Tips Sehat Mental di Era 4.0

“Selamat datang di era 4.0” sebuah greetings untuk kamu yang sedang membaca postingan saya kali ini hehe. Era 4.0 di mana teknologi dan internet sangat memudahkan kita dalam mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan orang banyak. Hampir setiap orang juga memiliki akun media sosial untuk berinteraksi dengan orang lain.

Adanya internet dan akun-akun positif tentang kesehatan mental membuat kita semakin aware dan mudah berempati pada kasus kesehatan mental. Selain itu, sekarang juga banyak layanan konsultasi dengan psikolog dan psikiater terpercaya melalui media dan aplikasi online tanpa harus perlu ke klinik atau rumah sakit. Banyaknya aplikasi chatting saat ini sangat memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan teman-teman. Hal ini bisa sangat berguna ketika kita memiliki masalah dan butuh bercerita tinggal chat atau telepon mereka agar kita sedikit lebih lega daripada harus memendam sendirian. Kemudahan berkomunikasi ini bisa kita gunakan untuk mencari support saat kita merasa sedang tidak sehat, baik fisik maupun mental.

Media sosial di saat sekarang sering kali membuat kita jadi mudah stress dan rendah diri. Kita jadi mudah membandingkan pencapaian orang lain dengan diri sendiri, padahal setiap orang sudah punya timing sendiri untuk sukses. Kadang kita merasa iri ketika melihat postingan orang-orang liburan sedangkan kita masih harus berurusan dengan deadline. Dalam hal ini, kita harus mengontrol pikiran kita sendiri untuk sadar dan paham bahwa media sosial adalah tempat orang-orang memposting hal bahagia, jadi kita tidak perlu iri. Sekali pun ada hal sedih yang mereka bagikan, kita harus berempati tanpa menghakimi.

Think Before Share (sumber: behance.net)

Kemudahan mengakses segala informasi melalui internet ini ternyata juga punya dampak negatif. Apalagi ketika kita tidak mencari kebenaran sebuah berita atau artikel sebelum kita bagikan di media sosial. Penyebaran berita yang tidak sesuai (hoax) terutama di bidang kesehatan mental sangat berbahaya. Hoax bisa menyebabkan post traumatic stress syndrome (PTSD) bagi mereka yang memiliki trauma di masa lalu. Misalnya ada kabar hoax mengenai akan datang Tsunami di daerah pesisir, bagi mereka yang tinggal di daerah pesisir Aceh dan Donggala bisa jadi membuat cemas dan takut padahal berita tersebut tidak benar.

Kita juga bisa mudah untuk mendiagnosa sendiri penyakit yang kita derita, baik fisik maupun mental. Hanya dengan membaca sebuah postingan atau artikel di internet, kita bisa langsung berasumsi dan mendiagnosa diri sendiri padahal untuk diagnosa tersebut tidak mudah dan memerlukan kriteria-kriteria tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga profesional seperti psikiater dan psikolog. Hal tersebut tentu saja berbahaya karena pasti akan mencari self-help atau self-treatment dari artikel-artikel di internet yang belum tentu tepat dengan keadaan yang sesungguhnya, kalau pertolongan itu salah malah akan memperparah keadaan. Sebaiknya, segera kunjungi tenaga profesional untuk mendapatkan diagnosa dan self-treatment yang tepat.

Don’t Self-Diagnose (sumber: ericamesirov.com)

Kita harus bijak dan berpikir kritis saat membaca informasi mengenai kesehatan mental di media sosial. Apakah informasi tersebut benar? Siapa yang menulis informasi tersebut? Bagaimana dengan referensi artikelnya? Jika informasinya sudah benar, penulisnya seorang profesional (psikolog atau psikiater) dan referensi artikelnya terpercaya maka kita boleh membagikannya.

Cara lain agar kita tetap sehat mental adalah dengan menggunakan media sosial secukupnya. Kita bisa meninggalkan sejenak media sosial dengan berinteraksi di kehidupan nyata, mencari kegiatan positif untuk mengelola emosi. Kita juga perlu mengontrol diri sendiri dengan mengatur feeds media sosial, kita bisa unfollow dan block hal-hal yang membuat kita tidak nyaman karena bahagia kita datangnya dari diri sendiri. Terima kasih sudah membaca 🙂

“Karya ini diikutsertakan dalam kompetisi Journalist Challenge by Ibunda.id, platform karya anak bangsa yang menyediakan layanan kesehatan mental berbasis teknologi”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s