Sunset di Bukit Watu Gupit Parangtritis

Kalian sedang berlibur di daerah Parangtritis, sudah mulai sore, tapi bingung mau ke mana? Jangan pulang duluuu! Kalian wajib memasukkan satu destinasi wisata ini kalau lagi di Parangtritis, menikmati sunset dari ketinggian, namanya Bukit Watu Gupit.

image

Bukit Watu Gupit ini terletak satu daerah dengan Bukit Parangdok, jalan menuju lokasi pun sama. Sekitar satu jam dari kota Jogja. Bisa search di google mapsBukit Watu Gupit Parangtritis. Jalan menuju Bukit Watu Gupit sudah beraspal dan bisa muat untuk dua mobil tapi harus pelan-pelan ketika berpapasan, ya. Karena lokasinya berada di ketinggian, jalan menuju Bukit Watu Gupit ini cukup menanjak jadi pastikan kendaraan kalian dalam kondisi baik.

image

Sebelum sampai di Bukit Watu Gupit, kami harus membayar retribusi di gerbang masuk Pantai Parangtritis sebesar Rp. 10.000,- per orang (padahal di tiket tertulisnya Rp. 9.750,- hehe). Lalu setelah belok kanan menuju lokasi, sebelum jalanan menanjak-nanjak, kami juga membayar retribusi untuk masuk Bukit Watu Gupit sebesar Rp. 5.000,- per orang. Kemarin kami naik mobil, biaya parkir mobil Rp. 10.000,-, untuk parkir motor mungkin sekitar Rp. 3.000,- atau Rp. 5.000,-. Lokasi parkir Bukit Watu Gupit cukup luas, mampu menampung banyak mobil dan motor. Di parkiran juga tersedia beberapa warung kecil yang menjual makanan dan minuman.

image
image

Jalur menuju puncak Bukit Watu Gupit berupa tangga-tangga semen yang sudah rapi, di kanan jalur terdapat warung agak besar yang menjual makanan dan minuman, ada musholla dan toilet juga. Setelah itu, di kanan dan kiri jalur ada bangku-bangku dan meja-meja untuk para wisatawan yang sudah memesan di warung tadi. Harga makanan dan minuman terbilang murah, mulai dari Rp. 5.000,- sampai Rp. 13.000,-. Menu makanan ada cemilan pisang goreng, tempe mendoan, dan ada juga nasi goreng. Kami memesan tempe mendoan seharga Rp. 8.000,-, masih hangat dan rasanya enak. View tempat makan ini langsung menuju ke Pantai Parangtritis.

image
image
image

Kalau tidak ingin jajan, kalian bisa jalan terus sampai ke puncak (tidak sampai lima menit). Puncak Bukit Watu Gupit ini berupa tanah lapang yang cukup luas. Para pengunjung bisa duduk-duduk di puncak, mencari spot terbaiknya sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan keindahan Pantai Parangtritis dari ketinggian. Untuk kalian yang mau update sosmed tidak perlu khawatir karena sinyal di sini lancar jaya.

image
image

Tips bagi kalian yang mau berkunjung ke Bukit Watu Gupit pastikan cuaca bagus agar bisa menikmati sunset yang indah, jangan sampai sudah sampai lokasi malahsunsetnya tertutup awan. Jangan lupa bawa uang tunai untuk tiket retribusi, bayar parkir dan jajan makanan karena di sini tidak bisa bayar pakai debit. Kalau mau hemat, bisa bawa bekal makanan dan minuman dari rumah. Usahakan tidak memakai pakaian yang tipis atau bawa jaket karena angin cukup kencang, jangan sampai pulang dari liburan masuk angin. Pastikan kendaraan juga dalam kondisi baik agar kuat menanjak, dan pastinya bensin cukup. Yang terakhir, jangan buang sampah sembarangan yaaa, biar kita sama-sama nyaman hehe.

image

 See you on next story,

Tika

TENTANG 2018

Terbangun di hari pertama 2019, menyaksikan keseruan para teman-teman menghabiskan malam tahun baru semalam di instagram lewat instagram desktopkarena smartphone saya tidak bisa menyala sejak kemarin pagi. Tulisan ini seharusnya saya publish dia akhir tahun kemarin, tapi belum terlambat kan kalo saya publish sekarang? Hehe. Tulisan tentang 2018.

Tidak ada pencapaian yang sangat “wah” untuk tahun 2018 bagi saya, tapi saya bersyukur saya masih bisa survived. Ada waktu merasakan sangat bahagia, ada juga waktu merasakan sangat bersedih sampai harus menghubungi sahabat yang seorang psikolog. Ada waktu bangun tidur tersenyum sumringah, ada waktu bangun tidur mata terlihat sembab. Di tahun 2018, masih harus struggling dengan penelitian study saya, semoga di tahun baru ini semua berjalan lancar dan ilmu yang saya pelajari dapat bermanfaat.

Di tahun 2018, tepatnya di bulan Februari saya memantapkan niat untuk berhijab dan berpakaian yang menutup aurat. Keputusan yang membuat beberapa orang bertanya-tanya “Jol, beneran?”“Tik, serius nih kerudungan?”. Sebenarnya saya sudah memiliki niat berhijab sudah beberapa tahun lalu, namun saya memulainya perlahan, dari mengurangi membeli pakaian-pakaian yang minim, jajan-jajan kerudung berbagai warna sampai akhirnya benar-benar yakin untuk menggunakannya. Lalu, ada juga yang bertanya, mengapa? Karena saya tidak ingin menjerumuskan Papa ke api neraka karena saya keluar rumah tidak menutup aurat. Keyakinan saya semakin mantap saat suatu hari sahabat saya yang lebih dulu berhijab memberi alasannya, dia berkata “Allah udah baik banget sama gue, Allah udah kasih banyak rezekinya sama gue, masa gue ngga mau ngejalanin salah satu perintahnya aja, Jol”Nusuk langsung ke hati. Alhamdulillah ya Allah, semoga saya selalu dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang selalu mengajak pada kebaikan menuju surga-Mu.

image

Bersyukur, masih bisa lebaran Idul Fitri di rumah bersama keluarga, lengkap masih ada Mama dan Papa. Ritual-ritual buka puasa bersama sahabat yang sudah seperti keluarga di Jakarta, bersama 19 dan Best. Bahkan sempat berbuka dengan kolak Sushi Tei yang super enak di kota kembang, sebelum kami pulang ke kampung halaman masing-masing.

Hari-hari di 2018 selama di Jogja, hampir setiap hari melewati rute Jogja-Moyudan karena salah satu lokasi penelitian saya di sana. Moyudan membuat hari-hari saya semakin hangat saat terasa jauh dari keluarga, obrolan bersama Pak Sutik dan Bu Retno yang selalu hangat, dan para ibu-ibu penenun yang semakin hari karyanya semakin terkenal dan bisa mengikuti pameran di berbagai tempat.

Tempat baru yang dikunjungi? Ada! Tentunya masih dengan ritual camping ceria hahaha.

image

Camping ceria di Gunung Putri Lembang

Dua lokasi camping ceria tahun ini ada di Bandung, Gunung Putri di Lembang dan Ranca Upas. Camping untuk menyalurkan hobi memasak, masih dengan partner camping yang itu aja.

image

Camping ceria di Ranca Upas

Ada hal baru juga yang di pelajari, salah satunya mengenai financial planning yang sudah saya upload di highlight instagram. Karena bebas dari masalah finansial adalah keinginan setiap orang, bismillah semoga 2019 ini tabungan dan investasi lancar, ya.

Tahun 2018 saya juga diisi dengan hari-hari bahagia para sahabat, ada yang dilamar dan melamar pacarnya, pernikahan, ada yang hamil dan ada pula yang sudah mendapatkan buah hati yang lucu-lucu. Bahagia! Satu persatu dari kami memasuki babak-babak baru kehidupan.

Banyak masalah yang ditangisi, banyak kejadian yang dikecewakan, tapi apapun yang terjadi di 2018 selalu ada hal-hal yang bisa saya syukuri. Masalah yang saya alami, tidak lebih besar dari yang alami si A.

Harapan untuk 2019; masalah yang datang membuat saya lebih kuat dan dewasa, bersyukur dalam keadaan bahagia ataupun sedih, bersyukur dalam keadaan lapang ataupun sempit, menjadi pribadi yang lebih baik, bisa membahagiakan diri sendiri dan orang-orang terdekat, selalu berbagi kebaikan dan kasih sayang, dan masih banyak harapan-harapan baik lainnya…

Semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah Yang Maha Berkehendak mengabulkan segala doa dan rencana baik kita di tahun 2019, setiap perbuatan kita diberkahi oleh-Nya, Allahuma Aamiin.

Selamat tahun baru, selamat menjadi lebih baik!

Berakhir Pekan di Gunung Putri Lembang

Gunung Putri Lembang, lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota Bandung, hanya sekitar satu jam, bisa dijadikan pilihan untuk refreshing saat akhir pekan.

image

Untuk jalur menuju Gunung Putri, dari arah kota Bandung bisa lewat jalan Setiabudhi kemudian ke arah Lembang. Tidak jauh setelah Hotel Panorama Lembang, google maps akan mengarahkan belok kiri menuju jalan yang agak kecil (tapi mobil bisa masuk, kok). Letak gangnya sebelum jalan tikungan ya, kalo sudah melewati tikungan berarti kelewatan hehe. Setelah belok kiri ke gang ini, sekitar 15 menit lagi akan menemukan pintu masuk untuk membayar retribusi dan menuju area parkir.

Retribusi untuk satu malam berkemah sebesar 17.500 dan parkir motor 10.000. Di area parkir terdapat deretan warung-warung yang menjual minuman hangat, makanan dan snack.

image

Jalur menuju puncak cukup mudah untuk pemula karena sudah ada jalur tanahnya. Camp area Gunung Putri juga luas untuk mendirikan banyak tenda, jangan lupa cari tempat yang datar dan tidak di jalur, ya. Apabila ingin menyalakan api unggun, bisa dipakai beberapa spot bekas api unggun sebelumnya (spot tanah yang sudah hitam).

image

Gunung Putri ini bisa menjadi salah satu destinasi jika sumpek dengan hiruk pikuk kota. Dari puncak Gunung Putri yang hanya membutuhkan waktu setengah jam dari area parkir, kita bisa menikmati Bandung dari ketinggian, menikmati sunset dan sunrise, atau hanya sekedar menyalurkan hobi memasak di depan tenda.

image

Selain hamparan hutan pinus, juga terdapat bangunan benteng bersejarah di Gunung Putri ini. Bagi para pecinta motor trail, bisa juga menikmati tracknya. Jangan khawatir, jalur untuk motor trail dan pendaki berbeda area, kok. Kita juga bisa pasang hammock diantara batang pohon pinus sambil mendengarkan playlist spotify favorit, dengan volume yang ngga mengganggu pengunjung lain pastinya hehe.

image
image

Jangan lupa membawa jaket, karena udara cukup dingin.

Happy holiday!

List Destinasi Liburan di Jogja

“Tik, ke Jogja enaknya kemana aja ya?”

“Jol, dari Pantai ke Borobudur jauh ga?”

“Kuliner di Jogja yang enak apa aja, Tik?”

image

Itu adalah sebagian pertanyaan yang selalu datang menjelang long-weeked, atau disaat teman-teman dari luar Jogja ingin berlibur atau hanya sekedar kunjungan kerja. Sejujurnya saya sangat suka kalo ada yang bertanya tentang hal-hal kaya gitu, saya bisa sharing info ke teman-teman tentang wisata dan kuliner apa saja yang ada di Jogja. Apalagi tempatnya sudah pernah saya kunjungi, saya pasti semangat kasih infonya. Berbeda hal kalo yang dipertanyakan masalah penginapan, hotel, dsb karena zaman sudah canggih, situs booking online sudah merajalela, bahkan ada fasilitas filter-price yang kemudian tinggal pilih from low to high, sorry to say kan bisa cek sendiri 🙂

image

Kebun Buah Mangunan

Buat teman-teman yang berencana berkunjung ke Jogja, saya coba bantu buatkanlist destinasi wisata dan kuliner apa saja yang wajib dikunjungi. Semua destinasi ini sudah sesuai dengan daerahnya masing-masing, tidak bercecer, jadi kalian tidak perlu repot bolak-balik dari Gunung Kidul ke Imogiri kemudian harus pergi lagi ke Jogja utara. Kalian bebas pilih destinasi, sesuai berapa lama rencana berlibur.

image
image

Saran saya, pilih satu daerah untuk satu hari. Misalnya, hari pertama ke daerah Gunung Kidul, hari kedua ke daerah Imogiri, hari ketiga city tour, dan seterusnya. Jangan memilih destinasi beda daerah untuk satu hari yang sama, misalnya dalam satu hari berencana lava tour Merapi kemudian lanjut ke Pantai di Gunung Kidul, lokasinya sangat jauh. Pastinya tidak akan efisien, buang waktu dan bensin.

image

Gumuk Pasir

image

Gunung Api Purba Nglanggeran

image

Blue Lagoon

“Kok banyak banget tempat wisatanya? Bingung nih”. Iya emang. Beberapa teman yang pernah berkunjung ke Jogja pernah bilang, gak cukup jalan-jalan di Jogja cuma seminggu. Dari semua list yang udah ada, bisa dicari tau di google atau social media. Tinggal cocokin deh, tempatnya emang sesuai sama kalian atau nggak.

image

Kalo kalian masih bingung dan butuh saran, dengan senang hati saya akan membantu. Beberapa tempat wisata pernah saya bahas sebelumnya, boleh cek link-link dibawah ya. Happy holiday!

Abrakadabra : An Artsy and Unique Hostel in Jogja

Abrakadabra located in Mantrijeron, two kilometers from Prawirotaman (the famous tourist area). The location is in residential area, so it is quiet. It close with art space. We can easily find eat and drink place. Every edge in here fill with art, with gravity. We will feel like at home, not in hostel.

image
image

Abrakadabra has four private rooms with own unique theme such as beach, jungle, gravity and junkyard. Each private rooms completed with comfort king size bed for two guests, fan, semi-outdoor private bathroom, desk with mirror and cute decorations for sure. The price for private room start from 170.000 IDR per night.

image
image
image
image

For backpacker or low-budget traveler, we can reserve the dormitory room. Abrakadabra has two dormitory rooms, only for female and female-male (mix). Each dormitory room fill bunk beds for six guests. Every bed completed with night-lamp, electric shock, small fan, hooks for towel, and curtain to keep our privacy. Every domitory rooms completed with two shared toilets and two showers. The price is cheaper than private room, it is not reach 100.000 IDR per night.

image

Every guests can use wifi with strength connection for free. Shared kitchen are available for the guest who wants cook and make their own drink, coffee or tea. Cold beer are available too. Don’t forget to keep the kitchen clean. In the morning, we will get delicious breakfast with Indonesia food. Yesterday, when we came, we get Nasi Uduk for breakfast from Mas Aby. And it is so delicious! The taste like Nasi Uduk from Jakarta, the sambal is so yummy! Not only Nasi Uduk, there are Nasi Kuning, Gudeg, Pecel, etc for breakfast.

image
image

Mas Jali, the owner, loves art and decorative plant. He start learning about plant philosophy. “Pasty is my campus” he said to me and it is funny. If you want to know, Pasty is the plant-market in Jogja hahaha! So, don’t amazed if you see a lot of plants in here. Plants everywhere! It made Abrakadabra feels so cool and fresh. The owner and all staffs (Mas Aby and the gank haha) are very humble and friendly. The staffs can organize your tours. Don’t shy or afraid to ask them, they will give you all information about Jogja and everything you need.

image

Abrakadabra has great environment to meet new friends, we all can sit and chit chat about everything with another guests in the small bar or outdoor pool areas. Majority the guests are international tourist who loves traveling, so we can share story about traveling. Sorry, no party here. It such a lovely vibes, tho?

image
image

The guests can smoking in the outdoor area, don’t smoking in the room to keep the freshness. Because the location is near residential area, so please no loud voice after 11 p.m. This place no suitable for children.

image

With the cheap price, easy to found the location, peaceful and quite area, unique and clean rooms, good ambience, kindly staffs, so don’t think twice to choose Abrakadabra as your awesome stay! Abrakadabra was so highly recommended home when you far away from your home. Book now and feel the great ambiance! Thank you for reading!

image

Cheers, 

Tika.

Kali Kedua ke Gunung Merbabu (Jalur Gancik)

“Pokoknya gak bakal ke Merbabu lagi, gila jalur ke Sabana bikin mau mati”, kira-kira begitulah gumam batin saya tiga tahun lalu ketika menahan lapar, ngantuk dan lelah di jalur pendakian Merbabu menuju Sabana 2 via Selo. Ketika saya dan teman-teman harus membuka carrier ditengah jalur untuk mengambil roti dengan tangan kotor penuh tanah jam 12 malam itu. Karena lapar dan ngantuk sejatinya akan melahirkan emosi “Kita mau ngecamp dimanasih? Itu yang depan nggak berhenti jalan terus”, sambil duduk di tengah jalur sebelum tiba di Sabana 2.

image

Merapi dari Sabana 2 Merbabu

Tapi, dibalik kesengsaraan menapaki jalur pendakian Merbabu, Merbabu punya pemandangan yang luar biasa bagus. Bukit teletubbies, hamparan sabana dan edelweis, serta kegagahan Merapi yang berhadapan langsung dengan Merbabu, membuat saya berfikir ulang “Yakin gak mau ke Merbabu lagi?”

image

Halo Merapi. (Foto oleh Mey)

Jalur pendakian menuju puncak Merbabu yang umum dilalui yaitu via Wekas (Magelang), via Suwanting (Magelang), via Chuntel (Magelang), via Kopeng (Salatiga) dan Selo (Boyolali). Saya, Mey, Bima dan Ahmad memilih jalur pendakian via Selo karena sebelumnya kami sudah pernah melakukan pendakian lewat jalur ini. Dari Jogja menuju Selo Boyolali kira-kira membutuhkan waktu dua jam, via Ketep Pass. Untuk menuju basecamp Selo, tepat disebelah Polsek  di depan Pasar Selo, belok kiri lalu kita tinggal mengikuti jalur dan plang jalan. Di perempatan jalan ada pos tiket masuk dan petugas yang menanyakan tujuan kami. Petugas mengarahkan kami menuju basecamp pendakian via Gancik yang ternyata adalah jalur baru. Kami belum pernah ada yang mendaki lewat jalur ini, dan sama sekali tidak tahu kondisi jalur pendakiannya seperti apa. Harga tiket masuk hanya Rp. 7.500,- dan resmi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali.

image

Jalur pendakian Merbabu via Gancik (sumber google)

Kami menuju salah satu basecamp rumah warga paling dekat dengan pos tiket masuk tadi karena lahan parkir yang memungkinkan untuk parkir mobil. Tidak semua basecamp terdapat lahan untuk parkir mobil, sekalipun ada, hanya untuk dua sampai empat mobil saja. Jalan di depan basecamp terbilang sempit hanya dapat dilalui satu mobil, jadi harus bergantian. Untuk pendaki yang menggunakan motor dapat memarkirkan kendaraan sampai di basecamp terakhir. Deretan basecamp pendakian via Gancik ini menyediakan fasilitas kamar mandi, mushola, warung yang menyediakan keperluan pendakian, menjual makanan dan minuman bahkan dapat digunakan untuk bermalam apabila tidak ingin mendaki saat hari gelap. Harga makanan mulai dari Rp.7.000,- berupa mie rebus atau nasi telur, ada juga nasi goreng, nasi rames, dan masih banyak lagi. Tarif parkir mobil Rp. 20.000,- dan motor 5.000,-.

image

Jalur cor semen dari basecamp menuju Gancik Hill Top

Jalur awal pendakian dari basecamp berupa jalanan cor semen halus menanjak tanpa landai. Jalur yang bisa dibilang cocok untuk pemanasan fisik dan mental. And it is my weakness, jalur semen cor menanjak tanpa ampun adalah jalur yang saya tidak suka, karena sangat menguras tenaga dan ternyata saya red days hari pertama, bye. Kepala pusing sekali dan rasanya ingin kembali ke basecamp, minum teh hangat lalu tidur nyenyak dengan kehangatan sleeping bag, tapi ternyata itu akan terlihat sangat cupu gaes, saya tetap melanjutkan perjalanan sampai akhirnya fisik mulai beradaptasi. Di jalur ini akan ditemui banyak motor berlalu lalang walau hanya cukup untuk satu dua motor saja, warga setempat menyediakan jasa ojek untuk mengantarkan wisatawan ke wisata Gancik Hill Top. Kanan dan kiri jalur ini berupa perkebunan warga, kebun kol, bawang, cabai dan masih banyak lagi. Karena jalur yang sempit, bagi para pendaki sangat disarankan mengalah ke pinggir ketika motor lewat, hati-hati jangan sampai merusak tanaman di kebun warga.

image

Gancik Hill Top (Foto oleh Mey)

image

Spot foto di Gancik Hill Top (Foto oleh Ahmad)

Setelah 30 menit perjalanan cor semen, kami sampai di wisata Gancik Hill Top. Gancik Hill Top ini terdapat beberapa spot-spot foto berupa gardu pandang dan rumah pohon yang menyuguhkan pemandangan hamparan perkebunan warga dari atas dan background Gunung Merapi yang gagah. Deretan warung kecil milik warga setempat menjual makanan dan minuman berupa mie instan, bakso tusuk, susu dan kopi panas.

Setelah Gancik Hill Top, jalur masih berupa cor semen menanjak. Kami baru menemu jalur berupa tanah setelah satu jam perjalanan santai dari basecamp warga. Fisik saya mulai membaik, karena jalur tanah ini sedikit agak landai banyak bonusnya. Kanan kiri jalur ini sudah bukan perkebunan warga, tetapi vegetasi berupa hutan pinus. Dari basecamp menuju pos I, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

image
image

Pos I dan pos terakhir pengantaran ojek

Sepanjang jalur ini kami akan banyak mengalah ke pinggir jalur dengan ojek-ojek yang dapat mengantarkan para pendaki hingga pos I. Ojek-ojek ini menawarkan harga dari Rp. 20.000,- sampai Rp. 50.000,- tergantung tujuan. Pendaki bisa memilih dari basecamp  sampai ke pos I, dari basecamp sampai ke Gancik Hill, dari Gancik Hill sampai ke pos I, atau sebaliknya (turun). Harga untuk siang dan malam juga berbeda. Pendakian via Gancik juga dapat menggunakan porter, tarif untuk porter sekali perjalanan pulang-pergi (tektok) sampai pos III atau Sabana Rp. 250.000,- sampai Rp. 350.000,-. Tarif untuk pendakian bermalam (satu malam) menggunakan porter Rp. 450.000,-.

image

Jalur pos I menuju pos II (Foto oleh Ahmad)

Jalur dari pos I menuju pos II masih berupa jalur menanjak tetapi banyak landai, banyak bonusnya juga. Lumayan untuk memangkas waktu, berjalan lebih cepat. Di kiri jalan berupa jurang. Di jalur ini sudah jarang ditemui pohon-pohon besar, jadi akan terasa dingin angin. Sepanjang jalur, Gunung Merapi yang gagah berada di belakang kami. Apabila cuaca cerah saat malam hari taburan lampu kota di bawah dan milky way di langit akan menjadi pemandangan sepanjang pendakian. Pos I dengan ketinggian 2.050 mdpl, pos II ini memiliki ketinggian sekitar 2.100an mdpl. Dengan perjalanan 1,5 jam, kita hanya naik sekitar 100 mdpl? Sakit hati nggak? Hahaha.

image

Banyak plang di sepanjang jalur, sangat membantu

Setelah pos II, pohon-pohon sudah mulai berkurang, bukit teletubbies sudah mulai terlihat, itu artinya penyiksaan fisik juga semakin dekat hahaha. Jalur pendakian berupa tanah licin sangat menanjak, harus ekstra hati-hati melangkah. Untuk memudahkan melangkah bisa berpegangan dengan batang pohon, akar atau rumput di pinggir jalur. Kanan dan kiri jalur berupa padang rumput dan edelweis. Pos III ini adalah pos pertemuan antara jalur pendakian via Gancik dan Selo.

image

Jalur mulai menanjak setelah pos II

Setelah pos III, jalanan masih terus menanjak melewati bukit untuk menuju ke Sabana 1. Karena fisik yang mulai lelah butuh istirahat dan perut sudah mulai lapar, kami mendirikan tenda di puncak teletubbies. Tenda kami menghadap langsung ke Gunung Merapi.

image

Merapi view (Foto oleh Bima)

image

Sunrise (Foto oleh Mey)

image

Throwback pendakian Merbabu sebelumnya, dari bukit ini masih butuh waktu 1 jam untuk sampai Sabana 1, satu jam juga menuju Sabana 2. Sebaiknya mendirikan tenda di Sabana 2 karena Sabana 2 terhalang oleh bukit, tidak seperti Sabana 1. Kalo ingin ngecamp di Sabana 1, sebaiknya cari dibalik pohon agar tidak terlalu dingin karengan angin yang cukup kencang. Jalur pendakian menuju Sabana 1 dan Sabana 2 berupa tanah licin dan terjal, akan lebih banyak ngeluhnya daripadangelangkahnya hahaha.

image
image

Sabana 2 Gunung Merbabu

Perjalanan turun dari bukit teletubbies sampai ke basecamp memakan waktu lebih singkat tidak sampai 3 jam. Tetapi kaki lebih terasa nyut-nyutan ketika turun melewati jalanan cor semen yang cukup panjang. Tapi tenang, kalau tidak mau nyut-nyutan, bisa naik ojek dari pos I dengan tarif sekitar Rp. 30.000,- sampai ke basecamp. Sangat disarankan untuk memakai sun block, sarung tangan, topi, buff atau masker, kaos berlengan panjang dan juga celana panjang saat mendaki atau turun siang hari, karena jalur berupa tanah dan akar pohon untuk menghindari kulit terbakar sinar matahari dan terluka karena akar pohon. Carrier juga sebaiknya diberi rain cover agar tidak kotor karena jalur tanah.

image

Jalur tanah cukup licin dan menanjak

Jalur pendakian Merbabu via Gancik menurut penelusuran terbilang lebih cepat dan lebih mudah untuk pemula dibandingkan dengan Selo. Di awal pendakian jalur Gancik sangat menanjak, via Selo jalur berupa hutan pinus yang tidak terlalu menanjak tetapi cenderung landai. Kedua jalur ini akan bertemu di pos III, jalur Gancik akan lebih cepat, selisih satu jam dari jalur Selo. Kami tidak menemukan sumber mata air di jalur pendakian Gancik ini, tetapi beberapa warga bilang ada sumber mata air di Watu Tulis, pos III. Sebaiknya membawa air minum sesuai kebutuhan, dari basecamp sampai pos III membutuhkan waktu lebih dari 3 jam dengan jalur yang cukup menanjak (apalagi kalau siang hari panas), minimal satu orang membawa air minum 3L agar tidak kekurangan air ditengah jalan.

image

View dari bukit teletubbies

Merbabu benar-benar menawarkan landscape yang luar biasa bagus, bikin pengenselalu balik lagi, tapi jalur pendakian yang nanjak terus bikin berpikir ulang juga hahaha. Kalian harus banget berkunjung ke Merbabu, worth it. Jangan lupa bawa turun sampah kalian, sekecil apapun itu ya! Thank you for reading!

image
image

 Happy holiday!

Tika.

Makan Mewah di Gunung Pangrango

First of all, sebenarnya buat orang-orang yang suka naik gunung, apa tujuan kalian naik gunung? Mengejar puncak, mencari pelajaran baru, atau demi foto baru buat feeds instagram? Hehe. Jujur buat saya pribadi, puncak bukanlah tujuan saya karena saya menyadari kemampuan fisik saya, dari pada memaksakan dan merepotkan orang lain. Sudah buka tenda dan masak cantik di pos terakhir saja rasanya saya sudah senang sekali. Karena bagi saya mendaki gunung juga bagian dari quality time bersama teman-teman, tanpa sinyal dan alat komunikasi, kita semua bebas bercerita bahkan membahas orang lain ha ha ha. Kadang saya juga suka mencari tau sifat asli partner saya saat itu. Saya selalu suka mendaki bersama teman baru, selain pastinya mendapat teman baru, saya juga akan dapat pelajaran baru dari mereka. Tapiiiii, saya juga bukan orang yang mudah diajak mendaki gunung dengan orang ‘baru’, harus ada minimal satu orang yang sebelumnya pernah mendaki bersama saya. Kenapa? Ya karena alasan fisik, nggak lucu dong nyusahin orang yang saya baru kenal hahaha.

Pendakian kali ini pertama kalinya saya mendaki gunung bersama mereka, kecuali Fatkhan. Like a stranger, mereka semua dalam naungan satu korsa hahaha. Perjalanan yang bisa dibilang cukup matang, persiapan sebulan dari setelah lebaran. Persiapan yang cukup lama tapi tidak membuat semua berjalan mulus, ada saja halangannya, banyak bahkan haha. Dari mulai kuota pendakian yang sebelumnya masih cukup tiba-tiba saat webpage TNGGP di-refresh kuota menjadi penuh, mau nggak mau kita mengandalkan calo agar tetap bisa naik akhir bulan. Biaya SIMAKSI yang normalnya hanya Rp. 34.000, melalui calo kami jadi harus membayar Rp. 85.000 per-orang tetapi itu sudah termasuk SIMAKSI, surat keterangan sehat dan materai. Menurut saya itu cukup worth it, karena kita tidak perlu bolak-balik ke Cibodas mengurus SIMAKSI dan surat sehat di Puskesmas sana. Kita hanya duduk manis dan semuanya beres hehe.

image

Peserta pendakian ini seperti pemain sepak bola, banyak subtitute-nya. Awal pendaftaran SIMAKSI kami berdelapan sampai satu per satu gugur karena ada acara keluarga sampai interview kerja. Mencari pemain pengganti, semua nama disebut, semua yang sedang berada di Jakarta diajak, sampai akhirnya hanya tujuh orang yang bertahan. Kami yang bertahan, Saya, KanaFatkhanHadiPras, dan pemain pengganti Ika (yang selanjutnya akan dipanggil Mendes) dan Oki.

image

Berhubung saya dan Mendes masih di Jogja, jadi kami harus ke Jakarta terlebih dahulu, teman-teman yang lain sudah di Jakarta. Tiket ke Jakarta sudah dipesan seminggu sebelumnya, kami naik kereta ekonomi Progo tanggal 28 Juli jam 14.45 sore. Semua perlengkapan dan logistik sudah masuk dalam list dan carrier, dari keperluan kelompok sampai pribadi. Dari spirtus yang ngambil di laboratorium sampai kebab dan roti maryam yang harus dibeli online. Sampai di tanggal 28 Juli, saya sudah mengestimasi waktu berangkat dari kosan pukul 14.00 (karena biasanya perjalanan dari kosan menuju stasiun Lempuyangan tidak sampai 30 menit). Namun Tuhan berkehendak lain, kita manusia hanya bisa berencana. Setiap perempatan lampu merah siang itu cukup padat, bahkan dapat dikatakan sangat padat. Awalnya saya panik sampai harus terus melirik jam ditangan kiri, tapi karena sudah pasrah karena padatnya lalu lintas siang itu, saya jadi pasrah. Bahkan sudah tidak panik dan takut ketinggalan kereta lagi. Benar saja, saya tiba di stasiun pukul 14.42, sama halnya dengan saya ternyata banyak juga penumpang kereta Progo yang hampir ketinggalan kereta. Semua berlari agar tidak tertinggal, tetapi saya tidak. Saya masih mencari Mendes, saya fikir saya sudah paling telat dan dia sudah duduk manis didalam dengan memegang tiket kami. Tapi nyatanya, saya masih bisa mencetak tiket kami di self-ticketing stasiun, itu artinya dia belum tiba. Saya membuka HP, dan benar dia masih terjebak di padatnya lalu linta Jogja siang itu. Last call untuk para penumpang kereta Progo, kereta sudah membunyikan klakson tanda sebentar lagi kereta akan berangkat, tapi saya masih duduk dibangku boarding room menunggu Mendes. Sebenarnya saya masih bisa naik kereta Progo, tapi khawatir kalau saya tinggal, dia tidak jadi ikut mendaki gunung bersama kami, makin dikit dong pesertanya. Mendes tiba di stasiun kami langsung mengantri diloket untuk membeli tiket kereta ke Jakarta jam selanjutnya, Alhamdulillah masih rezeki, masih ada tiket kereta Gajahwong jam 18.00 dengan harga 220.000. Kalau ditotal, kami sudah mengeluarkan biaya untuk tiket hampir 350.000 sekali jalan, seharga pesawat ha ha ha. Lumayan jadi bahan hiburan di grup.

Kami semua berangkat dari Jakarta, kecuali Fatkhan dari Bandung. Kami berangkat dari rumah saya jam 13.00, menggunakan mobil Pras yang tanpa alasan hari itu AC nya mati. Jadilah kami menikmati perjalanan tanpa AC, mengurangi global warming. Lewat tol Jagorawi, dan kami terjebak saat jalur menuju Puncak sedang ditutup (berlaku satu arah ke Jakarta), mau nggak mau kami harus menunggu sampai jam 17.00, saat itu masih jam 15.30. Kami melipir ke rest area dekat Ciawi, packing ulang barang bawaan, jajan dan sekalian sholat. Kesialan masih berlanjut, sambil menunggu jalur dibuka kami duduk-duduk lesehan ngobrol disamping mobil, tiba-tiba mobil yang sedang parkir di depan kami maju menabrak Kana. Si pengemudi beralasan tidak melihat kami didepan. Kami meninggalkan rest areajam 17.00 dengan kondisi lalu lintas yang masih padat sampai daerah Cisarua.

Tiba di Cibodas, hujan deras, kami mampir ke warung Kang Angus untuk mengambil SIMAKSI dan makan malam. Semua barang sudah masuk carrier dan aman, kami memulai pendakian pukul 21.00. Kami harus melapor terlebih dahulu ke kantor untuk menyerahkan SIMAKSI yang letaknya kira-kira lima menit berjalan dari warung Kang Angus. Di kantor SIMAKSI saat itu ada tiga orang penjaga, kami menyerahkan SIMAKSI dan disuruh menuliskan barang bawaan apa saja yang akan menghasilkan sampah, diantaranya air mineral, tissue basah, tissue kering, bungkus makanan, korek, dll. Kalian dilarang membawa parang, tissue basah, dan sabun dkk. Saran saya, jangan terlalu jujur, bukan berarti kalian harus berbohong, bohong tetapi bertanggung jawab (gimana tuh?). Semua tissue basah yang kami bawa, kami serahkan kepada penjaga, dan dibuang begitu saja ditempat sampah didepan mata kepala kami, sedih haha. Oiya kenapa tissue basah dilarang dibawa? Karena tissue basah sifatnya sangat sulit dimusnahkan, coba saja kalian bakar tissue basah kalian hehe.

Setelah urusan SIMAKSI di pos selesai, kami memulai pendakian. Jalur pendakian melalui jalur Cibodas ini jalurnya berupa bebatuan, karena habis hujan jadi agak sedikit licin. Disetiap pos kami beristirahat sejenak untuk minum atau makan cemilan coklat. Fisik kami lumayan cukup baik, hanya saja paha dan betis setelah dua jam pendakian lumayan berasa capeknya. Cuaca saat kami mendaki juga alhamdulillah tidak hujan. Setelah pos Rawa Denok, paha benar-benar terasa nyut-nyutan sampai Hadi juga kena kram. Dijalur setelah Pos Batu Kukus II kami bertemu dengan rombongan pendaki yang turun, mereka berpesan “Mas tadi ada hewan seperti kucing disana, hati-hati ya Mas”. Pesan mereka membuat kami was-was, bagi yang paham pasti tau kalau yang dimaksud adalah macan atau sejenisnya. Gara-gara pesan tadi, sepanjang jalan saya jadi berimajinasi kalau itu adalah macan, siapa yang akan dijadikan mangsa diantara kami bertujuh? Apakah besok kami akan masuk headline koran? Hahaha. Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, kami sudah mulai mengantuk, kami memutuskan untuk mencari pos terdekat yang bisa untuk membuka tenda. Awalnya kami berencana ngecamp di Kandang Badak, tetapi karena sudah mengantuk kami memutuskan untukngecamp di pos setelah Batus Kukus III dan sebelum Air Panas, ada lahan datar dan cukup luas.

image
image

Para lelaki membuat tenda, saya dan Kana membuat minuman hangat. Setelah semua tenda beres, alat masak dipindahkan kedepan tenda besar (kapasitas 5 orang) karena didepannya ada garasinya haha. Untuk mengisi perut yang sebenarnya tidak terlalu lapar tetapi harus diisi, kami memasak roti maryam yang diberi topping susu kental manis dan mencicil memasak nasi dan lychee jelly untuk besok pagi. Kami beristirahat.

image

Pukul 08.00 pagi kami sudah terbangun, udara pagi di gunung memang sangat dirindukan bagi kami para warga ibu kota dengan seabrek polusinya haha. Kami mulai memasak untuk sarapan. Merebus bahan sayuran untuk capcay dan memanaskan ayam goreng tepung yang nantinya akan diberi saus barbeque dan lilitan keju mozarella. Kami berbagi tugas, saya, Kana, Fatkhan dan Pras memasak lalu Hadi dan Oki mengambil air di sumber mata air terdekat. Lalu Mendes ngapain? Haha. Menu kami pagi ini cukup mewah, nasi, telur asin, capcay, chicken rolling cheese ala Ojju, dan lychee jelly. Karena menu yang cukup instagram-able, kami harus menahan untuk tidak memakannya terlebih dahulu, kami sibuk memfoto selama satu jam. Setelah selesai foto makanan dan foto bersama, kami baru bisa menyantap makanan kami. Luar biasa nikmat, makanan enak, udara segar, suara burung, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? Alhamdulillah.

image
image
image
image
image

Setelah kenyang, acara selanjutnya bebas. Pras, Kana dan Oki lanjut tidur. Saya, Mendes dan Fatkhan ke air panas dan air terjun dekat Kandang Batu. Jalur air panas lumayan ramai, bahkan cenderung ‘macet’, karena setiap orang yang lewat jalur ini harus ekstra hati-hati agar tidak terpleset ke aliran air apans, amit-amitsampai masuk jurang di kanan jalan. Kolam air panas juga cukup ramai, banyak orang yang berendam seperti sedang “jacuzzi”, mungkin mereka melepas lelah setelah perjalana dari puncak Gede atau Pangrango. “Enak juga ya ternyata naik tanpa bawa carrier berat, badan jadi enteng”, itulah obrolan kami bertiga dijalan menuju air terjun. Kapan lagi naik sambil lari hahaha. Melewati pos Kandang Batu ternyata cukup ramai, banyak pendaki yang ngecamp disana. Air terjun yang kami tuju lokasinya tidak jauh dari Kandang Batu, hanya menempuh 15 menit perjalanan dari camp kami sebelum air panas. Di air terjun tidak terlalu ramai seperti di pos air panas, hanya ada beberapa pendaki yang sedang beristirahat sholat dipinggiran. Kami bertiga berfoto-foto sebelum kembali ke camp.

image

Sampai dicamp, kami masak lagi (nggak ada kenyangnya), kami memasak beef kebab. Enak banget! Siang itu kami kedatangan tamu di tenda kami, junior-juniornya Hadi yang sedang pengembaraan menaklukan puncak Gunung Gede dan Pangrango, kami pun berbagi makan siang bersama mereka. Jam 02.30 sore kami berbenah packing barang, karena jam 03.00 kami harus turun agar sampai dibawah tidak malam dan tidak hujan. Diperjalanan turun, Kana dan Pras harus berada dibelakang karena engkel Kana cedera. Kami hanya berhenti agak lama di pos pertigaan Pamancangan Air Terjun Cibereum karena harus mereparasi sepatu Mendes yang akhirnya menyerah kepada keadaan. Setelah pos Pamancangan, rasanya ingin segera bertemu warung untuk selonjoran. Tapi nyatanya, perjalanan terasa jauh, tidak sampai-sampai, jalan sudah seperti zombie. Kami tiba di pos SIMAKSI sekitar pukul 19.00, melapor tim dan kami segera menuju warung Kang Angus.

image
image

Sampai di warung kami ganti pakaian, makan dan bercerita tentang perjalanan tadi. Oiya, saya belum bercerita kalau diantara kami ada yang peka terhadap mahluk lain. Kana pun bercerita, diperjalanan naik saat sedang istirahat di Pos Pamancangan, dia melihat banyak pendaki yang sedang beristirahat seperti tersesat, pendaki-pendaki itu eye-contact dengannya. Padahal disitu hanya ada kami bertujuh, tidak ada pendaki lain. Setelah pos Rawa Denok, Fatkhan merasakan ada mahluk lain di kanan jalan mengikutinya, dan ternyata Kana juga melihatnya. Ditempat kami ngecamp, didepan tenda ada bangunan 1x1m yang ternyata ada toliet yang hanya ada WC tanpa bak, Kana juga melihat ada mahluk lain dan untungnya tidak mengganggu kami. Diperjalanan turun dijalur bebatuan setelah jembatan, Kana juga diikuti oleh mahluk lain yang berjalan salip-salipan dengannya. Untungnya mereka bercerita setelah di warung, kebayang gak kalau mereka cerita pas masih dijalur pendakian? Hahaha. Kami pulang kerumah dari Cibodas sekitar jam 21.00, Fatkhan kembali ke Bandung naik motor (bukan orang emang), dan kami berenam kembali ke Jakarta.

image
image

Walaupun pendakian ke Pangrango ini belum sampai ke puncak, tapi pendakian ini bener-bener seru. Mendaki gunung bareng orang baru dan pastinya ada cerita baru juga. Semoga lain kali bisa dikasih kesempatan buat ke Puncak Pangrango, atau bahkan tempat lain yang gak kalah bagus. Geng mecin, kalian seruu! Thank you for reading!

TikaA stranger.

Drone shoot by Pras.

Piknik ke Curug Cibereum, Cibodas

Berawal dari rencana mau naik gunung, kemudian hanya camping ceria saja di kaki gunung, dan semua rencana berakhir sirna. Biar gak kecewa-kecewa banget, pokoknya Minggu itu harus tetep berangkat, bebas kemanapun tujuan yang penting tempatnya bagus. Dari pilihan ke kaki Gunung Salak, Gunung Halimun, Gunung Bunder, Gunung Pancar, dan akhirnya tujuan terpilih ke Curug Cibereum.

Curug Cibereum berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tepatnya ada di jalur Cibodas. Dari Jakarta, bisa langsung menuju ke Kebun Raya Cibodas sebagai patokan, kurang lebih dibutuhkan waktu sekitar tiga jam menggunakan mobil pribadi. Apabila kalian berkunjung saat akhir pekan mungkin kawasan wisata Cibodas ini akan lebih ramai, dan pastinya lebih sulit menemukan tempat parkir. Untuk fasilitas pendukung terbilang cukup lengkap, kamar mandi, mushola, warung makan sederhana hingga para penjual oleh-oleh khas Cibodas.

image

Agar tidak bingung, sebaiknya bertanya ke petugas parkir dimana pintu masuk menuju Curug Cibereum. Biaya retribusi untuk wisata Curug Cibereum Rp. 18.500,- berlaku untuk satu orang dan satu kali masuk. Jalur menuju Curug Cibereum merupakan salah satu jalur pendakian Gunung Gede Pangrango, yaitu Cibodas. Jadi sepanjang perjalanan kita akan bertemu dengan para pendaki yang membawa carrier menuju puncak Gunung Gede Pangrango atau selesai pendakian.

image
image

Jalur menuju Curug Cibereum berupa bebatuan tangga yang cukup landai (dibanding tangga batu jalur Lawu). Jalur yang terbilang cukup mudah ini memungkinkan para wisatawan segala umur dari anak-anak sampai ibu-bapak dapat mengunjungi Curug Cibereum, tentunya dalam keadaan sehat dan mampu. Di kanan-kiri jalur berupa pepohonan hutan hujan tropis khas Jawa Barat. Hutan yang kaya dengan biodiversitas flora dan fauna. Sebelum tiba di Curug Cibereum, kita akan melewati camping ground, telaga warna dengan warna air biru-kehijauan dan rawa Panyangcangan di kanan-kiri jembatan panjang.

image
image
image
image

Setelah satu jam perjalanan, kita akan bertemu dengan pertigaan, kiri menuju Gunung Gede atau Pangrango dan ke kanan menuju Curug Cibereum (ada papan petunjuk). Kita dapat beristirahat sejenak disini, meluruskan kaki, melepas dahaga atau sekedar bertegur sapa dengan para pendaki yang sedang beristirahat juga. Dari pertigaan ini, Curug Cibereum tinggal lima menit lagi. Selanjutnya jalur masih berupa bebatuan dan menurun, di kanan jalur terdapat sungai dengan air yang jernih.

image

Curug Cibereum Minggu itu cukup ramai, ada beberapa anak sekolah sedang study tour. Kami menepi mencari tempat agak landai untuk beristirahat dan ngopi. Mencari tempat landai, untuk Agung tidur siang. Menyeruput kopi, ngemil bekal, dan berfoto, setelah itu kami langsung bersiap untuk turun, karena mengejar jam buka-tutup jalur puncak.

image

Curug Cibereum bisa dijadikan salah satu destinasi piknik buat kalian yang sudah mulai jenuh dengan hiruk pikuk kemacetan kota Jakarta. Satu hari pulang-pergi cukup. Hutan hujan tropis, udara yang bersih, suhu yang cukup adem, suara burung, dijamin bisa membuat esok hari jadi lebih baik! Jangan lupa pergi bersama keluarga atau sahabat paling gila kalian ya, biar makin seruuu!

image

Tips :

– Apabila kalian pergi di akhir pekan, pastikan jam buka-tutup kawasan puncak agar kalian tidak terjebak dalam macet, dan pastinya tidak memakan waktu.

– Wajib menggunakan sepatu atau sendal gunung yang nyaman, yang alasnya tidak licin ya agar tidak mudah terpeleset dijalur bebatuan.

– Walaupun adem, jangan lupa pakai sunblock yaaa.

– Bawa botol air minum, beserta bekal secukupnya bila perlu. Untuk dimakan sambil piknik didekat air terjun.

– Bagi anak gunung yang suka ngopi, bawa kompor dan trangia sangat disarankan. Biar makin lucu pikniknya :))

– Bawa daypack untuk memudahkan membawa barang. Jangan lupa jas hujan atau payung beserta baju ganti (satu saja cukup). Alat sholat juga ya.

– Kalo kata Agung, jangan lupa bawa pasangan atau gebetan, biar perfect  (abaikan saja tips ini).

Tiket masuk : Rp. 18.500,-

Parkir mobil Cibodas : Rp. 10.000,-

Happy holiday!

All photos credit to Fatkhan and Hadi.

Jogja Bersama 19 (Part 2) – Kopi Klothok, Kebun Buah Mangunan dan Hutan Pinus

Halo kembali lagi di cerita jalan-jalan bersama 19. Jangan bosan ya! Ini partterakhir kok hehe

21 April 2017. Pagi ini saya mengajak mereka sarapan di Kopi Klothok Pakem. Itu sudah ada di list itenerary dari awal saya buat, karena saya ingin mereka merasakan enaknya pisang goreng ter-enak se-Asia Tenggara (lebay hahaha). Kami berangkat agak siang, waktu sudah nyerempet sholat Jumat. Mau pilih tempat untuk makan saja harus drama, kubu satu ingin di luar pinggir sawah biar bisa merokok yang satu lagi mau di dalam rumah depan kipas angin karena di luar panas. Akhirnya kubu pinggir sawah yang menang. Menikmati pisang goreng, nasi sayur lodeh di pinggir sawah sambil tertawa, such a lovely afternoon! Tetapi tidak lama hujan turun deras, terpaksa kami harus pindah tempat duduk di teras dan menunggu hujan reda. Kami menunggu cukup lamaaaaa, 4 jam disana! Semua itenerary hari itu berantakan, kami berniat mau ke Blukit Klangon dan sunsetan di Candi Ratu Boko, tapi semua sirna. 

image
image

Setelah hujan agak reda, kami langsung menuju ke Malioboro untuk menikmati malam. Aphoy ingin melihat pertunjukan musik di pinggir jalan Malioboro dan Ade ingin berbelanja oleh-oleh. Malioboro malam itu tidak terlalu ramai, padahal long weekend. Kami menonton pertunjukan musik tradisional di pinggir jalan, sampai request lagu hehe. 

image
image

Dari Malioboro saya mengajak mereka makan malam di Sate Klathak Jombor. Makanan ini merupakan salah satu hal wajib kalau berkunjung ke Jogja. Kami memesan sate klathak, tengkleng dan tongseng.

image

22 April 2017. Dari semalam Bolang sudah bawel berpesan “Bangun pagi ya, kita sunrise-an di Kebun Buah Mangunan besok. Berangkat jam 5 subuh”. Demisunrise yang katanya bagus, kami berangkat dari penginapan jam setengah 6 pagi, tentunya tanpa mandi, Alhamdulillah cuaca ceraaaah. Tiba di Kebun Buah Mangunan pukul setengah 7. Luaaarrr biasaaaaa, sudah ramai sekali pengunjungnya. Parkiran cukup padat. Bahkan ada yang sudah sarapan di warung-warung, mereka berangkat dari jam berapa ya? Oiya, harga tiket masuk Kebun Buah Mangunan ini hanya Rp. 5.000,-. Yuhuuu ternyata sunrise-nya memang bagusss! Apiiik! Kami masih kebagian kabut-kabut hitz yang memang dicari para pengunjung. Kami tidak berhenti mengabadikan gambar, padahal matahari sudah mulai bikin gerah. Saya cukup sering berkunjung ke Kebun Buah Mangunan, tapi baru pertama kalinya saya datang ketika sunrise, basanya siang atau sore hari.

image
image

Setelah dari Kebun Buah Mangunan, mumpung masih pagi dan belum terlalu panas, kami melanjutkan ke Hutan Pinus yang lokasinya masih dekat dengan Kebun Buah Mangunan. Saya pribadi agak bosan dan merasa biasa aja berada di Hutan Pinus, karena saya sudah pernah berkunjung kesini dan tidak banyak berubah. Kami hanya duduk-duduk di bawah rindangnya hutan sambil ngobrol-ngobrol. Harga tiket masuk Hutan Pinus hanya Rp. 2.000,-

image
image

Matahari mulai terik, perut pun mulai keroncongan, kami makan Bakso Klenger di daerah kota. Dan kita menjadi pelanggan pertama, karena warung bakso baru saja buka.

image

Karena kami bangun terlalu pagi setelah kenyang menyantap bakso kami kembali ke kosan dan tidur siang hehehe. Malam harinya kami ke Alun-Alun Kidul melihat sepeda warna-warni. Kami pun mencoba melewati pohon beringin dengan mata tertutup, tapi tidak ada yang berhasil hahaha. Setelah dari Alun-Alun Kidul kami menuju tempat ngopi di daerah Prawirotaman, Move on Coffee.

image
image

23 April 2017. Hari ini mereka akan kembali ke Jakarta pukul 5 sore. Agenda hari ini adalah berbelanja oleh-oleh di Sentra Bakpia Pathuk 25 di dekat Malioboro. Luaaarrr biasa ramaiiii, karena ini long weekend. Kalo boleh tau, gimana Adesri rasanya antri bakpia banyak terus ditinggal teman-temannya minus es teh diluar? Wkwkwk. Setelah jajan oleh-oleh kami menuju ke Via-Via di Prawirotaman untuk bertemu Kace, teman seangkatan kami juga di 19. Edisi nongski 19 di Jogja hehehe. Sebelum pukul 5 kami sudah berada di Stasiun Lempuyangan. 

image

Hard to say good bye kalo liburan bareng orang-orang geblek! Hahaha. See you on next holiday, kemana nih kita? Hihihi. Cheers, Kajol. Xo.

Jogja Bersama 19 (Part 1) – Pantai Wediombo dan Bukit Bintang

Setelah akhir tahun kemarin dikasih kesempatan bisa naik gunung lagi sama 19, Alhamdulillah sekarang dikasih kesempatan bisa jalan-jalan bareng lagi sama mereka. Jalan-jalan kali ini tujuannya bukan ke gunung, formasi orangnya juga agak berbeda dengan yang kemarin (ya maklumlah ya angkatan kalo orangnya banyak susah full team :p). Beberapa kawan dari Jakarta kali ini berkunjung ke Jogja! Yuhuuuu. Tujuan awal mereka ke Jogja untuk menjenguk Rivan yang sudah lama sekali tidak bertemu dan juga agak susah dihubungi, mereka ingin memastikan Rivan baik-baik saja hahaha.

Tiket kereta ke Jogja sudah dipesan sebulan sebelum tanggal keberangkatan, karena tanggal liburan yang mereka pilih tepat long weekend, antisipasi kehabisan tiket. Bagi Ade dan Bolang, berkunjung ke Jogja adalah sebuah nostalgia, karena mereka pernah menghabiskan empat tahun lebih di kota tercinta ini. Bagi Abeng? Saya tidak tahu alasannya apa, tapi orang ini malah yang sangat excited hahaha,

Tanggal 19 April, mereka berangkat siang hari dari Stasiun Pasar Senen. Mau berangkat ada saja dramanya, dari Bolang yang berbohong tidak jadi ikut, Ade yang KTP-nya tertinggal di kantor, sampai tujuan tiket bukan ke Jogja tetapi ke Wates. Belum lagi kocaknya mereka harus membawa helm di kereta untuk jalan-jalan di Jogja. Tidak lama setelah mereka tiba di penginapan, saya menemui mereka. Kami makan malam bersama di warung penyetan dekat penginapan. Tujuan mereka ke Jogja pun sudah terpenuhi, karena malam itu Rivan juga menemui kami. Saya dan Rivan ikut bermalam bersama mereka di penginapan, ngobrol sana-sini sambil merencanakan besok mau kemana.

20 April 2017. Rencana kami hari ini adalah pergi ke Pantai Wediombo untuk memenuhi keinginan Abeng melihat “Sejuta Pesona Gunung Kidul”. Setelah sarapan di soto favorit saya di daerah Klebengan, kami langsung cus ke Pantai. Perjalanan menuju ke pantai agak nyasar karena saya agak lupa. Kocaknya, setiap kami bertanya ke warga arah ke Pantai Wediombo mereka selalu memberikan jawaban yang berbeda-beda. Gimana coba kalo warga yang kami tanya lebih dari satu? Akhirnya kami trust to google maps. Ini sudah ke-tiga kalinya saya berkunjung ke Pantai Wediombo, tetapi jalanan yang saya lalui kali ini berbeda. Jalanan melewati kebun-kebun yang tidak ada rumah penduduknya, ternyata yang kami lewati bukan jalan umum seperti biasanya hahaha. Untungnya kami bisa tiba di Pantai Wediombo. Biaya masuknya hanya Rp. 5.000,- dan parkir motor Rp. 2.000,- (biaya parkir biasa, bukan bermalam)

image
image
image
image

Tiba di Pantai Wediombo kami langsung menuju kolam renang alami. Abeng dan Aphoy sudah tidak sabar nyemplung, padahal hari itu panas sekali dan ombak juga cukup besar (tetapi masih aman di spot tertentu). Saya, Ade, Bob, Rivan dan Bolang lebih memilih menunggu cuaca agak adem di bangunan di pinggir kolam. Sambil menununggu kami berfoto-foto. By the way, setiap saya berkunjung ke Pantai Wediombo selaluuuu ada gadget yang nyemplung ke laut, atau kena korban air laut. Kali ini hp Abeng yang menjadi korban, lagi asik foto lalu ombak besar datang dan dia refleks pegangan ke batu yang ternyata batunya juga kena deburan ombak. Syukurnya masih bisa nyala dan tidak rusak sama sekali.

image

Setelah lelah berenang, kami makan siang di warung pinggir pantai. Es kelapa muda menjadi pilihan kami karena cuaca yang masih sangat terik. Segeeer! Untuk makan siang kami pesan, mie ayam, mie rebus dan nasi telor ceplok. Sambil menunggu matahari agak redup kami bersendau gurau tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit. Oiya, harga makanan di warung pinggir pantai ini masih masuk akal kok, satu buah es kelapa hijau Rp. 12.000,- untuk makanan yang kami pesan perporsinya tidak lebih dari Rp. 10.000,-. Biaya mandi dan bilas di toilet disini Rp. 5.000,-.

image
image

Pukul 16.00 WIB kami beranjak pulang, untuk menuju ke Bukit Bintang. Karena sudah terlalu sore kami tidak mendapatkan sunset. Kami menghabiskan malam di salah satu tempat makan di Bukit Bintang yang menyuguhkan panorama lampu-lampu dari kota Jogja. 

image

Makan malam di Bukit Bintang ini mungkin akan menjadi salah satu cerita lucu di trip kami ini. Kami mendapat warung makan yang pemiliknya galak sekali. Pesanan makanan dan minuman kami akan diantar oleh petugas dan petugas akan menyebut pesanan, misalnya “Jahe hangat satu”. Ketika petugas menyebutkan menu, kami harus sigap apakah itu pesanan kami atau bukan, karena kalau kami tidak sigap, kami akan kena marah oleh pemiliknya. Bahkan ada salah satu gerombolan pengunjung yang lama memesan menu, si pemilik warung tetap menunggui mereka disebelah meja dengan muka galak. Semua pengunjung warung ini berbicara dengan nada berbisik, mungkin karena mereka semua ngehkalau pemiliknya galak. Tetapi yang kami heran, warung ini tetap ramai. Kami memesan jagung bakar (10k), pisang bakar (8k) dan mie rebus jawa (25k). Rasa jagung bakarnya enaaaak, empuk juga. Untuk mie rebus jawanya rasa cenderung pedas merica, sangat pedas malah, seperti merica tumpah ke mangkuk mie.

Kami tidak berlama-lama di Bukit Bintang karena kami tidak nyaman dengan pemiliknya yang galak. Setelah itu kami menuju ke kota, kami janjian dengan salah satu teman SMA kami juga yang sedang berkunjung ke Jogja, Hendy. Kami janjian di Kopi Joss depan Stasiun Tugu yang sangat terkenal itu. Karena di Bukit Bintang dan Kopi Joss kami tidak makan berat, perut sudah mulai keroncongan, kami melipir dulu ke SS untuk makan malam sebelum kembali ke penginapan.

image

Hari pertama jalan-jalan bareng 19 ini cukup melelahkan, mungkin karena jarak lokasi tujuan kami yang lumayan jauh. Lelah tertawa juga pastinya. Tiba di penginapan kami langsung bersih-bersih dan tidur untuk bersiap jalan-jalan besok hari! Yeay! See you on our next trip story! Xoxo.