Makan Mewah di Gunung Pangrango

First of all, sebenarnya buat orang-orang yang suka naik gunung, apa tujuan kalian naik gunung? Mengejar puncak, mencari pelajaran baru, atau demi foto baru buat feeds instagram? Hehe. Jujur buat saya pribadi, puncak bukanlah tujuan saya karena saya menyadari kemampuan fisik saya, dari pada memaksakan dan merepotkan orang lain. Sudah buka tenda dan masak cantik di pos terakhir saja rasanya saya sudah senang sekali. Karena bagi saya mendaki gunung juga bagian dari quality time bersama teman-teman, tanpa sinyal dan alat komunikasi, kita semua bebas bercerita bahkan membahas orang lain ha ha ha. Kadang saya juga suka mencari tau sifat asli partner saya saat itu. Saya selalu suka mendaki bersama teman baru, selain pastinya mendapat teman baru, saya juga akan dapat pelajaran baru dari mereka. Tapiiiii, saya juga bukan orang yang mudah diajak mendaki gunung dengan orang ‘baru’, harus ada minimal satu orang yang sebelumnya pernah mendaki bersama saya. Kenapa? Ya karena alasan fisik, nggak lucu dong nyusahin orang yang saya baru kenal hahaha.

Pendakian kali ini pertama kalinya saya mendaki gunung bersama mereka, kecuali Fatkhan. Like a stranger, mereka semua dalam naungan satu korsa hahaha. Perjalanan yang bisa dibilang cukup matang, persiapan sebulan dari setelah lebaran. Persiapan yang cukup lama tapi tidak membuat semua berjalan mulus, ada saja halangannya, banyak bahkan haha. Dari mulai kuota pendakian yang sebelumnya masih cukup tiba-tiba saat webpage TNGGP di-refresh kuota menjadi penuh, mau nggak mau kita mengandalkan calo agar tetap bisa naik akhir bulan. Biaya SIMAKSI yang normalnya hanya Rp. 34.000, melalui calo kami jadi harus membayar Rp. 85.000 per-orang tetapi itu sudah termasuk SIMAKSI, surat keterangan sehat dan materai. Menurut saya itu cukup worth it, karena kita tidak perlu bolak-balik ke Cibodas mengurus SIMAKSI dan surat sehat di Puskesmas sana. Kita hanya duduk manis dan semuanya beres hehe.

image

Peserta pendakian ini seperti pemain sepak bola, banyak subtitute-nya. Awal pendaftaran SIMAKSI kami berdelapan sampai satu per satu gugur karena ada acara keluarga sampai interview kerja. Mencari pemain pengganti, semua nama disebut, semua yang sedang berada di Jakarta diajak, sampai akhirnya hanya tujuh orang yang bertahan. Kami yang bertahan, Saya, KanaFatkhanHadiPras, dan pemain pengganti Ika (yang selanjutnya akan dipanggil Mendes) dan Oki.

image

Berhubung saya dan Mendes masih di Jogja, jadi kami harus ke Jakarta terlebih dahulu, teman-teman yang lain sudah di Jakarta. Tiket ke Jakarta sudah dipesan seminggu sebelumnya, kami naik kereta ekonomi Progo tanggal 28 Juli jam 14.45 sore. Semua perlengkapan dan logistik sudah masuk dalam list dan carrier, dari keperluan kelompok sampai pribadi. Dari spirtus yang ngambil di laboratorium sampai kebab dan roti maryam yang harus dibeli online. Sampai di tanggal 28 Juli, saya sudah mengestimasi waktu berangkat dari kosan pukul 14.00 (karena biasanya perjalanan dari kosan menuju stasiun Lempuyangan tidak sampai 30 menit). Namun Tuhan berkehendak lain, kita manusia hanya bisa berencana. Setiap perempatan lampu merah siang itu cukup padat, bahkan dapat dikatakan sangat padat. Awalnya saya panik sampai harus terus melirik jam ditangan kiri, tapi karena sudah pasrah karena padatnya lalu lintas siang itu, saya jadi pasrah. Bahkan sudah tidak panik dan takut ketinggalan kereta lagi. Benar saja, saya tiba di stasiun pukul 14.42, sama halnya dengan saya ternyata banyak juga penumpang kereta Progo yang hampir ketinggalan kereta. Semua berlari agar tidak tertinggal, tetapi saya tidak. Saya masih mencari Mendes, saya fikir saya sudah paling telat dan dia sudah duduk manis didalam dengan memegang tiket kami. Tapi nyatanya, saya masih bisa mencetak tiket kami di self-ticketing stasiun, itu artinya dia belum tiba. Saya membuka HP, dan benar dia masih terjebak di padatnya lalu linta Jogja siang itu. Last call untuk para penumpang kereta Progo, kereta sudah membunyikan klakson tanda sebentar lagi kereta akan berangkat, tapi saya masih duduk dibangku boarding room menunggu Mendes. Sebenarnya saya masih bisa naik kereta Progo, tapi khawatir kalau saya tinggal, dia tidak jadi ikut mendaki gunung bersama kami, makin dikit dong pesertanya. Mendes tiba di stasiun kami langsung mengantri diloket untuk membeli tiket kereta ke Jakarta jam selanjutnya, Alhamdulillah masih rezeki, masih ada tiket kereta Gajahwong jam 18.00 dengan harga 220.000. Kalau ditotal, kami sudah mengeluarkan biaya untuk tiket hampir 350.000 sekali jalan, seharga pesawat ha ha ha. Lumayan jadi bahan hiburan di grup.

Kami semua berangkat dari Jakarta, kecuali Fatkhan dari Bandung. Kami berangkat dari rumah saya jam 13.00, menggunakan mobil Pras yang tanpa alasan hari itu AC nya mati. Jadilah kami menikmati perjalanan tanpa AC, mengurangi global warming. Lewat tol Jagorawi, dan kami terjebak saat jalur menuju Puncak sedang ditutup (berlaku satu arah ke Jakarta), mau nggak mau kami harus menunggu sampai jam 17.00, saat itu masih jam 15.30. Kami melipir ke rest area dekat Ciawi, packing ulang barang bawaan, jajan dan sekalian sholat. Kesialan masih berlanjut, sambil menunggu jalur dibuka kami duduk-duduk lesehan ngobrol disamping mobil, tiba-tiba mobil yang sedang parkir di depan kami maju menabrak Kana. Si pengemudi beralasan tidak melihat kami didepan. Kami meninggalkan rest areajam 17.00 dengan kondisi lalu lintas yang masih padat sampai daerah Cisarua.

Tiba di Cibodas, hujan deras, kami mampir ke warung Kang Angus untuk mengambil SIMAKSI dan makan malam. Semua barang sudah masuk carrier dan aman, kami memulai pendakian pukul 21.00. Kami harus melapor terlebih dahulu ke kantor untuk menyerahkan SIMAKSI yang letaknya kira-kira lima menit berjalan dari warung Kang Angus. Di kantor SIMAKSI saat itu ada tiga orang penjaga, kami menyerahkan SIMAKSI dan disuruh menuliskan barang bawaan apa saja yang akan menghasilkan sampah, diantaranya air mineral, tissue basah, tissue kering, bungkus makanan, korek, dll. Kalian dilarang membawa parang, tissue basah, dan sabun dkk. Saran saya, jangan terlalu jujur, bukan berarti kalian harus berbohong, bohong tetapi bertanggung jawab (gimana tuh?). Semua tissue basah yang kami bawa, kami serahkan kepada penjaga, dan dibuang begitu saja ditempat sampah didepan mata kepala kami, sedih haha. Oiya kenapa tissue basah dilarang dibawa? Karena tissue basah sifatnya sangat sulit dimusnahkan, coba saja kalian bakar tissue basah kalian hehe.

Setelah urusan SIMAKSI di pos selesai, kami memulai pendakian. Jalur pendakian melalui jalur Cibodas ini jalurnya berupa bebatuan, karena habis hujan jadi agak sedikit licin. Disetiap pos kami beristirahat sejenak untuk minum atau makan cemilan coklat. Fisik kami lumayan cukup baik, hanya saja paha dan betis setelah dua jam pendakian lumayan berasa capeknya. Cuaca saat kami mendaki juga alhamdulillah tidak hujan. Setelah pos Rawa Denok, paha benar-benar terasa nyut-nyutan sampai Hadi juga kena kram. Dijalur setelah Pos Batu Kukus II kami bertemu dengan rombongan pendaki yang turun, mereka berpesan “Mas tadi ada hewan seperti kucing disana, hati-hati ya Mas”. Pesan mereka membuat kami was-was, bagi yang paham pasti tau kalau yang dimaksud adalah macan atau sejenisnya. Gara-gara pesan tadi, sepanjang jalan saya jadi berimajinasi kalau itu adalah macan, siapa yang akan dijadikan mangsa diantara kami bertujuh? Apakah besok kami akan masuk headline koran? Hahaha. Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, kami sudah mulai mengantuk, kami memutuskan untuk mencari pos terdekat yang bisa untuk membuka tenda. Awalnya kami berencana ngecamp di Kandang Badak, tetapi karena sudah mengantuk kami memutuskan untukngecamp di pos setelah Batus Kukus III dan sebelum Air Panas, ada lahan datar dan cukup luas.

image
image

Para lelaki membuat tenda, saya dan Kana membuat minuman hangat. Setelah semua tenda beres, alat masak dipindahkan kedepan tenda besar (kapasitas 5 orang) karena didepannya ada garasinya haha. Untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak terlalu lapar tetapi harus diisi, kami memasak roti maryam yang diberi topping susu kental manis dan mencicil memasak nasi dan lychee jelly untuk besok pagi. Kami beristirahat.

image

Pukul 08.00 pagi kami sudah terbangun, udara pagi di gunung memang sangat dirindukan bagi kami para warga ibu kota dengan seabrek polusinya haha. Kami mulai memasak untuk sarapan. Merebus bahan sayuran untuk capcay dan memanaskan ayam goreng tepung yang nantinya akan diberi saus barbeque dan lilitan keju mozarella. Kami berbagi tugas, saya, Kana, Fatkhan dan Pras memasak lalu Hadi dan Oki mengambil air di sumber mata air terdekat. Lalu Mendes ngapain? Haha. Menu kami pagi ini cukup mewah, nasi, telur asin, capcay, chicken rolling cheese ala Ojju, dan lychee jelly. Karena menu yang cukup instagram-able, kami harus menahan untuk tidak memakannya terlebih dahulu, kami sibuk memfoto selama satu jam. Setelah selesai foto makanan dan foto bersama, kami baru bisa menyantap makanan kami. Luar biasa nikmat, makanan enak, udara segar, suara burung, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Alhamdulillah.

image
image
image
image
image

Setelah kenyang, acara selanjutnya bebas. Pras, Kana dan Oki lanjut tidur. Saya, Mendes dan Fatkhan ke air panas dan air terjun dekat Kandang Batu. Jalur air panas lumayan ramai, bahkan cenderung ‘macet’, karena setiap orang yang lewat jalur ini harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset ke aliran air apans, amit-amitsampai masuk jurang di kanan jalan. Kolam air panas juga cukup ramai, banyak orang yang berendam seperti sedang “jacuzzi”, mungkin mereka melepas lelah setelah perjalana dari puncak Gede atau Pangrango. “Enak juga ya ternyata naik tanpa bawa carrier berat, badan jadi enteng”, itulah obrolan kami bertiga dijalan menuju air terjun. Kapan lagi naik sambil lari hahaha. Melewati pos Kandang Batu ternyata cukup ramai, banyak pendaki yang ngecamp disana. Air terjun yang kami tuju lokasinya tidak jauh dari Kandang Batu, hanya menempuh 15 menit perjalanan dari camp kami sebelum air panas. Di air terjun tidak terlalu ramai seperti di pos air panas, hanya ada beberapa pendaki yang sedang beristirahat sholat dipinggiran. Kami bertiga berfoto-foto sebelum kembali ke camp.

image

Sampai dicamp, kami masak lagi (nggak ada kenyangnya), kami memasak beef kebab. Enak banget! Siang itu kami kedatangan tamu di tenda kami, junior-juniornya Hadi yang sedang pengembaraan menaklukan puncak Gunung Gede dan Pangrango, kami pun berbagi makan siang bersama mereka. Jam 02.30 sore kami berbenah packing barang, karena jam 03.00 kami harus turun agar sampai dibawah tidak malam dan tidak hujan. Diperjalanan turun, Kana dan Pras harus berada dibelakang karena engkel Kana cedera. Kami hanya berhenti agak lama di pos pertigaan Pamancangan Air Terjun Cibereum karena harus mereparasi sepatu Mendes yang akhirnya menyerah kepada keadaan. Setelah pos Pamancangan, rasanya ingin segera bertemu warung untuk selonjoran. Tapi nyatanya, perjalanan terasa jauh, tidak sampai-sampai, jalan sudah seperti zombie. Kami tiba di pos SIMAKSI sekitar pukul 19.00, melapor tim dan kami segera menuju warung Kang Angus.

image
image

Sampai di warung kami ganti pakaian, makan dan bercerita tentang perjalanan tadi. Oiya, saya belum bercerita kalau diantara kami ada yang peka terhadap mahluk lain. Kana pun bercerita, diperjalanan naik saat sedang istirahat di Pos Pamancangan, dia melihat banyak pendaki yang sedang beristirahat seperti tersesat, pendaki-pendaki itu eye-contact dengannya. Padahal disitu hanya ada kami bertujuh, tidak ada pendaki lain. Setelah pos Rawa Denok, Fatkhan merasakan ada mahluk lain di kanan jalan mengikutinya, dan ternyata Kana juga melihatnya. Ditempat kami ngecamp, didepan tenda ada bangunan 1x1m yang ternyata ada toliet yang hanya ada WC tanpa bak, Kana juga melihat ada mahluk lain dan untungnya tidak mengganggu kami. Diperjalanan turun dijalur bebatuan setelah jembatan, Kana juga diikuti oleh mahluk lain yang berjalan salip-salipan dengannya. Untungnya mereka bercerita setelah di warung, kebayang gak kalau mereka cerita pas masih dijalur pendakian? Hahaha. Kami pulang kerumah dari Cibodas sekitar jam 21.00, Fatkhan kembali ke Bandung naik motor (bukan orang emang), dan kami berenam kembali ke Jakarta.

image
image

Walaupun pendakian ke Pangrango ini belum sampai ke puncak, tapi pendakian ini bener-bener seru. Mendaki gunung bareng orang baru dan pastinya ada cerita baru juga. Semoga lain kali bisa dikasih kesempatan buat ke Puncak Pangrango, atau bahkan tempat lain yang gak kalah bagus. Geng mecin, kalian seruu! Thank you for reading!

TikaA stranger.

Drone shoot by Pras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s