List Destinasi Liburan di Jogja

“Tik, ke Jogja enaknya kemana aja ya?”

“Jol, dari Pantai ke Borobudur jauh ga?”

“Kuliner di Jogja yang enak apa aja, Tik?”

image

Itu adalah sebagian pertanyaan yang selalu datang menjelang long-weeked, atau disaat teman-teman dari luar Jogja ingin berlibur atau hanya sekedar kunjungan kerja. Sejujurnya saya sangat suka kalo ada yang bertanya tentang hal-hal kaya gitu, saya bisa sharing info ke teman-teman tentang wisata dan kuliner apa saja yang ada di Jogja. Apalagi tempatnya sudah pernah saya kunjungi, saya pasti semangat kasih infonya. Berbeda hal kalo yang dipertanyakan masalah penginapan, hotel, dsb karena zaman sudah canggih, situs booking online sudah merajalela, bahkan ada fasilitas filter-price yang kemudian tinggal pilih from low to high, sorry to say kan bisa cek sendiri 🙂

image

Kebun Buah Mangunan

Buat teman-teman yang berencana berkunjung ke Jogja, saya coba bantu buatkanlist destinasi wisata dan kuliner apa saja yang wajib dikunjungi. Semua destinasi ini sudah sesuai dengan daerahnya masing-masing, tidak bercecer, jadi kalian tidak perlu repot bolak-balik dari Gunung Kidul ke Imogiri kemudian harus pergi lagi ke Jogja utara. Kalian bebas pilih destinasi, sesuai berapa lama rencana berlibur.

image
image

Saran saya, pilih satu daerah untuk satu hari. Misalnya, hari pertama ke daerah Gunung Kidul, hari kedua ke daerah Imogiri, hari ketiga city tour, dan seterusnya. Jangan memilih destinasi beda daerah untuk satu hari yang sama, misalnya dalam satu hari berencana lava tour Merapi kemudian lanjut ke Pantai di Gunung Kidul, lokasinya sangat jauh. Pastinya tidak akan efisien, buang waktu dan bensin.

image

Gumuk Pasir

image

Gunung Api Purba Nglanggeran

image

Blue Lagoon

“Kok banyak banget tempat wisatanya? Bingung nih”. Iya emang. Beberapa teman yang pernah berkunjung ke Jogja pernah bilang, gak cukup jalan-jalan di Jogja cuma seminggu. Dari semua list yang udah ada, bisa dicari tau di google atau social media. Tinggal cocokin deh, tempatnya emang sesuai sama kalian atau nggak.

image

Kalo kalian masih bingung dan butuh saran, dengan senang hati saya akan membantu. Beberapa tempat wisata pernah saya bahas sebelumnya, boleh cek link-link dibawah ya. Happy holiday!

Abrakadabra : An Artsy and Unique Hostel in Jogja

Abrakadabra located in Mantrijeron, two kilometers from Prawirotaman (the famous tourist area). The location is in residential area, so it is quiet. It close with art space. We can easily find eat and drink place. Every edge in here fill with art, with gravity. We will feel like at home, not in hostel.

image
image

Abrakadabra has four private rooms with own unique theme such as beach, jungle, gravity and junkyard. Each private rooms completed with comfort king size bed for two guests, fan, semi-outdoor private bathroom, desk with mirror and cute decorations for sure. The price for private room start from 170.000 IDR per night.

image
image
image
image

For backpacker or low-budget traveler, we can reserve the dormitory room. Abrakadabra has two dormitory rooms, only for female and female-male (mix). Each dormitory room fill bunk beds for six guests. Every bed completed with night-lamp, electric shock, small fan, hooks for towel, and curtain to keep our privacy. Every domitory rooms completed with two shared toilets and two showers. The price is cheaper than private room, it is not reach 100.000 IDR per night.

image

Every guests can use wifi with strength connection for free. Shared kitchen are available for the guest who wants cook and make their own drink, coffee or tea. Cold beer are available too. Don’t forget to keep the kitchen clean. In the morning, we will get delicious breakfast with Indonesia food. Yesterday, when we came, we get Nasi Uduk for breakfast from Mas Aby. And it is so delicious! The taste like Nasi Uduk from Jakarta, the sambal is so yummy! Not only Nasi Uduk, there are Nasi Kuning, Gudeg, Pecel, etc for breakfast.

image
image

Mas Jali, the owner, loves art and decorative plant. He start learning about plant philosophy. “Pasty is my campus” he said to me and it is funny. If you want to know, Pasty is the plant-market in Jogja hahaha! So, don’t amazed if you see a lot of plants in here. Plants everywhere! It made Abrakadabra feels so cool and fresh. The owner and all staffs (Mas Aby and the gank haha) are very humble and friendly. The staffs can organize your tours. Don’t shy or afraid to ask them, they will give you all information about Jogja and everything you need.

image

Abrakadabra has great environment to meet new friends, we all can sit and chit chat about everything with another guests in the small bar or outdoor pool areas. Majority the guests are international tourist who loves traveling, so we can share story about traveling. Sorry, no party here. It such a lovely vibes, tho?

image
image

The guests can smoking in the outdoor area, don’t smoking in the room to keep the freshness. Because the location is near residential area, so please no loud voice after 11 p.m. This place no suitable for children.

image

With the cheap price, easy to found the location, peaceful and quite area, unique and clean rooms, good ambience, kindly staffs, so don’t think twice to choose Abrakadabra as your awesome stay! Abrakadabra was so highly recommended home when you far away from your home. Book now and feel the great ambiance! Thank you for reading!

image

Cheers, 

Tika.

Kali Kedua ke Gunung Merbabu (Jalur Gancik)

“Pokoknya gak bakal ke Merbabu lagi, gila jalur ke Sabana bikin mau mati”, kira-kira begitulah gumam batin saya tiga tahun lalu ketika menahan lapar, ngantuk dan lelah di jalur pendakian Merbabu menuju Sabana 2 via Selo. Ketika saya dan teman-teman harus membuka carrier ditengah jalur untuk mengambil roti dengan tangan kotor penuh tanah jam 12 malam itu. Karena lapar dan ngantuk sejatinya akan melahirkan emosi “Kita mau ngecamp dimanasih? Itu yang depan nggak berhenti jalan terus”, sambil duduk di tengah jalur sebelum tiba di Sabana 2.

image

Merapi dari Sabana 2 Merbabu

Tapi, dibalik kesengsaraan menapaki jalur pendakian Merbabu, Merbabu punya pemandangan yang luar biasa bagus. Bukit teletubbies, hamparan sabana dan edelweis, serta kegagahan Merapi yang berhadapan langsung dengan Merbabu, membuat saya berfikir ulang “Yakin gak mau ke Merbabu lagi?”

image

Halo Merapi. (Foto oleh Mey)

Jalur pendakian menuju puncak Merbabu yang umum dilalui yaitu via Wekas (Magelang), via Suwanting (Magelang), via Chuntel (Magelang), via Kopeng (Salatiga) dan Selo (Boyolali). Saya, Mey, Bima dan Ahmad memilih jalur pendakian via Selo karena sebelumnya kami sudah pernah melakukan pendakian lewat jalur ini. Dari Jogja menuju Selo Boyolali kira-kira membutuhkan waktu dua jam, via Ketep Pass. Untuk menuju basecamp Selo, tepat disebelah Polsek  di depan Pasar Selo, belok kiri lalu kita tinggal mengikuti jalur dan plang jalan. Di perempatan jalan ada pos tiket masuk dan petugas yang menanyakan tujuan kami. Petugas mengarahkan kami menuju basecamp pendakian via Gancik yang ternyata adalah jalur baru. Kami belum pernah ada yang mendaki lewat jalur ini, dan sama sekali tidak tahu kondisi jalur pendakiannya seperti apa. Harga tiket masuk hanya Rp. 7.500,- dan resmi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali.

image

Jalur pendakian Merbabu via Gancik (sumber google)

Kami menuju salah satu basecamp rumah warga paling dekat dengan pos tiket masuk tadi karena lahan parkir yang memungkinkan untuk parkir mobil. Tidak semua basecamp terdapat lahan untuk parkir mobil, sekalipun ada, hanya untuk dua sampai empat mobil saja. Jalan di depan basecamp terbilang sempit hanya dapat dilalui satu mobil, jadi harus bergantian. Untuk pendaki yang menggunakan motor dapat memarkirkan kendaraan sampai di basecamp terakhir. Deretan basecamp pendakian via Gancik ini menyediakan fasilitas kamar mandi, mushola, warung yang menyediakan keperluan pendakian, menjual makanan dan minuman bahkan dapat digunakan untuk bermalam apabila tidak ingin mendaki saat hari gelap. Harga makanan mulai dari Rp.7.000,- berupa mie rebus atau nasi telur, ada juga nasi goreng, nasi rames, dan masih banyak lagi. Tarif parkir mobil Rp. 20.000,- dan motor 5.000,-.

image

Jalur cor semen dari basecamp menuju Gancik Hill Top

Jalur awal pendakian dari basecamp berupa jalanan cor semen halus menanjak tanpa landai. Jalur yang bisa dibilang cocok untuk pemanasan fisik dan mental. And it is my weakness, jalur semen cor menanjak tanpa ampun adalah jalur yang saya tidak suka, karena sangat menguras tenaga dan ternyata saya red days hari pertama, bye. Kepala pusing sekali dan rasanya ingin kembali ke basecamp, minum teh hangat lalu tidur nyenyak dengan kehangatan sleeping bag, tapi ternyata itu akan terlihat sangat cupu gaes, saya tetap melanjutkan perjalanan sampai akhirnya fisik mulai beradaptasi. Di jalur ini akan ditemui banyak motor berlalu lalang walau hanya cukup untuk satu dua motor saja, warga setempat menyediakan jasa ojek untuk mengantarkan wisatawan ke wisata Gancik Hill Top. Kanan dan kiri jalur ini berupa perkebunan warga, kebun kol, bawang, cabai dan masih banyak lagi. Karena jalur yang sempit, bagi para pendaki sangat disarankan mengalah ke pinggir ketika motor lewat, hati-hati jangan sampai merusak tanaman di kebun warga.

image

Gancik Hill Top (Foto oleh Mey)

image

Spot foto di Gancik Hill Top (Foto oleh Ahmad)

Setelah 30 menit perjalanan cor semen, kami sampai di wisata Gancik Hill Top. Gancik Hill Top ini terdapat beberapa spot-spot foto berupa gardu pandang dan rumah pohon yang menyuguhkan pemandangan hamparan perkebunan warga dari atas dan background Gunung Merapi yang gagah. Deretan warung kecil milik warga setempat menjual makanan dan minuman berupa mie instan, bakso tusuk, susu dan kopi panas.

Setelah Gancik Hill Top, jalur masih berupa cor semen menanjak. Kami baru menemu jalur berupa tanah setelah satu jam perjalanan santai dari basecamp warga. Fisik saya mulai membaik, karena jalur tanah ini sedikit agak landai banyak bonusnya. Kanan kiri jalur ini sudah bukan perkebunan warga, tetapi vegetasi berupa hutan pinus. Dari basecamp menuju pos I, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

image
image

Pos I dan pos terakhir pengantaran ojek

Sepanjang jalur ini kami akan banyak mengalah ke pinggir jalur dengan ojek-ojek yang dapat mengantarkan para pendaki hingga pos I. Ojek-ojek ini menawarkan harga dari Rp. 20.000,- sampai Rp. 50.000,- tergantung tujuan. Pendaki bisa memilih dari basecamp  sampai ke pos I, dari basecamp sampai ke Gancik Hill, dari Gancik Hill sampai ke pos I, atau sebaliknya (turun). Harga untuk siang dan malam juga berbeda. Pendakian via Gancik juga dapat menggunakan porter, tarif untuk porter sekali perjalanan pulang-pergi (tektok) sampai pos III atau Sabana Rp. 250.000,- sampai Rp. 350.000,-. Tarif untuk pendakian bermalam (satu malam) menggunakan porter Rp. 450.000,-.

image

Jalur pos I menuju pos II (Foto oleh Ahmad)

Jalur dari pos I menuju pos II masih berupa jalur menanjak tetapi banyak landai, banyak bonusnya juga. Lumayan untuk memangkas waktu, berjalan lebih cepat. Di kiri jalan berupa jurang. Di jalur ini sudah jarang ditemui pohon-pohon besar, jadi akan terasa dingin angin. Sepanjang jalur, Gunung Merapi yang gagah berada di belakang kami. Apabila cuaca cerah saat malam hari taburan lampu kota di bawah dan milky way di langit akan menjadi pemandangan sepanjang pendakian. Pos I dengan ketinggian 2.050 mdpl, pos II ini memiliki ketinggian sekitar 2.100an mdpl. Dengan perjalanan 1,5 jam, kita hanya naik sekitar 100 mdpl? Sakit hati nggak? Hahaha.

image

Banyak plang di sepanjang jalur, sangat membantu

Setelah pos II, pohon-pohon sudah mulai berkurang, bukit teletubbies sudah mulai terlihat, itu artinya penyiksaan fisik juga semakin dekat hahaha. Jalur pendakian berupa tanah licin sangat menanjak, harus ekstra hati-hati melangkah. Untuk memudahkan melangkah bisa berpegangan dengan batang pohon, akar atau rumput di pinggir jalur. Kanan dan kiri jalur berupa padang rumput dan edelweis. Pos III ini adalah pos pertemuan antara jalur pendakian via Gancik dan Selo.

image

Jalur mulai menanjak setelah pos II

Setelah pos III, jalanan masih terus menanjak melewati bukit untuk menuju ke Sabana 1. Karena fisik yang mulai lelah butuh istirahat dan perut sudah mulai lapar, kami mendirikan tenda di puncak teletubbies. Tenda kami menghadap langsung ke Gunung Merapi.

image

Merapi view (Foto oleh Bima)

image

Sunrise (Foto oleh Mey)

image

Throwback pendakian Merbabu sebelumnya, dari bukit ini masih butuh waktu 1 jam untuk sampai Sabana 1, satu jam juga menuju Sabana 2. Sebaiknya mendirikan tenda di Sabana 2 karena Sabana 2 terhalang oleh bukit, tidak seperti Sabana 1. Kalo ingin ngecamp di Sabana 1, sebaiknya cari dibalik pohon agar tidak terlalu dingin karengan angin yang cukup kencang. Jalur pendakian menuju Sabana 1 dan Sabana 2 berupa tanah licin dan terjal, akan lebih banyak ngeluhnya daripadangelangkahnya hahaha.

image
image

Sabana 2 Gunung Merbabu

Perjalanan turun dari bukit teletubbies sampai ke basecamp memakan waktu lebih singkat tidak sampai 3 jam. Tetapi kaki lebih terasa nyut-nyutan ketika turun melewati jalanan cor semen yang cukup panjang. Tapi tenang, kalau tidak mau nyut-nyutan, bisa naik ojek dari pos I dengan tarif sekitar Rp. 30.000,- sampai ke basecamp. Sangat disarankan untuk memakai sun block, sarung tangan, topi, buff atau masker, kaos berlengan panjang dan juga celana panjang saat mendaki atau turun siang hari, karena jalur berupa tanah dan akar pohon untuk menghindari kulit terbakar sinar matahari dan terluka karena akar pohon. Carrier juga sebaiknya diberi rain cover agar tidak kotor karena jalur tanah.

image

Jalur tanah cukup licin dan menanjak

Jalur pendakian Merbabu via Gancik menurut penelusuran terbilang lebih cepat dan lebih mudah untuk pemula dibandingkan dengan Selo. Di awal pendakian jalur Gancik sangat menanjak, via Selo jalur berupa hutan pinus yang tidak terlalu menanjak tetapi cenderung landai. Kedua jalur ini akan bertemu di pos III, jalur Gancik akan lebih cepat, selisih satu jam dari jalur Selo. Kami tidak menemukan sumber mata air di jalur pendakian Gancik ini, tetapi beberapa warga bilang ada sumber mata air di Watu Tulis, pos III. Sebaiknya membawa air minum sesuai kebutuhan, dari basecamp sampai pos III membutuhkan waktu lebih dari 3 jam dengan jalur yang cukup menanjak (apalagi kalau siang hari panas), minimal satu orang membawa air minum 3L agar tidak kekurangan air ditengah jalan.

image

View dari bukit teletubbies

Merbabu benar-benar menawarkan landscape yang luar biasa bagus, bikin pengenselalu balik lagi, tapi jalur pendakian yang nanjak terus bikin berpikir ulang juga hahaha. Kalian harus banget berkunjung ke Merbabu, worth it. Jangan lupa bawa turun sampah kalian, sekecil apapun itu ya! Thank you for reading!

image
image

 Happy holiday!

Tika.

Makan Mewah di Gunung Pangrango

First of all, sebenarnya buat orang-orang yang suka naik gunung, apa tujuan kalian naik gunung? Mengejar puncak, mencari pelajaran baru, atau demi foto baru buat feeds instagram? Hehe. Jujur buat saya pribadi, puncak bukanlah tujuan saya karena saya menyadari kemampuan fisik saya, dari pada memaksakan dan merepotkan orang lain. Sudah buka tenda dan masak cantik di pos terakhir saja rasanya saya sudah senang sekali. Karena bagi saya mendaki gunung juga bagian dari quality time bersama teman-teman, tanpa sinyal dan alat komunikasi, kita semua bebas bercerita bahkan membahas orang lain ha ha ha. Kadang saya juga suka mencari tau sifat asli partner saya saat itu. Saya selalu suka mendaki bersama teman baru, selain pastinya mendapat teman baru, saya juga akan dapat pelajaran baru dari mereka. Tapiiiii, saya juga bukan orang yang mudah diajak mendaki gunung dengan orang ‘baru’, harus ada minimal satu orang yang sebelumnya pernah mendaki bersama saya. Kenapa? Ya karena alasan fisik, nggak lucu dong nyusahin orang yang saya baru kenal hahaha.

Pendakian kali ini pertama kalinya saya mendaki gunung bersama mereka, kecuali Fatkhan. Like a stranger, mereka semua dalam naungan satu korsa hahaha. Perjalanan yang bisa dibilang cukup matang, persiapan sebulan dari setelah lebaran. Persiapan yang cukup lama tapi tidak membuat semua berjalan mulus, ada saja halangannya, banyak bahkan haha. Dari mulai kuota pendakian yang sebelumnya masih cukup tiba-tiba saat webpage TNGGP di-refresh kuota menjadi penuh, mau nggak mau kita mengandalkan calo agar tetap bisa naik akhir bulan. Biaya SIMAKSI yang normalnya hanya Rp. 34.000, melalui calo kami jadi harus membayar Rp. 85.000 per-orang tetapi itu sudah termasuk SIMAKSI, surat keterangan sehat dan materai. Menurut saya itu cukup worth it, karena kita tidak perlu bolak-balik ke Cibodas mengurus SIMAKSI dan surat sehat di Puskesmas sana. Kita hanya duduk manis dan semuanya beres hehe.

image

Peserta pendakian ini seperti pemain sepak bola, banyak subtitute-nya. Awal pendaftaran SIMAKSI kami berdelapan sampai satu per satu gugur karena ada acara keluarga sampai interview kerja. Mencari pemain pengganti, semua nama disebut, semua yang sedang berada di Jakarta diajak, sampai akhirnya hanya tujuh orang yang bertahan. Kami yang bertahan, Saya, KanaFatkhanHadiPras, dan pemain pengganti Ika (yang selanjutnya akan dipanggil Mendes) dan Oki.

image

Berhubung saya dan Mendes masih di Jogja, jadi kami harus ke Jakarta terlebih dahulu, teman-teman yang lain sudah di Jakarta. Tiket ke Jakarta sudah dipesan seminggu sebelumnya, kami naik kereta ekonomi Progo tanggal 28 Juli jam 14.45 sore. Semua perlengkapan dan logistik sudah masuk dalam list dan carrier, dari keperluan kelompok sampai pribadi. Dari spirtus yang ngambil di laboratorium sampai kebab dan roti maryam yang harus dibeli online. Sampai di tanggal 28 Juli, saya sudah mengestimasi waktu berangkat dari kosan pukul 14.00 (karena biasanya perjalanan dari kosan menuju stasiun Lempuyangan tidak sampai 30 menit). Namun Tuhan berkehendak lain, kita manusia hanya bisa berencana. Setiap perempatan lampu merah siang itu cukup padat, bahkan dapat dikatakan sangat padat. Awalnya saya panik sampai harus terus melirik jam ditangan kiri, tapi karena sudah pasrah karena padatnya lalu lintas siang itu, saya jadi pasrah. Bahkan sudah tidak panik dan takut ketinggalan kereta lagi. Benar saja, saya tiba di stasiun pukul 14.42, sama halnya dengan saya ternyata banyak juga penumpang kereta Progo yang hampir ketinggalan kereta. Semua berlari agar tidak tertinggal, tetapi saya tidak. Saya masih mencari Mendes, saya fikir saya sudah paling telat dan dia sudah duduk manis didalam dengan memegang tiket kami. Tapi nyatanya, saya masih bisa mencetak tiket kami di self-ticketing stasiun, itu artinya dia belum tiba. Saya membuka HP, dan benar dia masih terjebak di padatnya lalu linta Jogja siang itu. Last call untuk para penumpang kereta Progo, kereta sudah membunyikan klakson tanda sebentar lagi kereta akan berangkat, tapi saya masih duduk dibangku boarding room menunggu Mendes. Sebenarnya saya masih bisa naik kereta Progo, tapi khawatir kalau saya tinggal, dia tidak jadi ikut mendaki gunung bersama kami, makin dikit dong pesertanya. Mendes tiba di stasiun kami langsung mengantri diloket untuk membeli tiket kereta ke Jakarta jam selanjutnya, Alhamdulillah masih rezeki, masih ada tiket kereta Gajahwong jam 18.00 dengan harga 220.000. Kalau ditotal, kami sudah mengeluarkan biaya untuk tiket hampir 350.000 sekali jalan, seharga pesawat ha ha ha. Lumayan jadi bahan hiburan di grup.

Kami semua berangkat dari Jakarta, kecuali Fatkhan dari Bandung. Kami berangkat dari rumah saya jam 13.00, menggunakan mobil Pras yang tanpa alasan hari itu AC nya mati. Jadilah kami menikmati perjalanan tanpa AC, mengurangi global warming. Lewat tol Jagorawi, dan kami terjebak saat jalur menuju Puncak sedang ditutup (berlaku satu arah ke Jakarta), mau nggak mau kami harus menunggu sampai jam 17.00, saat itu masih jam 15.30. Kami melipir ke rest area dekat Ciawi, packing ulang barang bawaan, jajan dan sekalian sholat. Kesialan masih berlanjut, sambil menunggu jalur dibuka kami duduk-duduk lesehan ngobrol disamping mobil, tiba-tiba mobil yang sedang parkir di depan kami maju menabrak Kana. Si pengemudi beralasan tidak melihat kami didepan. Kami meninggalkan rest areajam 17.00 dengan kondisi lalu lintas yang masih padat sampai daerah Cisarua.

Tiba di Cibodas, hujan deras, kami mampir ke warung Kang Angus untuk mengambil SIMAKSI dan makan malam. Semua barang sudah masuk carrier dan aman, kami memulai pendakian pukul 21.00. Kami harus melapor terlebih dahulu ke kantor untuk menyerahkan SIMAKSI yang letaknya kira-kira lima menit berjalan dari warung Kang Angus. Di kantor SIMAKSI saat itu ada tiga orang penjaga, kami menyerahkan SIMAKSI dan disuruh menuliskan barang bawaan apa saja yang akan menghasilkan sampah, diantaranya air mineral, tissue basah, tissue kering, bungkus makanan, korek, dll. Kalian dilarang membawa parang, tissue basah, dan sabun dkk. Saran saya, jangan terlalu jujur, bukan berarti kalian harus berbohong, bohong tetapi bertanggung jawab (gimana tuh?). Semua tissue basah yang kami bawa, kami serahkan kepada penjaga, dan dibuang begitu saja ditempat sampah didepan mata kepala kami, sedih haha. Oiya kenapa tissue basah dilarang dibawa? Karena tissue basah sifatnya sangat sulit dimusnahkan, coba saja kalian bakar tissue basah kalian hehe.

Setelah urusan SIMAKSI di pos selesai, kami memulai pendakian. Jalur pendakian melalui jalur Cibodas ini jalurnya berupa bebatuan, karena habis hujan jadi agak sedikit licin. Disetiap pos kami beristirahat sejenak untuk minum atau makan cemilan coklat. Fisik kami lumayan cukup baik, hanya saja paha dan betis setelah dua jam pendakian lumayan berasa capeknya. Cuaca saat kami mendaki juga alhamdulillah tidak hujan. Setelah pos Rawa Denok, paha benar-benar terasa nyut-nyutan sampai Hadi juga kena kram. Dijalur setelah Pos Batu Kukus II kami bertemu dengan rombongan pendaki yang turun, mereka berpesan “Mas tadi ada hewan seperti kucing disana, hati-hati ya Mas”. Pesan mereka membuat kami was-was, bagi yang paham pasti tau kalau yang dimaksud adalah macan atau sejenisnya. Gara-gara pesan tadi, sepanjang jalan saya jadi berimajinasi kalau itu adalah macan, siapa yang akan dijadikan mangsa diantara kami bertujuh? Apakah besok kami akan masuk headline koran? Hahaha. Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, kami sudah mulai mengantuk, kami memutuskan untuk mencari pos terdekat yang bisa untuk membuka tenda. Awalnya kami berencana ngecamp di Kandang Badak, tetapi karena sudah mengantuk kami memutuskan untukngecamp di pos setelah Batus Kukus III dan sebelum Air Panas, ada lahan datar dan cukup luas.

image
image

Para lelaki membuat tenda, saya dan Kana membuat minuman hangat. Setelah semua tenda beres, alat masak dipindahkan kedepan tenda besar (kapasitas 5 orang) karena didepannya ada garasinya haha. Untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak terlalu lapar tetapi harus diisi, kami memasak roti maryam yang diberi topping susu kental manis dan mencicil memasak nasi dan lychee jelly untuk besok pagi. Kami beristirahat.

image

Pukul 08.00 pagi kami sudah terbangun, udara pagi di gunung memang sangat dirindukan bagi kami para warga ibu kota dengan seabrek polusinya haha. Kami mulai memasak untuk sarapan. Merebus bahan sayuran untuk capcay dan memanaskan ayam goreng tepung yang nantinya akan diberi saus barbeque dan lilitan keju mozarella. Kami berbagi tugas, saya, Kana, Fatkhan dan Pras memasak lalu Hadi dan Oki mengambil air di sumber mata air terdekat. Lalu Mendes ngapain? Haha. Menu kami pagi ini cukup mewah, nasi, telur asin, capcay, chicken rolling cheese ala Ojju, dan lychee jelly. Karena menu yang cukup instagram-able, kami harus menahan untuk tidak memakannya terlebih dahulu, kami sibuk memfoto selama satu jam. Setelah selesai foto makanan dan foto bersama, kami baru bisa menyantap makanan kami. Luar biasa nikmat, makanan enak, udara segar, suara burung, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Alhamdulillah.

image
image
image
image
image

Setelah kenyang, acara selanjutnya bebas. Pras, Kana dan Oki lanjut tidur. Saya, Mendes dan Fatkhan ke air panas dan air terjun dekat Kandang Batu. Jalur air panas lumayan ramai, bahkan cenderung ‘macet’, karena setiap orang yang lewat jalur ini harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset ke aliran air apans, amit-amitsampai masuk jurang di kanan jalan. Kolam air panas juga cukup ramai, banyak orang yang berendam seperti sedang “jacuzzi”, mungkin mereka melepas lelah setelah perjalana dari puncak Gede atau Pangrango. “Enak juga ya ternyata naik tanpa bawa carrier berat, badan jadi enteng”, itulah obrolan kami bertiga dijalan menuju air terjun. Kapan lagi naik sambil lari hahaha. Melewati pos Kandang Batu ternyata cukup ramai, banyak pendaki yang ngecamp disana. Air terjun yang kami tuju lokasinya tidak jauh dari Kandang Batu, hanya menempuh 15 menit perjalanan dari camp kami sebelum air panas. Di air terjun tidak terlalu ramai seperti di pos air panas, hanya ada beberapa pendaki yang sedang beristirahat sholat dipinggiran. Kami bertiga berfoto-foto sebelum kembali ke camp.

image

Sampai dicamp, kami masak lagi (nggak ada kenyangnya), kami memasak beef kebab. Enak banget! Siang itu kami kedatangan tamu di tenda kami, junior-juniornya Hadi yang sedang pengembaraan menaklukan puncak Gunung Gede dan Pangrango, kami pun berbagi makan siang bersama mereka. Jam 02.30 sore kami berbenah packing barang, karena jam 03.00 kami harus turun agar sampai dibawah tidak malam dan tidak hujan. Diperjalanan turun, Kana dan Pras harus berada dibelakang karena engkel Kana cedera. Kami hanya berhenti agak lama di pos pertigaan Pamancangan Air Terjun Cibereum karena harus mereparasi sepatu Mendes yang akhirnya menyerah kepada keadaan. Setelah pos Pamancangan, rasanya ingin segera bertemu warung untuk selonjoran. Tapi nyatanya, perjalanan terasa jauh, tidak sampai-sampai, jalan sudah seperti zombie. Kami tiba di pos SIMAKSI sekitar pukul 19.00, melapor tim dan kami segera menuju warung Kang Angus.

image
image

Sampai di warung kami ganti pakaian, makan dan bercerita tentang perjalanan tadi. Oiya, saya belum bercerita kalau diantara kami ada yang peka terhadap mahluk lain. Kana pun bercerita, diperjalanan naik saat sedang istirahat di Pos Pamancangan, dia melihat banyak pendaki yang sedang beristirahat seperti tersesat, pendaki-pendaki itu eye-contact dengannya. Padahal disitu hanya ada kami bertujuh, tidak ada pendaki lain. Setelah pos Rawa Denok, Fatkhan merasakan ada mahluk lain di kanan jalan mengikutinya, dan ternyata Kana juga melihatnya. Ditempat kami ngecamp, didepan tenda ada bangunan 1x1m yang ternyata ada toliet yang hanya ada WC tanpa bak, Kana juga melihat ada mahluk lain dan untungnya tidak mengganggu kami. Diperjalanan turun dijalur bebatuan setelah jembatan, Kana juga diikuti oleh mahluk lain yang berjalan salip-salipan dengannya. Untungnya mereka bercerita setelah di warung, kebayang gak kalau mereka cerita pas masih dijalur pendakian? Hahaha. Kami pulang kerumah dari Cibodas sekitar jam 21.00, Fatkhan kembali ke Bandung naik motor (bukan orang emang), dan kami berenam kembali ke Jakarta.

image
image

Walaupun pendakian ke Pangrango ini belum sampai ke puncak, tapi pendakian ini bener-bener seru. Mendaki gunung bareng orang baru dan pastinya ada cerita baru juga. Semoga lain kali bisa dikasih kesempatan buat ke Puncak Pangrango, atau bahkan tempat lain yang gak kalah bagus. Geng mecin, kalian seruu! Thank you for reading!

TikaA stranger.

Drone shoot by Pras.

Piknik ke Curug Cibereum, Cibodas

Berawal dari rencana mau naik gunung, kemudian hanya camping ceria saja di kaki gunung, dan semua rencana berakhir sirna. Biar gak kecewa-kecewa banget, pokoknya Minggu itu harus tetep berangkat, bebas kemanapun tujuan yang penting tempatnya bagus. Dari pilihan ke kaki Gunung Salak, Gunung Halimun, Gunung Bunder, Gunung Pancar, dan akhirnya tujuan terpilih ke Curug Cibereum.

Curug Cibereum berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya ada di jalur Cibodas. Dari Jakarta, bisa langsung menuju ke Kebun Raya Cibodas sebagai patokan, kurang lebih dibutuhkan waktu sekitar tiga jam menggunakan mobil pribadi. Apabila kalian berkunjung saat akhir pekan mungkin kawasan wisata Cibodas ini akan lebih ramai, dan pastinya lebih sulit menemukan tempat parkir. Untuk fasilitas pendukung terbilang cukup lengkap, kamar mandi, mushola, warung makan sederhana hingga para penjual oleh-oleh khas Cibodas.

image

Agar tidak bingung, sebaiknya bertanya ke petugas parkir dimana pintu masuk menuju Curug Cibereum. Biaya retribusi untuk wisata Curug Cibereum Rp. 18.500,- berlaku untuk satu orang dan satu kali masuk. Jalur menuju Curug Cibereum merupakan salah satu jalur pendakian Gunung Gede Pangrango, yaitu Cibodas. Jadi sepanjang perjalanan kita akan bertemu dengan para pendaki yang membawa carrier menuju puncak Gunung Gede Pangrango atau selesai pendakian.

image
image

Jalur menuju Curug Cibereum berupa bebatuan tangga yang cukup landai (dibanding tangga batu jalur Lawu). Jalur yang terbilang cukup mudah ini memungkinkan para wisatawan segala umur dari anak-anak sampai ibu-bapak dapat mengunjungi Curug Cibereum, tentunya dalam keadaan sehat dan mampu. Di kanan-kiri jalur berupa pepohonan hutan hujan tropis khas Jawa Barat. Hutan yang kaya dengan biodiversitas flora dan fauna. Sebelum tiba di Curug Cibereum, kita akan melewati camping ground, telaga warna dengan warna air biru-kehijauan dan rawa Panyangcangan di kanan-kiri jembatan panjang.

image
image
image
image

Setelah satu jam perjalanan, kita akan bertemu dengan pertigaan, kiri menuju Gunung Gede atau Pangrango dan ke kanan menuju Curug Cibereum (ada papan petunjuk). Kita dapat beristirahat sejenak disini, meluruskan kaki, melepas dahaga atau sekedar bertegur sapa dengan para pendaki yang sedang beristirahat juga. Dari pertigaan ini, Curug Cibereum tinggal lima menit lagi. Selanjutnya jalur masih berupa bebatuan dan menurun, di kanan jalur terdapat sungai dengan air yang jernih.

image

Curug Cibereum Minggu itu cukup ramai, ada beberapa anak sekolah sedang study tour. Kami menepi mencari tempat agak landai untuk beristirahat dan ngopi. Mencari tempat landai, untuk Agung tidur siang. Menyeruput kopi, ngemil bekal, dan berfoto, setelah itu kami langsung bersiap untuk turun, karena mengejar jam buka-tutup jalur puncak.

image

Curug Cibereum bisa dijadikan salah satu destinasi piknik buat kalian yang sudah mulai jenuh dengan hiruk pikuk kemacetan kota Jakarta. Satu hari pulang-pergi cukup. Hutan hujan tropis, udara yang bersih, suhu yang cukup adem, suara burung, dijamin bisa membuat esok hari jadi lebih baik! Jangan lupa pergi bersama keluarga atau sahabat paling gila kalian ya, biar makin seruuu!

image

Tips :

– Apabila kalian pergi di akhir pekan, pastikan jam buka-tutup kawasan puncak agar kalian tidak terjebak dalam macet, dan pastinya tidak memakan waktu.

– Wajib menggunakan sepatu atau sendal gunung yang nyaman, yang alasnya tidak licin ya agar tidak mudah terpeleset dijalur bebatuan.

– Walaupun adem, jangan lupa pakai sunblock yaaa.

– Bawa botol air minum, beserta bekal secukupnya bila perlu. Untuk dimakan sambil piknik didekat air terjun.

– Bagi anak gunung yang suka ngopi, bawa kompor dan trangia sangat disarankan. Biar makin lucu pikniknya :))

– Bawa daypack untuk memudahkan membawa barang. Jangan lupa jas hujan atau payung beserta baju ganti (satu saja cukup). Alat sholat juga ya.

– Kalo kata Agung, jangan lupa bawa pasangan atau gebetan, biar perfect  (abaikan saja tips ini).

Tiket masuk : Rp. 18.500,-

Parkir mobil Cibodas : Rp. 10.000,-

Happy holiday!

All photos credit to Fatkhan and Hadi.

Jogja Bersama 19 (Part 2) – Kopi Klothok, Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus

Halo kembali lagi di cerita jalan-jalan bersama 19. Jangan bosan ya! Ini partterakhir kok hehe

21 April 2017. Pagi ini saya mengajak mereka sarapan di Kopi Klothok Pakem. Itu sudah ada di list itenerary dari awal saya buat, karena saya ingin mereka merasakan enaknya pisang goreng ter-enak se-Asia Tenggara (lebay hahaha). Kami berangkat agak siang, waktu sudah nyerempet sholat Jumat. Mau pilih tempat untuk makan saja harus drama, kubu satu ingin di luar pinggir sawah biar bisa merokok yang satu lagi mau di dalam rumah depan kipas angin karena di luar panas. Akhirnya kubu pinggir sawah yang menang. Menikmati pisang goreng, nasi sayur lodeh di pinggir sawah sambil tertawa, such a lovely afternoon! Tetapi tidak lama hujan turun deras, terpaksa kami harus pindah tempat duduk di teras dan menunggu hujan reda. Kami menunggu cukup lamaaaaa, 4 jam disana! Semua itenerary hari itu berantakan, kami berniat mau ke Blukit Klangon dan sunsetan di Candi Ratu Boko, tapi semua sirna. 

image
image

Setelah hujan agak reda, kami langsung menuju ke Malioboro untuk menikmati malam. Aphoy ingin melihat pertunjukan musik di pinggir jalan Malioboro dan Ade ingin berbelanja oleh-oleh. Malioboro malam itu tidak terlalu ramai, padahal long weekend. Kami menonton pertunjukan musik tradisional di pinggir jalan, sampai request lagu hehe. 

image
image

Dari Malioboro saya mengajak mereka makan malam di Sate Klathak Jombor. Makanan ini merupakan salah satu hal wajib kalau berkunjung ke Jogja. Kami memesan sate klathak, tengkleng dan tongseng.

image

22 April 2017. Dari semalam Bolang sudah bawel berpesan “Bangun pagi ya, kita sunrise-an di Kebun Buah Mangunan besok. Berangkat jam 5 subuh”. Demisunrise yang katanya bagus, kami berangkat dari penginapan jam setengah 6 pagi, tentunya tanpa mandi, Alhamdulillah cuaca ceraaaah. Tiba di Kebun Buah Mangunan pukul setengah 7. Luaaarrr biasaaaaa, sudah ramai sekali pengunjungnya. Parkiran cukup padat. Bahkan ada yang sudah sarapan di warung-warung, mereka berangkat dari jam berapa ya? Oiya, harga tiket masuk Kebun Buah Mangunan ini hanya Rp. 5.000,-. Yuhuuu ternyata sunrise-nya memang bagusss! Apiiik! Kami masih kebagian kabut-kabut hitz yang memang dicari para pengunjung. Kami tidak berhenti mengabadikan gambar, padahal matahari sudah mulai bikin gerah. Saya cukup sering berkunjung ke Kebun Buah Mangunan, tapi baru pertama kalinya saya datang ketika sunrise, basanya siang atau sore hari.

image
image

Setelah dari Kebun Buah Mangunan, mumpung masih pagi dan belum terlalu panas, kami melanjutkan ke Hutan Pinus yang lokasinya masih dekat dengan Kebun Buah Mangunan. Saya pribadi agak bosan dan merasa biasa aja berada di Hutan Pinus, karena saya sudah pernah berkunjung kesini dan tidak banyak berubah. Kami hanya duduk-duduk di bawah rindangnya hutan sambil ngobrol-ngobrol. Harga tiket masuk Hutan Pinus hanya Rp. 2.000,-

image
image

Matahari mulai terik, perut pun mulai keroncongan, kami makan Bakso Klenger di daerah kota. Dan kita menjadi pelanggan pertama, karena warung bakso baru saja buka.

image

Karena kami bangun terlalu pagi setelah kenyang menyantap bakso kami kembali ke kosan dan tidur siang hehehe. Malam harinya kami ke Alun-Alun Kidul melihat sepeda warna-warni. Kami pun mencoba melewati pohon beringin dengan mata tertutup, tapi tidak ada yang berhasil hahaha. Setelah dari Alun-Alun Kidul kami menuju tempat ngopi di daerah Prawirotaman, Move on Coffee.

image
image

23 April 2017. Hari ini mereka akan kembali ke Jakarta pukul 5 sore. Agenda hari ini adalah berbelanja oleh-oleh di Sentra Bakpia Pathuk 25 di dekat Malioboro. Luaaarrr biasa ramaiiii, karena ini long weekend. Kalo boleh tau, gimana Adesri rasanya antri bakpia banyak terus ditinggal teman-temannya minus es teh diluar? Wkwkwk. Setelah jajan oleh-oleh kami menuju ke Via-Via di Prawirotaman untuk bertemu Kace, teman seangkatan kami juga di 19. Edisi nongski 19 di Jogja hehehe. Sebelum pukul 5 kami sudah berada di Stasiun Lempuyangan. 

image

Hard to say good bye kalo liburan bareng orang-orang geblek! Hahaha. See you on next holiday, kemana nih kita? Hihihi. Cheers, Kajol. Xo.

Jogja Bersama 19 (Part 1) – Pantai Wediombo dan Bukit Bintang

Setelah akhir tahun kemarin dikasih kesempatan bisa naik gunung lagi sama 19, Alhamdulillah sekarang dikasih kesempatan bisa jalan-jalan bareng lagi sama mereka. Jalan-jalan kali ini tujuannya bukan ke gunung, formasi orangnya juga agak berbeda dengan yang kemarin (ya maklumlah ya angkatan kalo orangnya banyak susah full team :p). Beberapa kawan dari Jakarta kali ini berkunjung ke Jogja! Yuhuuuu. Tujuan awal mereka ke Jogja untuk menjenguk Rivan yang sudah lama sekali tidak bertemu dan juga agak susah dihubungi, mereka ingin memastikan Rivan baik-baik saja hahaha.

Tiket kereta ke Jogja sudah dipesan sebulan sebelum tanggal keberangkatan, karena tanggal liburan yang mereka pilih tepat long weekend, antisipasi kehabisan tiket. Bagi Ade dan Bolang, berkunjung ke Jogja adalah sebuah nostalgia, karena mereka pernah menghabiskan empat tahun lebih di kota tercinta ini. Bagi Abeng? Saya tidak tahu alasannya apa, tapi orang ini malah yang sangat excited hahaha,

Tanggal 19 April, mereka berangkat siang hari dari Stasiun Pasar Senen. Mau berangkat ada saja dramanya, dari Bolang yang berbohong tidak jadi ikut, Ade yang KTP-nya tertinggal di kantor, sampai tujuan tiket bukan ke Jogja tetapi ke Wates. Belum lagi kocaknya mereka harus membawa helm di kereta untuk jalan-jalan di Jogja. Tidak lama setelah mereka tiba di penginapan, saya menemui mereka. Kami makan malam bersama di warung penyetan dekat penginapan. Tujuan mereka ke Jogja pun sudah terpenuhi, karena malam itu Rivan juga menemui kami. Saya dan Rivan ikut bermalam bersama mereka di penginapan, ngobrol sana-sini sambil merencanakan besok mau kemana.

20 April 2017. Rencana kami hari ini adalah pergi ke Pantai Wediombo untuk memenuhi keinginan Abeng melihat “Sejuta Pesona Gunung Kidul”. Setelah sarapan di soto favorit saya di daerah Klebengan, kami langsung cus ke Pantai. Perjalanan menuju ke pantai agak nyasar karena saya agak lupa. Kocaknya, setiap kami bertanya ke warga arah ke Pantai Wediombo mereka selalu memberikan jawaban yang berbeda-beda. Gimana coba kalo warga yang kami tanya lebih dari satu? Akhirnya kami trust to google maps. Ini sudah ke-tiga kalinya saya berkunjung ke Pantai Wediombo, tetapi jalanan yang saya lalui kali ini berbeda. Jalanan melewati kebun-kebun yang tidak ada rumah penduduknya, ternyata yang kami lewati bukan jalan umum seperti biasanya hahaha. Untungnya kami bisa tiba di Pantai Wediombo. Biaya masuknya hanya Rp. 5.000,- dan parkir motor Rp. 2.000,- (biaya parkir biasa, bukan bermalam)

image
image
image
image

Tiba di Pantai Wediombo kami langsung menuju kolam renang alami. Abeng dan Aphoy sudah tidak sabar nyemplung, padahal hari itu panas sekali dan ombak juga cukup besar (tetapi masih aman di spot tertentu). Saya, Ade, Bob, Rivan dan Bolang lebih memilih menunggu cuaca agak adem di bangunan di pinggir kolam. Sambil menununggu kami berfoto-foto. By the way, setiap saya berkunjung ke Pantai Wediombo selaluuuu ada gadget yang nyemplung ke laut, atau kena korban air laut. Kali ini hp Abeng yang menjadi korban, lagi asik foto lalu ombak besar datang dan dia refleks pegangan ke batu yang ternyata batunya juga kena deburan ombak. Syukurnya masih bisa nyala dan tidak rusak sama sekali.

image

Setelah lelah berenang, kami makan siang di warung pinggir pantai. Es kelapa muda menjadi pilihan kami karena cuaca yang masih sangat terik. Segeeer! Untuk makan siang kami pesan, mie ayam, mie rebus dan nasi telor ceplok. Sambil menunggu matahari agak redup kami bersendau gurau tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit. Oiya, harga makanan di warung pinggir pantai ini masih masuk akal kok, satu buah es kelapa hijau Rp. 12.000,- untuk makanan yang kami pesan perporsinya tidak lebih dari Rp. 10.000,-. Biaya mandi dan bilas di toilet disini Rp. 5.000,-.

image
image

Pukul 16.00 WIB kami beranjak pulang, untuk menuju ke Bukit Bintang. Karena sudah terlalu sore kami tidak mendapatkan sunset. Kami menghabiskan malam di salah satu tempat makan di Bukit Bintang yang menyuguhkan panorama lampu-lampu dari kota Jogja. 

image

Makan malam di Bukit Bintang ini mungkin akan menjadi salah satu cerita lucu di trip kami ini. Kami mendapat warung makan yang pemiliknya galak sekali. Pesanan makanan dan minuman kami akan diantar oleh petugas dan petugas akan menyebut pesanan, misalnya “Jahe hangat satu”. Ketika petugas menyebutkan menu, kami harus sigap apakah itu pesanan kami atau bukan, karena kalau kami tidak sigap, kami akan kena marah oleh pemiliknya. Bahkan ada salah satu gerombolan pengunjung yang lama memesan menu, si pemilik warung tetap menunggui mereka disebelah meja dengan muka galak. Semua pengunjung warung ini berbicara dengan nada berbisik, mungkin karena mereka semua ngehkalau pemiliknya galak. Tetapi yang kami heran, warung ini tetap ramai. Kami memesan jagung bakar (10k), pisang bakar (8k) dan mie rebus jawa (25k). Rasa jagung bakarnya enaaaak, empuk juga. Untuk mie rebus jawanya rasa cenderung pedas merica, sangat pedas malah, seperti merica tumpah ke mangkuk mie.

Kami tidak berlama-lama di Bukit Bintang karena kami tidak nyaman dengan pemiliknya yang galak. Setelah itu kami menuju ke kota, kami janjian dengan salah satu teman SMA kami juga yang sedang berkunjung ke Jogja, Hendy. Kami janjian di Kopi Joss depan Stasiun Tugu yang sangat terkenal itu. Karena di Bukit Bintang dan Kopi Joss kami tidak makan berat, perut sudah mulai keroncongan, kami melipir dulu ke SS untuk makan malam sebelum kembali ke penginapan.

image

Hari pertama jalan-jalan bareng 19 ini cukup melelahkan, mungkin karena jarak lokasi tujuan kami yang lumayan jauh. Lelah tertawa juga pastinya. Tiba di penginapan kami langsung bersih-bersih dan tidur untuk bersiap jalan-jalan besok hari! Yeay! See you on our next trip story! Xoxo.

Tebing Breksi

Sekarang saya jadi tau kenapa orang-orang ngerasa pengen balik lagi ke Jogja, karena wisata di Jogja emang nggak ada habisnya ya! Dari mulai wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner sampe bahkan wisata yang mungkin juga belum saya tau. Dari mulai sunrise, sampai ke sunset, bahkan sampai kuliner tengah malam pun ada di Jogja.

Buat kalian yang suka berburu sunrise ataupun sunset, ada tempat baru lagi nih, namanya Tebing Breksi. Lokasinya ada di dekat Candi Ijo, nggak jauh kok dari kota Jogja (gampang banget cari di maps). Jalan menuju Tebing Breksi juga relatif mudah, sudah beraspal, jadi bisa dilalui motor dan mobil. Tebing Breksi buka sampai jam 8 malam. Biaya masuknya juga sangaaat murah, cukup dengan membayar uang parkir dan uang sukarela aja! Untuk motor dikenakan biaya Rp. 2.000.- dan mobil Rp. 5.000,-.

image

                                                  Tebing Breksi

Menurut hasil penelusuran, batuan kapur breksi ini merupakan hasil endapan abu vulkanik Gunung Api Nglanggeran di Gunung Kidul. Dulu warga sekitar melakukan penambangan batu kapur breksi di lokasi ini sebagai mata pencaharian mereka, tetapi karena ada larangan, warga berinisiatif menjadikan lokasi ini sebagai objek wisata. Dan ternyata, banyak wisatawan yang datang ke Tebing Breksi ini. Untuk fasilitas, jangan takut karena sudah ada warung, toilet dan mushola.

image

                              Tangga Menuju Puncak Tebing

Menuju puncak Tebing Breksi kalian harus menaiki belasan anak tangga. Dari puncak Tebing Breksi kalian dapat melihat panorama kota Jogja, Candi Prambanan, Candi Ijo, dan runaway Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Buat kalian yang suka sunsetsunset di Tebing Breksi adalah salah satu sunset terbaik di Jogja. Langit yang mulai berwarna orange dan hitam ditambah jejeran lampu runaway Bandara yang mulai menyala, dijamin kalian gak akan tahan untuk mengabadikan gambar!

image
image

                                      View dari Puncak Tebing

image

                                        Ornamen di Tebing Breksi

Di area Tebing Breksi ini juga terdapat area luas  untuk pertunjukan kesenian, di sisi kanan kirinya dilengkapi tempat duduk melingkar, namanya Tlatar Seneng.

image

                                            Tlatar Seneng

image

                                 Sunset di Tebing Breksi

So, Tebing Breksi bisa jadi list destinasi kalian yang mau liburan ke Jogja! Bagus, dekat, dan murah! Hehe. Happy holiday!

image

Saran :

– Bawa payung atau topi kalo berencana kesini siang hari, karena lokasinya relatif gersang

– Bawa air minum karena kalian akan menaiki anak tangga yang melelahkan hahaha

– Gunakan sepatu yang tidak licin, agar tidak terpleset

– Bawa kamera dengan lensa tele kalo perlu, biar runaway Bandara Adisucipto kelihatan. Bagus lhoo kalo sunset :p

Photo by : Rindang & Mey

Editing photo and text by me.

Melepas Rindu di Gunung Gede

Ikut ke Gede ga?”

“Kapan”

“25-26 Des”

“Buset”

“Gmn?”

“Emang ga rame?”

Chat singkat yang dikirim Fariz berhasil membuat saya berfikir untuk tidak mungkin menolak ajakannya. Bahkan saya sudah lupa kapan terakhir mendaki Gunung Gede, seingat saya waktu pendakian perdana ketika saya masih menjadi senior aktif di organisasi SMA dulu, itu artinya kira-kira sudah 6 tahun lalu. Dan sekarang diajak ke Gede lagi bersama mereka, saya sudah membayangkan sepanjang jalur pendakian kita pasti akan bernostalgia bersama.

Awalnya saya sempat berfikir untuk tidak ikut dalam trip ini, pertama karena posisi saya sedang tidak di Jakarta yang artinya saya harus mengeluarkan kocek lebih banyak untuk tiket kereta PP Jogja-Jakarta, yang kedua saya meragukan kemampuan fisik saya karena jalur pendakian Gunung Gede terbilang tidak mudah, dan yang terakhir karena perizinan orang tua karena pendakian gunung kali ini saya berangkat dari rumah bukan dari kosan, itu artinya saya harus “menyusun proposal” agar bisa diizinkan untuk mendaki gunung.

Tapi ajakan ini pasti tidak datang dua kali, karena setiap kumpul bersama ajakan “Ayo dong naik gunung bareng lagi”“Kapan nih naik gunung lagi?”, “Ayo dong ke Gede lagi!”, semua belum ada satu pun yang terealiasi. Mumpung ada yang ajak, dan ada teman-teman yang bersedia me-manage perjalanan, saya pun langsung mengirim foto kartu identitas untuk syarat pendaftaran SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) TNGP. Pendaftaran untuk pendakian Gunung Gede atau Pangrango dilakukan via online dan pembayaran SIMAKSI juga dilakukan via transfer (lebih lengkapnya cek disini). Oiya, selain identitas, surat keterangan sehat juga diperlukan untuk syarat pendaftaran simaksi. SIMAKSI sementara kemudian harus ditukar di basecamp Cibodas.

Honestly, trip kali ini sedikit ada dramanya, apalagi kalau bukan urusan yang paling sensitif, finance hehe. Dari hampir 20 orang yang di-list bersedia ikut, sampai hanya tersisa 13 orang yang benar-benar ikut. There is missed-communication, between the finance and details about it. But it clear, dude.

24 Januari 2016, tiket kereta tujuan Jakarta sudah ditangan, simaksi TNGP sudah beres, dan perlengkapan pendakian pun sudah lengkap. Saya berangkat menuju Jakarta, tiba di Stasiun Jatinegara dini hari, dijemput Fariz menuju rumahnya untuk me-loading semua perlengkapan yang saya bawa dari Jogja untuk di re-packing disana. Semua carrier yang akan kami bawa esok hari sudah berdiri dan tertata rapi.

25 Januari 2016, kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB. Kami mengambil jalur ke arah Cibodas lewat Jonggol, untuk menghindari macet karena jalur buka-tutup kawasan Puncak disaat long-weekend. Beberapa teman yang naik motor sudah tiba terlebih dahulu di villa. Karena peraturan dari TNGP tidak diizinkan mendaki pada malam hari, kami beristirahat dahulu malam ini di villa untuk berbelanja beberapa logistik yang masih kurang, dan re-packing perlengkapan lain.

image

Siap berangkat! (Captured by Papanya Fariz)

26 Januari 2016.

Dari Villa kami berangkat menuju basecamp Gunung Putri pukul 06.00 pagi menggunakan dua angkot kuning. Kami tidak menggunakan mobil pribadi ke basecamp, karena jalur turun kami berbeda. Kami naik lewat jalur Gunung Putri dan turun lewat jalur Cibodas. Setelah semua carrier diturunkan dari angkot, kami berdoa bersama. Dari titik turun angkot kami berjalan menanjak menuju pos pemeriksaan SIMAKSI jalur Gn. Putri. Jalurnya masih berupa semen setelah itu tanah kebun, kanan kiri jalur berupa pemukiman warga kemudian kebun sayuran warga. Butuh waktu sekitar 15 menit, tapi nafas sudah mulai tak teratur. Sejenis jalur “pemanasan” bagi kami yang sudah lama tidak angkat carrier hehe.

Di pos SIMAKSI kami harus melaporkan kepada petugas berapa orang yang ikut dalam rombongan, petugas memastikan perlengkapan pendakian memenuhi standar (sepatu gunung, jas hujan, jaket tebal, dll), logistik cukup untuk dua hari dan tidak membawa barang-barang berbahaya. Petugas juga memberikan nasihat apa saja yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama pendakian, termasuk membawa kembali sampah sampai turun.

image

Pos SIMAKSI.

Rombongan kami berjumlah 15 orang; tiga perempuan ada saya, Naya dan Juju; dan 12 lelaki ada Fariz, Marbot, Syam, Alfa, Maul, Bob, Alfa, Irfan, Aldio, Abeng, Fajar dan Mul. Selama pendakian rombongan terbagi tiga kelompok, kelompok paling depan Aldio dan Naya, kelompok kedua ada saya, Juju, Alfa dan Irfan, dan sisanya dikelompok belakang.

Perjalanan dimulai, kami berangkat pukul 09.00 pagi, satu jam dari pos SIMAKSI jalur yang kami lalui masih berupa tanah landai dan agak sedikit menanjak. Karena ada beberapa rombongan kami yang belum sarapan, kami sempat menggelar matras didekat sungai disekitaran kebun warga. Setelah batas hutan, perjalanan mulai benar-benar menanjak. Jalur berupa tanah, bebatuan dan akar-akar pohon. Pendakian via jalur Gunung Putri memang terkenal tidak ada bonusnya dan terjal, tetapi waktu yang ditempuh lebih cepat dibanding via Cibodas atau Salabintana. Sepanjang jalur Gunung Putri juga tidak ada sumber air, sumber air akan ada di sungai ketika sudah tiba di Surya Kencana.

image

Kanan-kiri kebun warga

image

Track awal pendakian.

Saya tidak hafal nama pos-pos di jalur ini, setiap ada saung atau bangunan beratap payung kami beristirahat sejenak, meluruskan kaki dan mengatur nafas. Mungkin sebagian besar dari kami ini adalah pendakian Gunung Gede via Gunung Putri bukan untuk pertama kalinya, karena selama di organisasi kami dulu kami sering lewat jalur ini, jadi kami masih ingat bagaimana medannya. Yang paling saya ingat (dan mungkin teman-teman lain) adalah track menuju Surya Kencana yang benar-benar tanpa ampun, tanah dan akar-akar pohon setinggi lutut. Dan yang paling dinantikan dari jalur tanpa ampun itu adalah setelahnya akan ada jalur batu landai, literally landai, menuju Surya Kencana. Jadi sepanjang jalan menuju Surya Kencana kami mengeluh “Manasih jalur landainya?”, “Mana sih ini gak landai-landai?”, “Ini kok ga ada ujungnya”.

image

Jalur mulai engap.

Menemukan tulisan “Simpang Meleber”, saya makin senang karena artinya Surya Kencana semakin dekat. Benar saja, tidak lama setelah pos Simpang Meleber, akhirnya kami bertemu dengan jalur landai yang sejak tadi kami tunggu-tunggu. Bahagia! Akhirnya ketemu si landai, jalan menuju Surya Kencana. Sepuluh meter menuju Surya Kencana, sudah banyak beberapa tenda yang berdiri, saya mempercepat langkah berlari kecil dan merekam video dengan kamera smartphone. Tiba di Surya Kencana? Luar biasa bahagiaaaa! Sedikit haru juga, finally bisa berkunjung ke tempat ini lagi! Padang Eldelweis yang sangaaaaat luas. Rasanya semua lelah hilang.

image

SURYA KENCANAAAAAA.

Dari pos SIMAKSI sampai ke Surya Kencana kelompok saya (Juju, Alfa dan Irfan) membutuhkan waktu sekitar enam jam, not bad, karena umumnya juga membutuhkan waktu enam jam sampai Surya Kencana. Kami mencari tenda Aldio dan Naya yang sudah tiba terlebih dahulu di Surya Kencana, mereka tiba pukul 12.00. Karena posisi tenda awal yang tidak bagus, kami memindahkan tenda ke pinggiran diantara pepohonan supaya ada penghalang angin. Badai angin dan hujan turun ketika kami sedang memindahkan barang dan mendirikan dua tenda, udara menjadi sangat dingin. Yang lain mendirikan tenda dan flysheet, saya memasak air untuk menghangatkan tubuh kami yang sudah benar-benar dingin karena hujan dan badai.

image

Surya Kencana

Sambil menunggu kelompok yang lain, kami memasak dan beristirahat sebentar. Kelompok terakhir tiba di tenda kami pukul 09.00 malam. Kami memasak untuk makan malam sambil bersendau gurau di depan tenda hingga pukul 02.00 dini hari.

image

Cooking.

27 Januari 2016. Pukul 06.00 pagi kami sudah bersiap untuk memasak sarapan, beberapa ada yang mengambil air di sungai, sisanya memasak. Cooking is the most enjoyable part when hiking! Pukul 11.00 kami mulai bersiap-siap packing untuk mendaki ke puncak. Untuk menuju puncak, kita melewati Surya Kencana, sepanjang Surya Kencana kami tidak berhenti mengabadikan gambar. Surya Kencana was awesome! Setelah itu kita berbelok ke arah kanan, awalnya jalur tanah selanjutnya jalur tangga berbatu, tanpa bonus landai. 

Dari Surya Kencana, butuh waktu sekitar 45 menit sampai ke puncak Gunung Gede. Ternyata sekarang di Puncak Gede ada warung yang menjual Pop Mie, gorengan dan minuman. Pop mie tergigih dan termahal yang pernah saya makan, seharga Rp. 15.000,- dan harus mendaki terlebih dahulu. Kami tiba di puncak pukul 12.00 siang, kabut sudah mulai turun, jadi kami tidak mendapatkan pemandangan Gunung Pangrango dan kawah. Saran untuk kalian sebaiknya ke puncak saat sunrise karena pemandangannya sangat bagus.

image

Pop Mie pelipur lelah di Puncak Gede.

image

Sampai di puncak, kabut.

image

Reach the peak!

Satu jam menikmati puncak dan pop mie, kami bersiap untuk turun, kami turun lewat jalur Cibodas. Apabila melewati jalur Cibodas, akan melewati “Tanjakan Setan”, salah satu jalur agak terjal untuk naik atau turun diperlukan tali untuk pegangan. Untungnya jalur Cibodas ini kami pilih untuk jalur turun, benar-benar tidak terbayang kalau saya harus naik lewat jalur ini, jalur akar dan tanahnya benar-benar menanjak. Menurut informasi, naik Gunung Gede sampai puncak via jalur Cibodas ini butuh waktu sekitar 10 jam.

image

Tanjakan setan.

Formasi turun kali ini saya bersama dengan Juju, Naya, Irfan, Marbot dan Abeng. Kami tiba di pos Kandang Badak sekitar pukul 03.00 sore. Kandang Badak hari itu lumayan agak ramai, banyak pendaki yang mendirikan tenda disana, karena ini adalah salah satu pos terakhir sebelum puncak Gunung Gede via Cibodas. Karena hari semakin sore dan mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan. Pos selanjutnya adalah Kandang Batu. Jalur dari Kandang Badak dan Kandang Batu kamu akan menemukan banyak sumber air, ada sungai dan air terjun. Kami tiba di pos air panas pukul 18.00 hampir maghrib.

image

Kandang Badak.

image

Jalur turun, dari puncak Gunung Gede via Cibodas.

image

Air terjun setelah Kandang Badak.

Kami beristirahat sejenak, menghangatkan kaki yang mulai nyut-nyutan di sumber mata air panas sambil menunggu adzan maghrib. Karena mulai gelap, kami memutuskan untuk menunggu teman-teman lain yang masih dibelakang, mereka tiba setengah jam kemudian. Beberapa sholat maghrib, beberapa membuat masakan untuk kami makan karena kami terakhir makan tadi siang di puncak dan hanya pop mie. Honestly, saya pribadi kurang begitu nyaman harus beristirahat dan menggelar matras di pos ini, walaupun berbentuk bangunan dengan atap, tetapi sangat kotor dan bau. Banyak sampah bekas bungkus makanan dan tissue.

image

Merendam kaki di sumber mata air panas.

Pukul 19.00 kami memulai perjalanan turun, kali ini kami harus menggunakan jas hujan dan senter karena hujan dan sudah gelap. Perjalanan turun kami memutuskan untuk tidak terbagi dalam kelompok lagi, kami jalan dalam satu rombongan tanpa jeda. Melewati air panas, kami harus ekstra berhati-hati karena kami harus memijakkan kaki di batu-batu diatas air panas, di jalur yang sempit, sebelah kiri kami jurang air panas dan hanya berpegangan dengan tali dipinggir jurang. Pos selanjutnya adalah Pemancangan, jalur ke kiri ke arah air terjun Ciberum, dan ke kanan ke arah Cibodas (turun). Di pos ini ada bangunan beratap, kami beristirahat sebentar untuk meluruskan kaki, karena kaki kami mulai cenat-cenut. Kami hanya beristirahat 15 menit, kami sangat menghindari beristirahat terlalu lama agar tidak mengantuk. Rombongan kami akhirnya terpecah, Aldio, Mul dan Fajar sudah ada didepan. Kelompok saya kali ini masih sama, ada Juju, Naya, Irfan, Marbot, dan Abeng. Yang lainnya ada dikelompok belakang, perjalanan mereka agak lama karena salah satu teman kami ada yang keseleo.

Selanjutnya kami melewati jembatan, dulu terakhir kesini jembatannya masih berupa kayu, sekarang sudah disemen dan dibentuk menyerupai gelonggongan kayu. Karena hari sudah gelap, kami harus tetap berhati-hati karena beberapa bagian jembatan ini sudah rusak dan berlubang. Kalau kamu melewati jembatan ini saat terang, pemandangannya sangat bagus, jembatan ini sering dijadikan spot foto pre-wedding. Panjang jembatan ini sekitar 1 km, jadi ini seperti bonus setelah melewati jalur berbatu yang membuat jempol kaki kami cenat-cenut.

Setelah melewati jembatan panjang, kami kembali bertemu dengan jalur batu yang licin. Masih dengan jas hujan yang kami kenakan, fisik kami mulai menurun. Beberapa kali kami berhenti dipinggir jalur untuk beristirahat, karena sudah tidak ada pos lagi. Masih sama juga, kami sangat menghindari beristirahat terlalu lama karena takut kebablasan tidur dan hari semakin larut malam.

Setelah lama perjalanan, akhirnya kami melewati Telaga Biru dikanan jalan. Telaga Biru bentuknya seperti danau kecil, konon katanya tempat ini sangat mistis. Ketika melewati Telaga Biru spontan kami langsung mempercepat langkah kami. Telaga Biru ini merupakan indikator kami dalam perjalanan turun, karena ini adalah check point terakhir sebelum kami tiba di pos akhir Cibodas. Jalur menuju pos akhir juga masih sama, masih bebatuan rapi dan licin, jalurnya cukup lebar jadi saya dan Juju bisa berjalan bersama. Kami merasa waktu perjalanan kami sudah sangat lama, fisik kami sudah benar-benar menurun, sudah ngantuk, beberapa kali kepleset, tetapi kami tidak kunjung tiba di pos terakhir. Kami pun sudah mulai berhalusinasi, setiap melihat rombongan pendaki lain yang akan naik, kami melihat itu adalah lampu penerangan dari pos terakhir, ternyata itu adalah senter penerangan dari rombongan lain.

Akhirnya kami tiba di pos terakhir, disana sudah ada Aldio, Mul dan Fajar yang sudah tiba dari pukul 09.00 malam. Saya melihat jam tangan, kelompok saya tiba pukul 12.00 malam. Kami langsung melepas carrier dan menggelar matras. Its like in heaven, bisa melepas jas hujan, melepas sepatu yang sudah basah dan meluruskan kaki. Sambil menunggu kelompok terakhir, kami beristirahat, beberapa sudah tertidur karena sangat lelah. Saya memilih terjaga, karena sejujurnya saya khawatir dengan teman-teman dibelakang.

Mereka tiba di pos terakhir pukul 03.00 pagi. Beristirahat sebentar, kami langsung menuju ke villa karena angkot yang kami sewa sudah menunggu dari pukul 11.00 malam. By the way, setelah turun kami harus melapor kembali ke pos SIMAKSI di Cibodas. Kami tiba di villa sekitar pukul 04.00 pagi. Karena sudah hari masuk kerja, Irfan langsung kembali kerumah tanpa istirahat, rumah dan kantornya cukup jauh. Sisanya memilih tidur karena sudah terlalu lelah, karena jam 07.00 pagi kami harus sudah pulang ke Jakarta, beberapa teman sudah mulai masuk kerja. Sayang sekali kami tidak sempat mampir ke warung teteh, langganan kami sejak jaman SMA, karena kami turun diwaktu orang tidur.

Percaya atau tidak, ini adalah perjalanan turun gunung terlama dan terjauh yang kami rasakan. Waktu turun dari pos air panas (setelah beristirahat untuk sholat maghrib dan makan) adalah 5 jam! Total kami turun berarti sekitar 12 jam, lama bangeeet, padahal fisik kami tidak terlalu lemah, kami juga tidak beristirahat terlalu lama di pos. Karena ini bukan perjalanan pertama kami ke Gunung Gede, kami juga masih ingat urutan pos dan berapa lama biasanya kami turun, tapi kali ini kami benar-benar perjalanan ini sangat panjaaaaanggg dan lamaaa. Tapi ya itulah mendaki gunung, kami tidak disarankan untuk negative thinking, sudah bisa tiba di pos terakhir dan bertemu kasur di vila saja kami sudah sangat bersyukur. Bersyukur tidak djemput ranger.

image

Angkatan 19 ❤

Ini adalah perjalanan mendaki gunung yang benar-benar melepaskan rindu saya sejak enam tahun lalu, pada teman-teman SMA, pada jalur menuju Surya Kencana yang mau mati, pada Surya Kencana, pada edelweis, pada Gunung Gede dan semua yang pernah saya dan teman-teman lalui beberapa tahun lalu. Biasanya, saya ke Gunung Gede untuk menjadi peserta, panitia atau membantu Diklatsar organisasi, tapi kali ini benar-benar naik gunung santai hehe.

image

Finally, we met again, Edelweis.

Bagi beberapa teman dekat dan yang pernah mendaki gunung bersama saya pasti sudah paham kalau saya sering sekali pusing dan engap saat mendaki, tidak jarang sampai muka saya pucat. Sering sekali saya meminta berhenti untuk duduk. Tapi dipendakian kali ini, saya sama sekali tidak merasakan hal itu. Tidak pusing, tidak engap. Bahkan pada mempertanyakan, “Kok lo tumben sih kuat?”, bahkan saya sendiri juga tidak tahu mau menjawab apa, latihan fisik saja baru saya lakukan H-2 sebelum ke Jakarta, itu juga hanya dua putaran GSP yang sudah membuat saya engap hehe.

image

Good people.

Terima kasih ya semua teman-teman dalam perjalanan ini, apalagi yang sudah bersedia me-manage perjalanan ini. Setelah perjalanan panjang, lama, dan melelahkan, akhirnya kita bisa tiba di rumah dengan selamat walau betis nyut-nyutan. Sampai jumpa di trip selanjutnya, good people!

image

Kopi Klothok Pakem

Jalan-jalan ke Jogja bosen sama kuliner yang itu-itu aja, paling kalo nggak gudeg, bakmi jowo, ya sate klathak, ya nggak sih? Jangan sedih, sekarang kamu bisa coba kuliner baru yang lagi hitz ini, namanya Kopi Klothok. Lokasinya ada di Jalan Kaliurang KM 16, Pakem. Bisa di track di google maps kok! Hehe.

Warung kopi klothok ini terletak di tepi sawah, bangunannya berbentuk joglo, suasananya homeeeey banget! Recommended banget buat kamu yang ingin coba suasana ngopi baru dan muraaaahhhhh bangeet. Kopi Klothok emang apaan sih? Bedanya sama kopi biasa apa emang? Menurut hasil penelusuran, kopi klothok itu hampir sama seperti kopi tubruk, kopi bubuk dimasak diteko panas tanpa air sampai agak gosong kemudian kopi disiram air sampai mendidih.

image

Hidangan yang disajikan di warung ini nggak hanya kopi saja, ada wedang jahe gepuk, pisang goreng, hingga makanan berat seperti nasi, telur dan sayur lodeh.

Warung kopi klothok ini sistemnya prasmanan, setelah sampai di lokasi kamu bisa cari tempat duduk, terus menuju ke dapur untuk mengambil makanan kamu sendiri. Ambil nasi semau kamu, pilih sayur lodeh sesuka kamu, pilih lauk juga sesuka kamu. Pokoknya kamu disini makan sampai puasss! Tapi harus dihabiskan, karena makanan disini tidak boleh dibawa pulang, jadi jangan kalap ambil makan, ya. Makanan disini semuanya disajikan masih hangat, jadi kalau ada makanan yang kamu mau, seperti telur crispy, pindang atau tempe tidak ada di meja prasmanan tidak tersedia, kamu jangan malu untuk menanyakan ke pelayannya ya, karena bisa saja makanannya sedang dimasak.

image
image
image
image

Makanan wajib yang harus dipesan adalah pisang goreng! Pisang gorengnya juaraaaa!!! Para pengunjung rela antri di dapur untuk mendapatkan seporsi pisang goreng ini. Harganya cuma Rp. 6.500,- seporsi, isi dua buah pisang. Pisang gorengnya bisa dijadikan cemilan bersama kopi atau dessert kamu. Jangan lupa minta remahan tepung gorengnya yaaaaa hehehe.

image

Nasi Megono di warung ini juga sangat dicari-cari oleh pengunjung, katanya enak. Sayang setiap kesini saya selalu kehabisan menu satu ini. Warung kopi klothok buka dari jam 09.00 sampai 22.00. Tapi kalo sudah jam 16.00 biasanya beberapa menu sudah habis, apalagi kalau weekend, tempat ini ramai sekali. 

image

Tempatnya yang nyaman, makanan yang enak, dan harganya yang sangat muraaaah, jadi wajar saja kalo tempat ini selalu ramai pengunjung! Happy holidaaaay!