

Kalau sudah cukup beristirahat di warung, perjalanan masih ada 1 KM menuju puncak Ijen. Dari warung perjalanan menanjak sebentar lalu lanjut landai terus sampai puncak. Udara dan angin sudah mulai terasa dingin. Para ojek yang tadi saya ceritakan hanya bisa sampai puncak saja. Jadi kalau kita mau lanjut untuk lihat blue fire, tidak bisa naik ojek.

Puncak Ijen: pangkalan ojek terakhir

Dari puncak Ijen, kita perlu turun lagi ke bawah sekitar 1 KM untuk sampai di spot blue fire. Jalurnya batuan curam dan terjal (alasan harus pakai sepatu ke Ijen). Blue fire bisa terlihat dari puncak walaupun tidak terlalu jelas. Kalau mau ambil foto blue fire tidak bisa dari puncak, harus turun ke bawah atau kalau mau bawa lensa tele. Blue fire bisa dilihat dari jam 02.00 – 03.00 pagi, saat langit masih gelap. Saya memilih untuk melihat blue fire dari kejauhan saja (puncak) karena sudah engap membayangkan track terjal curam saat naik dari kawah nanti. Sorry, anaknya lagi pesimis hahaha.

Setelah melihat blue fire, menuju sunrise atau sekitar jam 05.00 pagi kita bisa ke arah puncak. Dari arah kawah naik ke arah kiri, jalan terus aja sampai mentok. Puncak gunung ijen berada di ketinggian 2.348 mdpl. Guide saya baik sekali, dia kasih tau spot-spot foto bagus di puncak dan sepanjang jalan turun. Bahkan saat saya sudah lelah untuk foto, dia masih semangat buat arahin gaya.

Kawah gunung Ijen

Beberapa waktu lalu Ijen habis kebakaran, di puncak dan sepanjang jalurnya masih terlihat batang-batang pohon gundul yang masih hitam. Kata guide, pas kebakaran kemarin keadaan warung-warung di bawah kaya kena tsunami, banyak yang rusak kena abu-abu. Sampai saat ini kondisi di gunung Ijen masih dalam tahap pemulihan.

Pepohonan sisa kebakaran kemarin 😦

Jam 06.00 pagi kami turun karena takut ketinggalan kereta dari Stasiun Banyuwangi jam 09.00 pagi. Perjalanan turun dari puncak Ijen ke basecamp (warung) hanya satu jam saja. Bisa lari pas track landai. Pemandangan turun dari puncak bagus banget! Disuguhin Gunung Raung, Gunung Ranti dan Gunung Merapi (Jawa Timur).

Kita juga masih akan bertemu sama para ojek yang membawa penumpang turun dari puncak. Saya takut kalau dalam keadaan turunan terjal tiba-tiba gerobak/trolinya lepas atau drivernya tidak bisa mengerem, tapi ternyata rem tangan mereka pakem sekali dan mereka sudah terlatih. Jadi, tidak perlu khawatir. Khawatir di dompet aja kalau kamu mau keluar uang ratusan ribu hahaha.

Btw, harga tiket masuk untuk lokal hanya Rp. 5.000,- (weekdays) dan Rp. 7.500,- (hari libur). Turis mancanegara Rp. 100.000,- (weekdays) dan Rp. 150.000,- (weekend). Gunung Ijen tidak bisa untuk camping/bermalam, wisatawan hanya boleh berkunjung dari jam 01.00 pagi sampai jam 12.00 siang saja. Jadi kalau mau mendaki pagi hari jam 06.00 gitu, menghindari udara dingin, masih bisa. Kemarin pas perjalanan turun saya banyak bertemu pengunjung yang mendaki pagi hari setelah sunrise. Kata guide, kalau hari libur apalagi long weekend seperti natal dan tahun baru kemarin, wisatawan membludak dan sepanjang jalur pendakian sampai ke kawah macet orang. Oiya, kalau tidak pakai guide bisa sewa masker sama para penjual di basecamp atau puncak, harganya Rp. 35.000,- dengan kualitas bagus.

Sampai di basecamp (warung) bisa selonjoran lurusin kaki sambil menyeruput kopi atau teh hangat dan pisang goreng hangat seharga Rp. 1.000,- sambil ngobrol-ngobrol sama ibu warung. Pesan mie rebus juga bisa kalau perut lapar habis mengeluarkan banyak energi mendaki gunung.

Setelah istirahat sebentar, kami langsung berangkat ke stasiun Banyuwangi diantar bapak driver travel yang tadi malam menjemput kami. Perjalanan hanya 1 jam dari Ijen.

View dari puncak gunung Ijen

Semoga cerita ke gunung Ijen ini bisa kasih banyak info buat kalian ya. Jangan lupa bawa turun sampah dan buang di tempatnya. Dahulukan para penambang belerang yang lewat. Sampai jumpa di cerita berikutnya!

Cheers,

Tika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s