Kali Kedua ke Gunung Merbabu (Jalur Gancik)

“Pokoknya gak bakal ke Merbabu lagi, gila jalur ke Sabana bikin mau mati”, kira-kira begitulah gumam batin saya tiga tahun lalu ketika menahan lapar, ngantuk dan lelah di jalur pendakian Merbabu menuju Sabana 2 via Selo. Ketika saya dan teman-teman harus membuka carrier ditengah jalur untuk mengambil roti dengan tangan kotor penuh tanah jam 12 malam itu. Karena lapar dan ngantuk sejatinya akan melahirkan emosi “Kita mau ngecamp dimanasih? Itu yang depan nggak berhenti jalan terus”, sambil duduk di tengah jalur sebelum tiba di Sabana 2.

image

Merapi dari Sabana 2 Merbabu

Tapi, dibalik kesengsaraan menapaki jalur pendakian Merbabu, Merbabu punya pemandangan yang luar biasa bagus. Bukit teletubbies, hamparan sabana dan edelweis, serta kegagahan Merapi yang berhadapan langsung dengan Merbabu, membuat saya berfikir ulang “Yakin gak mau ke Merbabu lagi?”

image

Halo Merapi. (Foto oleh Mey)

Jalur pendakian menuju puncak Merbabu yang umum dilalui yaitu via Wekas (Magelang), via Suwanting (Magelang), via Chuntel (Magelang), via Kopeng (Salatiga) dan Selo (Boyolali). Saya, Mey, Bima dan Ahmad memilih jalur pendakian via Selo karena sebelumnya kami sudah pernah melakukan pendakian lewat jalur ini. Dari Jogja menuju Selo Boyolali kira-kira membutuhkan waktu dua jam, via Ketep Pass. Untuk menuju basecamp Selo, tepat disebelah Polsek  di depan Pasar Selo, belok kiri lalu kita tinggal mengikuti jalur dan plang jalan. Di perempatan jalan ada pos tiket masuk dan petugas yang menanyakan tujuan kami. Petugas mengarahkan kami menuju basecamp pendakian via Gancik yang ternyata adalah jalur baru. Kami belum pernah ada yang mendaki lewat jalur ini, dan sama sekali tidak tahu kondisi jalur pendakiannya seperti apa. Harga tiket masuk hanya Rp. 7.500,- dan resmi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali.

image

Jalur pendakian Merbabu via Gancik (sumber google)

Kami menuju salah satu basecamp rumah warga paling dekat dengan pos tiket masuk tadi karena lahan parkir yang memungkinkan untuk parkir mobil. Tidak semua basecamp terdapat lahan untuk parkir mobil, sekalipun ada, hanya untuk dua sampai empat mobil saja. Jalan di depan basecamp terbilang sempit hanya dapat dilalui satu mobil, jadi harus bergantian. Untuk pendaki yang menggunakan motor dapat memarkirkan kendaraan sampai di basecamp terakhir. Deretan basecamp pendakian via Gancik ini menyediakan fasilitas kamar mandi, mushola, warung yang menyediakan keperluan pendakian, menjual makanan dan minuman bahkan dapat digunakan untuk bermalam apabila tidak ingin mendaki saat hari gelap. Harga makanan mulai dari Rp.7.000,- berupa mie rebus atau nasi telur, ada juga nasi goreng, nasi rames, dan masih banyak lagi. Tarif parkir mobil Rp. 20.000,- dan motor 5.000,-.

image

Jalur cor semen dari basecamp menuju Gancik Hill Top

Jalur awal pendakian dari basecamp berupa jalanan cor semen halus menanjak tanpa landai. Jalur yang bisa dibilang cocok untuk pemanasan fisik dan mental. And it is my weakness, jalur semen cor menanjak tanpa ampun adalah jalur yang saya tidak suka, karena sangat menguras tenaga dan ternyata saya red days hari pertama, bye. Kepala pusing sekali dan rasanya ingin kembali ke basecamp, minum teh hangat lalu tidur nyenyak dengan kehangatan sleeping bag, tapi ternyata itu akan terlihat sangat cupu gaes, saya tetap melanjutkan perjalanan sampai akhirnya fisik mulai beradaptasi. Di jalur ini akan ditemui banyak motor berlalu lalang walau hanya cukup untuk satu dua motor saja, warga setempat menyediakan jasa ojek untuk mengantarkan wisatawan ke wisata Gancik Hill Top. Kanan dan kiri jalur ini berupa perkebunan warga, kebun kol, bawang, cabai dan masih banyak lagi. Karena jalur yang sempit, bagi para pendaki sangat disarankan mengalah ke pinggir ketika motor lewat, hati-hati jangan sampai merusak tanaman di kebun warga.

image

Gancik Hill Top (Foto oleh Mey)

image

Spot foto di Gancik Hill Top (Foto oleh Ahmad)

Setelah 30 menit perjalanan cor semen, kami sampai di wisata Gancik Hill Top. Gancik Hill Top ini terdapat beberapa spot-spot foto berupa gardu pandang dan rumah pohon yang menyuguhkan pemandangan hamparan perkebunan warga dari atas dan background Gunung Merapi yang gagah. Deretan warung kecil milik warga setempat menjual makanan dan minuman berupa mie instan, bakso tusuk, susu dan kopi panas.

Setelah Gancik Hill Top, jalur masih berupa cor semen menanjak. Kami baru menemu jalur berupa tanah setelah satu jam perjalanan santai dari basecamp warga. Fisik saya mulai membaik, karena jalur tanah ini sedikit agak landai banyak bonusnya. Kanan kiri jalur ini sudah bukan perkebunan warga, tetapi vegetasi berupa hutan pinus. Dari basecamp menuju pos I, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

image
image

Pos I dan pos terakhir pengantaran ojek

Sepanjang jalur ini kami akan banyak mengalah ke pinggir jalur dengan ojek-ojek yang dapat mengantarkan para pendaki hingga pos I. Ojek-ojek ini menawarkan harga dari Rp. 20.000,- sampai Rp. 50.000,- tergantung tujuan. Pendaki bisa memilih dari basecamp  sampai ke pos I, dari basecamp sampai ke Gancik Hill, dari Gancik Hill sampai ke pos I, atau sebaliknya (turun). Harga untuk siang dan malam juga berbeda. Pendakian via Gancik juga dapat menggunakan porter, tarif untuk porter sekali perjalanan pulang-pergi (tektok) sampai pos III atau Sabana Rp. 250.000,- sampai Rp. 350.000,-. Tarif untuk pendakian bermalam (satu malam) menggunakan porter Rp. 450.000,-.

image

Jalur pos I menuju pos II (Foto oleh Ahmad)

Jalur dari pos I menuju pos II masih berupa jalur menanjak tetapi banyak landai, banyak bonusnya juga. Lumayan untuk memangkas waktu, berjalan lebih cepat. Di kiri jalan berupa jurang. Di jalur ini sudah jarang ditemui pohon-pohon besar, jadi akan terasa dingin angin. Sepanjang jalur, Gunung Merapi yang gagah berada di belakang kami. Apabila cuaca cerah saat malam hari taburan lampu kota di bawah dan milky way di langit akan menjadi pemandangan sepanjang pendakian. Pos I dengan ketinggian 2.050 mdpl, pos II ini memiliki ketinggian sekitar 2.100an mdpl. Dengan perjalanan 1,5 jam, kita hanya naik sekitar 100 mdpl? Sakit hati nggak? Hahaha.

image

Banyak plang di sepanjang jalur, sangat membantu

Setelah pos II, pohon-pohon sudah mulai berkurang, bukit teletubbies sudah mulai terlihat, itu artinya penyiksaan fisik juga semakin dekat hahaha. Jalur pendakian berupa tanah licin sangat menanjak, harus ekstra hati-hati melangkah. Untuk memudahkan melangkah bisa berpegangan dengan batang pohon, akar atau rumput di pinggir jalur. Kanan dan kiri jalur berupa padang rumput dan edelweis. Pos III ini adalah pos pertemuan antara jalur pendakian via Gancik dan Selo.

image

Jalur mulai menanjak setelah pos II

Setelah pos III, jalanan masih terus menanjak melewati bukit untuk menuju ke Sabana 1. Karena fisik yang mulai lelah butuh istirahat dan perut sudah mulai lapar, kami mendirikan tenda di puncak teletubbies. Tenda kami menghadap langsung ke Gunung Merapi.

image

Merapi view (Foto oleh Bima)

image

Sunrise (Foto oleh Mey)

image

Throwback pendakian Merbabu sebelumnya, dari bukit ini masih butuh waktu 1 jam untuk sampai Sabana 1, satu jam juga menuju Sabana 2. Sebaiknya mendirikan tenda di Sabana 2 karena Sabana 2 terhalang oleh bukit, tidak seperti Sabana 1. Kalo ingin ngecamp di Sabana 1, sebaiknya cari dibalik pohon agar tidak terlalu dingin karengan angin yang cukup kencang. Jalur pendakian menuju Sabana 1 dan Sabana 2 berupa tanah licin dan terjal, akan lebih banyak ngeluhnya daripadangelangkahnya hahaha.

image
image

Sabana 2 Gunung Merbabu

Perjalanan turun dari bukit teletubbies sampai ke basecamp memakan waktu lebih singkat tidak sampai 3 jam. Tetapi kaki lebih terasa nyut-nyutan ketika turun melewati jalanan cor semen yang cukup panjang. Tapi tenang, kalau tidak mau nyut-nyutan, bisa naik ojek dari pos I dengan tarif sekitar Rp. 30.000,- sampai ke basecamp. Sangat disarankan untuk memakai sun block, sarung tangan, topi, buff atau masker, kaos berlengan panjang dan juga celana panjang saat mendaki atau turun siang hari, karena jalur berupa tanah dan akar pohon untuk menghindari kulit terbakar sinar matahari dan terluka karena akar pohon. Carrier juga sebaiknya diberi rain cover agar tidak kotor karena jalur tanah.

image

Jalur tanah cukup licin dan menanjak

Jalur pendakian Merbabu via Gancik menurut penelusuran terbilang lebih cepat dan lebih mudah untuk pemula dibandingkan dengan Selo. Di awal pendakian jalur Gancik sangat menanjak, via Selo jalur berupa hutan pinus yang tidak terlalu menanjak tetapi cenderung landai. Kedua jalur ini akan bertemu di pos III, jalur Gancik akan lebih cepat, selisih satu jam dari jalur Selo. Kami tidak menemukan sumber mata air di jalur pendakian Gancik ini, tetapi beberapa warga bilang ada sumber mata air di Watu Tulis, pos III. Sebaiknya membawa air minum sesuai kebutuhan, dari basecamp sampai pos III membutuhkan waktu lebih dari 3 jam dengan jalur yang cukup menanjak (apalagi kalau siang hari panas), minimal satu orang membawa air minum 3L agar tidak kekurangan air ditengah jalan.

image

View dari bukit teletubbies

Merbabu benar-benar menawarkan landscape yang luar biasa bagus, bikin pengenselalu balik lagi, tapi jalur pendakian yang nanjak terus bikin berpikir ulang juga hahaha. Kalian harus banget berkunjung ke Merbabu, worth it. Jangan lupa bawa turun sampah kalian, sekecil apapun itu ya! Thank you for reading!

image
image

 Happy holiday!

Tika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s