Melepas Rindu di Gunung Gede

Ikut ke Gede ga?”

“Kapan”

“25-26 Des”

“Buset”

“Gmn?”

“Emang ga rame?”

Chat singkat yang dikirim Fariz berhasil membuat saya berfikir untuk tidak mungkin menolak ajakannya. Bahkan saya sudah lupa kapan terakhir mendaki Gunung Gede, seingat saya waktu pendakian perdana ketika saya masih menjadi senior aktif di organisasi SMA dulu, itu artinya kira-kira sudah 6 tahun lalu. Dan sekarang diajak ke Gede lagi bersama mereka, saya sudah membayangkan sepanjang jalur pendakian kita pasti akan bernostalgia bersama.

Awalnya saya sempat berfikir untuk tidak ikut dalam trip ini, pertama karena posisi saya sedang tidak di Jakarta yang artinya saya harus mengeluarkan kocek lebih banyak untuk tiket kereta PP Jogja-Jakarta, yang kedua saya meragukan kemampuan fisik saya karena jalur pendakian Gunung Gede terbilang tidak mudah, dan yang terakhir karena perizinan orang tua karena pendakian gunung kali ini saya berangkat dari rumah bukan dari kosan, itu artinya saya harus “menyusun proposal” agar bisa diizinkan untuk mendaki gunung.

Tapi ajakan ini pasti tidak datang dua kali, karena setiap kumpul bersama ajakan “Ayo dong naik gunung bareng lagi”“Kapan nih naik gunung lagi?”, “Ayo dong ke Gede lagi!”, semua belum ada satu pun yang terealiasi. Mumpung ada yang ajak, dan ada teman-teman yang bersedia me-manage perjalanan, saya pun langsung mengirim foto kartu identitas untuk syarat pendaftaran SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) TNGP. Pendaftaran untuk pendakian Gunung Gede atau Pangrango dilakukan via online dan pembayaran SIMAKSI juga dilakukan via transfer (lebih lengkapnya cek disini). Oiya, selain identitas, surat keterangan sehat juga diperlukan untuk syarat pendaftaran simaksi. SIMAKSI sementara kemudian harus ditukar di basecamp Cibodas.

Honestly, trip kali ini sedikit ada dramanya, apalagi kalau bukan urusan yang paling sensitif, finance hehe. Dari hampir 20 orang yang di-list bersedia ikut, sampai hanya tersisa 13 orang yang benar-benar ikut. There is missed-communication, between the finance and details about it. But it clear, dude.

24 Januari 2016, tiket kereta tujuan Jakarta sudah ditangan, simaksi TNGP sudah beres, dan perlengkapan pendakian pun sudah lengkap. Saya berangkat menuju Jakarta, tiba di Stasiun Jatinegara dini hari, dijemput Fariz menuju rumahnya untuk me-loading semua perlengkapan yang saya bawa dari Jogja untuk di re-packing disana. Semua carrier yang akan kami bawa esok hari sudah berdiri dan tertata rapi.

25 Januari 2016, kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB. Kami mengambil jalur ke arah Cibodas lewat Jonggol, untuk menghindari macet karena jalur buka-tutup kawasan Puncak disaat long-weekend. Beberapa teman yang naik motor sudah tiba terlebih dahulu di villa. Karena peraturan dari TNGP tidak diizinkan mendaki pada malam hari, kami beristirahat dahulu malam ini di villa untuk berbelanja beberapa logistik yang masih kurang, dan re-packing perlengkapan lain.

image

Siap berangkat! (Captured by Papanya Fariz)

26 Januari 2016.

Dari Villa kami berangkat menuju basecamp Gunung Putri pukul 06.00 pagi menggunakan dua angkot kuning. Kami tidak menggunakan mobil pribadi ke basecamp, karena jalur turun kami berbeda. Kami naik lewat jalur Gunung Putri dan turun lewat jalur Cibodas. Setelah semua carrier diturunkan dari angkot, kami berdoa bersama. Dari titik turun angkot kami berjalan menanjak menuju pos pemeriksaan SIMAKSI jalur Gn. Putri. Jalurnya masih berupa semen setelah itu tanah kebun, kanan kiri jalur berupa pemukiman warga kemudian kebun sayuran warga. Butuh waktu sekitar 15 menit, tapi nafas sudah mulai tak teratur. Sejenis jalur “pemanasan” bagi kami yang sudah lama tidak angkat carrier hehe.

Di pos SIMAKSI kami harus melaporkan kepada petugas berapa orang yang ikut dalam rombongan, petugas memastikan perlengkapan pendakian memenuhi standar (sepatu gunung, jas hujan, jaket tebal, dll), logistik cukup untuk dua hari dan tidak membawa barang-barang berbahaya. Petugas juga memberikan nasihat apa saja yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama pendakian, termasuk membawa kembali sampah sampai turun.

image

Pos SIMAKSI.

Rombongan kami berjumlah 15 orang; tiga perempuan ada saya, Naya dan Juju; dan 12 lelaki ada Fariz, Marbot, Syam, Alfa, Maul, Bob, Alfa, Irfan, Aldio, Abeng, Fajar dan Mul. Selama pendakian rombongan terbagi tiga kelompok, kelompok paling depan Aldio dan Naya, kelompok kedua ada saya, Juju, Alfa dan Irfan, dan sisanya dikelompok belakang.

Perjalanan dimulai, kami berangkat pukul 09.00 pagi, satu jam dari pos SIMAKSI jalur yang kami lalui masih berupa tanah landai dan agak sedikit menanjak. Karena ada beberapa rombongan kami yang belum sarapan, kami sempat menggelar matras didekat sungai disekitaran kebun warga. Setelah batas hutan, perjalanan mulai benar-benar menanjak. Jalur berupa tanah, bebatuan dan akar-akar pohon. Pendakian via jalur Gunung Putri memang terkenal tidak ada bonusnya dan terjal, tetapi waktu yang ditempuh lebih cepat dibanding via Cibodas atau Salabintana. Sepanjang jalur Gunung Putri juga tidak ada sumber air, sumber air akan ada di sungai ketika sudah tiba di Surya Kencana.

image

Kanan-kiri kebun warga

image

Track awal pendakian.

Saya tidak hafal nama pos-pos di jalur ini, setiap ada saung atau bangunan beratap payung kami beristirahat sejenak, meluruskan kaki dan mengatur nafas. Mungkin sebagian besar dari kami ini adalah pendakian Gunung Gede via Gunung Putri bukan untuk pertama kalinya, karena selama di organisasi kami dulu kami sering lewat jalur ini, jadi kami masih ingat bagaimana medannya. Yang paling saya ingat (dan mungkin teman-teman lain) adalah track menuju Surya Kencana yang benar-benar tanpa ampun, tanah dan akar-akar pohon setinggi lutut. Dan yang paling dinantikan dari jalur tanpa ampun itu adalah setelahnya akan ada jalur batu landai, literally landai, menuju Surya Kencana. Jadi sepanjang jalan menuju Surya Kencana kami mengeluh “Manasih jalur landainya?”, “Mana sih ini gak landai-landai?”, “Ini kok ga ada ujungnya”.

image

Jalur mulai engap.

Menemukan tulisan “Simpang Meleber”, saya makin senang karena artinya Surya Kencana semakin dekat. Benar saja, tidak lama setelah pos Simpang Meleber, akhirnya kami bertemu dengan jalur landai yang sejak tadi kami tunggu-tunggu. Bahagia! Akhirnya ketemu si landai, jalan menuju Surya Kencana. Sepuluh meter menuju Surya Kencana, sudah banyak beberapa tenda yang berdiri, saya mempercepat langkah berlari kecil dan merekam video dengan kamera smartphone. Tiba di Surya Kencana? Luar biasa bahagiaaaa! Sedikit haru juga, finally bisa berkunjung ke tempat ini lagi! Padang Eldelweis yang sangaaaaat luas. Rasanya semua lelah hilang.

image

SURYA KENCANAAAAAA.

Dari pos SIMAKSI sampai ke Surya Kencana kelompok saya (Juju, Alfa dan Irfan) membutuhkan waktu sekitar enam jam, not bad, karena umumnya juga membutuhkan waktu enam jam sampai Surya Kencana. Kami mencari tenda Aldio dan Naya yang sudah tiba terlebih dahulu di Surya Kencana, mereka tiba pukul 12.00. Karena posisi tenda awal yang tidak bagus, kami memindahkan tenda ke pinggiran diantara pepohonan supaya ada penghalang angin. Badai angin dan hujan turun ketika kami sedang memindahkan barang dan mendirikan dua tenda, udara menjadi sangat dingin. Yang lain mendirikan tenda dan flysheet, saya memasak air untuk menghangatkan tubuh kami yang sudah benar-benar dingin karena hujan dan badai.

image

Surya Kencana

Sambil menunggu kelompok yang lain, kami memasak dan beristirahat sebentar. Kelompok terakhir tiba di tenda kami pukul 09.00 malam. Kami memasak untuk makan malam sambil bersendau gurau di depan tenda hingga pukul 02.00 dini hari.

image

Cooking.

27 Januari 2016. Pukul 06.00 pagi kami sudah bersiap untuk memasak sarapan, beberapa ada yang mengambil air di sungai, sisanya memasak. Cooking is the most enjoyable part when hiking! Pukul 11.00 kami mulai bersiap-siap packing untuk mendaki ke puncak. Untuk menuju puncak, kita melewati Surya Kencana, sepanjang Surya Kencana kami tidak berhenti mengabadikan gambar. Surya Kencana was awesome! Setelah itu kita berbelok ke arah kanan, awalnya jalur tanah selanjutnya jalur tangga berbatu, tanpa bonus landai. 

Dari Surya Kencana, butuh waktu sekitar 45 menit sampai ke puncak Gunung Gede. Ternyata sekarang di Puncak Gede ada warung yang menjual Pop Mie, gorengan dan minuman. Pop mie tergigih dan termahal yang pernah saya makan, seharga Rp. 15.000,- dan harus mendaki terlebih dahulu. Kami tiba di puncak pukul 12.00 siang, kabut sudah mulai turun, jadi kami tidak mendapatkan pemandangan Gunung Pangrango dan kawah. Saran untuk kalian sebaiknya ke puncak saat sunrise karena pemandangannya sangat bagus.

image

Pop Mie pelipur lelah di Puncak Gede.

image

Sampai di puncak, kabut.

image

Reach the peak!

Satu jam menikmati puncak dan pop mie, kami bersiap untuk turun, kami turun lewat jalur Cibodas. Apabila melewati jalur Cibodas, akan melewati “Tanjakan Setan”, salah satu jalur agak terjal untuk naik atau turun diperlukan tali untuk pegangan. Untungnya jalur Cibodas ini kami pilih untuk jalur turun, benar-benar tidak terbayang kalau saya harus naik lewat jalur ini, jalur akar dan tanahnya benar-benar menanjak. Menurut informasi, naik Gunung Gede sampai puncak via jalur Cibodas ini butuh waktu sekitar 10 jam.

image

Tanjakan setan.

Formasi turun kali ini saya bersama dengan Juju, Naya, Irfan, Marbot dan Abeng. Kami tiba di pos Kandang Badak sekitar pukul 03.00 sore. Kandang Badak hari itu lumayan agak ramai, banyak pendaki yang mendirikan tenda disana, karena ini adalah salah satu pos terakhir sebelum puncak Gunung Gede via Cibodas. Karena hari semakin sore dan mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan. Pos selanjutnya adalah Kandang Batu. Jalur dari Kandang Badak dan Kandang Batu kamu akan menemukan banyak sumber air, ada sungai dan air terjun. Kami tiba di pos air panas pukul 18.00 hampir maghrib.

image

Kandang Badak.

image

Jalur turun, dari puncak Gunung Gede via Cibodas.

image

Air terjun setelah Kandang Badak.

Kami beristirahat sejenak, menghangatkan kaki yang mulai nyut-nyutan di sumber mata air panas sambil menunggu adzan maghrib. Karena mulai gelap, kami memutuskan untuk menunggu teman-teman lain yang masih dibelakang, mereka tiba setengah jam kemudian. Beberapa sholat maghrib, beberapa membuat masakan untuk kami makan karena kami terakhir makan tadi siang di puncak dan hanya pop mie. Honestly, saya pribadi kurang begitu nyaman harus beristirahat dan menggelar matras di pos ini, walaupun berbentuk bangunan dengan atap, tetapi sangat kotor dan bau. Banyak sampah bekas bungkus makanan dan tissue.

image

Merendam kaki di sumber mata air panas.

Pukul 19.00 kami memulai perjalanan turun, kali ini kami harus menggunakan jas hujan dan senter karena hujan dan sudah gelap. Perjalanan turun kami memutuskan untuk tidak terbagi dalam kelompok lagi, kami jalan dalam satu rombongan tanpa jeda. Melewati air panas, kami harus ekstra berhati-hati karena kami harus memijakkan kaki di batu-batu diatas air panas, di jalur yang sempit, sebelah kiri kami jurang air panas dan hanya berpegangan dengan tali dipinggir jurang. Pos selanjutnya adalah Pemancangan, jalur ke kiri ke arah air terjun Ciberum, dan ke kanan ke arah Cibodas (turun). Di pos ini ada bangunan beratap, kami beristirahat sebentar untuk meluruskan kaki, karena kaki kami mulai cenat-cenut. Kami hanya beristirahat 15 menit, kami sangat menghindari beristirahat terlalu lama agar tidak mengantuk. Rombongan kami akhirnya terpecah, Aldio, Mul dan Fajar sudah ada didepan. Kelompok saya kali ini masih sama, ada Juju, Naya, Irfan, Marbot, dan Abeng. Yang lainnya ada dikelompok belakang, perjalanan mereka agak lama karena salah satu teman kami ada yang keseleo.

Selanjutnya kami melewati jembatan, dulu terakhir kesini jembatannya masih berupa kayu, sekarang sudah disemen dan dibentuk menyerupai gelonggongan kayu. Karena hari sudah gelap, kami harus tetap berhati-hati karena beberapa bagian jembatan ini sudah rusak dan berlubang. Kalau kamu melewati jembatan ini saat terang, pemandangannya sangat bagus, jembatan ini sering dijadikan spot foto pre-wedding. Panjang jembatan ini sekitar 1 km, jadi ini seperti bonus setelah melewati jalur berbatu yang membuat jempol kaki kami cenat-cenut.

Setelah melewati jembatan panjang, kami kembali bertemu dengan jalur batu yang licin. Masih dengan jas hujan yang kami kenakan, fisik kami mulai menurun. Beberapa kali kami berhenti dipinggir jalur untuk beristirahat, karena sudah tidak ada pos lagi. Masih sama juga, kami sangat menghindari beristirahat terlalu lama karena takut kebablasan tidur dan hari semakin larut malam.

Setelah lama perjalanan, akhirnya kami melewati Telaga Biru dikanan jalan. Telaga Biru bentuknya seperti danau kecil, konon katanya tempat ini sangat mistis. Ketika melewati Telaga Biru spontan kami langsung mempercepat langkah kami. Telaga Biru ini merupakan indikator kami dalam perjalanan turun, karena ini adalah check point terakhir sebelum kami tiba di pos akhir Cibodas. Jalur menuju pos akhir juga masih sama, masih bebatuan rapi dan licin, jalurnya cukup lebar jadi saya dan Juju bisa berjalan bersama. Kami merasa waktu perjalanan kami sudah sangat lama, fisik kami sudah benar-benar menurun, sudah ngantuk, beberapa kali kepleset, tetapi kami tidak kunjung tiba di pos terakhir. Kami pun sudah mulai berhalusinasi, setiap melihat rombongan pendaki lain yang akan naik, kami melihat itu adalah lampu penerangan dari pos terakhir, ternyata itu adalah senter penerangan dari rombongan lain.

Akhirnya kami tiba di pos terakhir, disana sudah ada Aldio, Mul dan Fajar yang sudah tiba dari pukul 09.00 malam. Saya melihat jam tangan, kelompok saya tiba pukul 12.00 malam. Kami langsung melepas carrier dan menggelar matras. Its like in heaven, bisa melepas jas hujan, melepas sepatu yang sudah basah dan meluruskan kaki. Sambil menunggu kelompok terakhir, kami beristirahat, beberapa sudah tertidur karena sangat lelah. Saya memilih terjaga, karena sejujurnya saya khawatir dengan teman-teman dibelakang.

Mereka tiba di pos terakhir pukul 03.00 pagi. Beristirahat sebentar, kami langsung menuju ke villa karena angkot yang kami sewa sudah menunggu dari pukul 11.00 malam. By the way, setelah turun kami harus melapor kembali ke pos SIMAKSI di Cibodas. Kami tiba di villa sekitar pukul 04.00 pagi. Karena sudah hari masuk kerja, Irfan langsung kembali kerumah tanpa istirahat, rumah dan kantornya cukup jauh. Sisanya memilih tidur karena sudah terlalu lelah, karena jam 07.00 pagi kami harus sudah pulang ke Jakarta, beberapa teman sudah mulai masuk kerja. Sayang sekali kami tidak sempat mampir ke warung teteh, langganan kami sejak jaman SMA, karena kami turun diwaktu orang tidur.

Percaya atau tidak, ini adalah perjalanan turun gunung terlama dan terjauh yang kami rasakan. Waktu turun dari pos air panas (setelah beristirahat untuk sholat maghrib dan makan) adalah 5 jam! Total kami turun berarti sekitar 12 jam, lama bangeeet, padahal fisik kami tidak terlalu lemah, kami juga tidak beristirahat terlalu lama di pos. Karena ini bukan perjalanan pertama kami ke Gunung Gede, kami juga masih ingat urutan pos dan berapa lama biasanya kami turun, tapi kali ini kami benar-benar perjalanan ini sangat panjaaaaanggg dan lamaaa. Tapi ya itulah mendaki gunung, kami tidak disarankan untuk negative thinking, sudah bisa tiba di pos terakhir dan bertemu kasur di vila saja kami sudah sangat bersyukur. Bersyukur tidak djemput ranger.

image

Angkatan 19 ❤

Ini adalah perjalanan mendaki gunung yang benar-benar melepaskan rindu saya sejak enam tahun lalu, pada teman-teman SMA, pada jalur menuju Surya Kencana yang mau mati, pada Surya Kencana, pada edelweis, pada Gunung Gede dan semua yang pernah saya dan teman-teman lalui beberapa tahun lalu. Biasanya, saya ke Gunung Gede untuk menjadi peserta, panitia atau membantu Diklatsar organisasi, tapi kali ini benar-benar naik gunung santai hehe.

image

Finally, we met again, Edelweis.

Bagi beberapa teman dekat dan yang pernah mendaki gunung bersama saya pasti sudah paham kalau saya sering sekali pusing dan engap saat mendaki, tidak jarang sampai muka saya pucat. Sering sekali saya meminta berhenti untuk duduk. Tapi dipendakian kali ini, saya sama sekali tidak merasakan hal itu. Tidak pusing, tidak engap. Bahkan pada mempertanyakan, “Kok lo tumben sih kuat?”, bahkan saya sendiri juga tidak tahu mau menjawab apa, latihan fisik saja baru saya lakukan H-2 sebelum ke Jakarta, itu juga hanya dua putaran GSP yang sudah membuat saya engap hehe.

image

Good people.

Terima kasih ya semua teman-teman dalam perjalanan ini, apalagi yang sudah bersedia me-manage perjalanan ini. Setelah perjalanan panjang, lama, dan melelahkan, akhirnya kita bisa tiba di rumah dengan selamat walau betis nyut-nyutan. Sampai jumpa di trip selanjutnya, good people!

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s