Tebing Breksi

Sekarang saya jadi tau kenapa orang-orang ngerasa pengen balik lagi ke Jogja, karena wisata di Jogja emang nggak ada habisnya ya! Dari mulai wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner sampe bahkan wisata yang mungkin juga belum saya tau. Dari mulai sunrise, sampai ke sunset, bahkan sampai kuliner tengah malam pun ada di Jogja.

Buat kalian yang suka berburu sunrise ataupun sunset, ada tempat baru lagi nih, namanya Tebing Breksi. Lokasinya ada di dekat Candi Ijo, nggak jauh kok dari kota Jogja (gampang banget cari di maps). Jalan menuju Tebing Breksi juga relatif mudah, sudah beraspal, jadi bisa dilalui motor dan mobil. Tebing Breksi buka sampai jam 8 malam. Biaya masuknya juga sangaaat murah, cukup dengan membayar uang parkir dan uang sukarela aja! Untuk motor dikenakan biaya Rp. 2.000.- dan mobil Rp. 5.000,-.

image

                                                  Tebing Breksi

Menurut hasil penelusuran, batuan kapur breksi ini merupakan hasil endapan abu vulkanik Gunung Api Nglanggeran di Gunung Kidul. Dulu warga sekitar melakukan penambangan batu kapur breksi di lokasi ini sebagai mata pencaharian mereka, tetapi karena ada larangan, warga berinisiatif menjadikan lokasi ini sebagai objek wisata. Dan ternyata, banyak wisatawan yang datang ke Tebing Breksi ini. Untuk fasilitas, jangan takut karena sudah ada warung, toilet dan mushola.

image

                              Tangga Menuju Puncak Tebing

Menuju puncak Tebing Breksi kalian harus menaiki belasan anak tangga. Dari puncak Tebing Breksi kalian dapat melihat panorama kota Jogja, Candi Prambanan, Candi Ijo, dan runaway Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Buat kalian yang suka sunsetsunset di Tebing Breksi adalah salah satu sunset terbaik di Jogja. Langit yang mulai berwarna orange dan hitam ditambah jejeran lampu runaway Bandara yang mulai menyala, dijamin kalian gak akan tahan untuk mengabadikan gambar!

image
image

                                      View dari Puncak Tebing

image

                                        Ornamen di Tebing Breksi

Di area Tebing Breksi ini juga terdapat area luas  untuk pertunjukan kesenian, di sisi kanan kirinya dilengkapi tempat duduk melingkar, namanya Tlatar Seneng.

image

                                            Tlatar Seneng

image

                                 Sunset di Tebing Breksi

So, Tebing Breksi bisa jadi list destinasi kalian yang mau liburan ke Jogja! Bagus, dekat, dan murah! Hehe. Happy holiday!

image

Saran :

– Bawa payung atau topi kalo berencana kesini siang hari, karena lokasinya relatif gersang

– Bawa air minum karena kalian akan menaiki anak tangga yang melelahkan hahaha

– Gunakan sepatu yang tidak licin, agar tidak terpleset

– Bawa kamera dengan lensa tele kalo perlu, biar runaway Bandara Adisucipto kelihatan. Bagus lhoo kalo sunset :p

Photo by : Rindang & Mey

Editing photo and text by me.

Melepas Rindu di Gunung Gede

Ikut ke Gede ga?”

“Kapan”

“25-26 Des”

“Buset”

“Gmn?”

“Emang ga rame?”

Chat singkat yang dikirim Fariz berhasil membuat saya berfikir untuk tidak mungkin menolak ajakannya. Bahkan saya sudah lupa kapan terakhir mendaki Gunung Gede, seingat saya waktu pendakian perdana ketika saya masih menjadi senior aktif di organisasi SMA dulu, itu artinya kira-kira sudah 6 tahun lalu. Dan sekarang diajak ke Gede lagi bersama mereka, saya sudah membayangkan sepanjang jalur pendakian kita pasti akan bernostalgia bersama.

Awalnya saya sempat berfikir untuk tidak ikut dalam trip ini, pertama karena posisi saya sedang tidak di Jakarta yang artinya saya harus mengeluarkan kocek lebih banyak untuk tiket kereta PP Jogja-Jakarta, yang kedua saya meragukan kemampuan fisik saya karena jalur pendakian Gunung Gede terbilang tidak mudah, dan yang terakhir karena perizinan orang tua karena pendakian gunung kali ini saya berangkat dari rumah bukan dari kosan, itu artinya saya harus “menyusun proposal” agar bisa diizinkan untuk mendaki gunung.

Tapi ajakan ini pasti tidak datang dua kali, karena setiap kumpul bersama ajakan “Ayo dong naik gunung bareng lagi”“Kapan nih naik gunung lagi?”, “Ayo dong ke Gede lagi!”, semua belum ada satu pun yang terealiasi. Mumpung ada yang ajak, dan ada teman-teman yang bersedia me-manage perjalanan, saya pun langsung mengirim foto kartu identitas untuk syarat pendaftaran SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) TNGP. Pendaftaran untuk pendakian Gunung Gede atau Pangrango dilakukan via online dan pembayaran SIMAKSI juga dilakukan via transfer (lebih lengkapnya cek disini). Oiya, selain identitas, surat keterangan sehat juga diperlukan untuk syarat pendaftaran simaksi. SIMAKSI sementara kemudian harus ditukar di basecamp Cibodas.

Honestly, trip kali ini sedikit ada dramanya, apalagi kalau bukan urusan yang paling sensitif, finance hehe. Dari hampir 20 orang yang di-list bersedia ikut, sampai hanya tersisa 13 orang yang benar-benar ikut. There is missed-communication, between the finance and details about it. But it clear, dude.

24 Januari 2016, tiket kereta tujuan Jakarta sudah ditangan, simaksi TNGP sudah beres, dan perlengkapan pendakian pun sudah lengkap. Saya berangkat menuju Jakarta, tiba di Stasiun Jatinegara dini hari, dijemput Fariz menuju rumahnya untuk me-loading semua perlengkapan yang saya bawa dari Jogja untuk di re-packing disana. Semua carrier yang akan kami bawa esok hari sudah berdiri dan tertata rapi.

25 Januari 2016, kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB. Kami mengambil jalur ke arah Cibodas lewat Jonggol, untuk menghindari macet karena jalur buka-tutup kawasan Puncak disaat long-weekend. Beberapa teman yang naik motor sudah tiba terlebih dahulu di villa. Karena peraturan dari TNGP tidak diizinkan mendaki pada malam hari, kami beristirahat dahulu malam ini di villa untuk berbelanja beberapa logistik yang masih kurang, dan re-packing perlengkapan lain.

image

Siap berangkat! (Captured by Papanya Fariz)

26 Januari 2016.

Dari Villa kami berangkat menuju basecamp Gunung Putri pukul 06.00 pagi menggunakan dua angkot kuning. Kami tidak menggunakan mobil pribadi ke basecamp, karena jalur turun kami berbeda. Kami naik lewat jalur Gunung Putri dan turun lewat jalur Cibodas. Setelah semua carrier diturunkan dari angkot, kami berdoa bersama. Dari titik turun angkot kami berjalan menanjak menuju pos pemeriksaan SIMAKSI jalur Gn. Putri. Jalurnya masih berupa semen setelah itu tanah kebun, kanan kiri jalur berupa pemukiman warga kemudian kebun sayuran warga. Butuh waktu sekitar 15 menit, tapi nafas sudah mulai tak teratur. Sejenis jalur “pemanasan” bagi kami yang sudah lama tidak angkat carrier hehe.

Di pos SIMAKSI kami harus melaporkan kepada petugas berapa orang yang ikut dalam rombongan, petugas memastikan perlengkapan pendakian memenuhi standar (sepatu gunung, jas hujan, jaket tebal, dll), logistik cukup untuk dua hari dan tidak membawa barang-barang berbahaya. Petugas juga memberikan nasihat apa saja yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama pendakian, termasuk membawa kembali sampah sampai turun.

image

Pos SIMAKSI.

Rombongan kami berjumlah 15 orang; tiga perempuan ada saya, Naya dan Juju; dan 12 lelaki ada Fariz, Marbot, Syam, Alfa, Maul, Bob, Alfa, Irfan, Aldio, Abeng, Fajar dan Mul. Selama pendakian rombongan terbagi tiga kelompok, kelompok paling depan Aldio dan Naya, kelompok kedua ada saya, Juju, Alfa dan Irfan, dan sisanya dikelompok belakang.

Perjalanan dimulai, kami berangkat pukul 09.00 pagi, satu jam dari pos SIMAKSI jalur yang kami lalui masih berupa tanah landai dan agak sedikit menanjak. Karena ada beberapa rombongan kami yang belum sarapan, kami sempat menggelar matras didekat sungai disekitaran kebun warga. Setelah batas hutan, perjalanan mulai benar-benar menanjak. Jalur berupa tanah, bebatuan dan akar-akar pohon. Pendakian via jalur Gunung Putri memang terkenal tidak ada bonusnya dan terjal, tetapi waktu yang ditempuh lebih cepat dibanding via Cibodas atau Salabintana. Sepanjang jalur Gunung Putri juga tidak ada sumber air, sumber air akan ada di sungai ketika sudah tiba di Surya Kencana.

image

Kanan-kiri kebun warga

image

Track awal pendakian.

Saya tidak hafal nama pos-pos di jalur ini, setiap ada saung atau bangunan beratap payung kami beristirahat sejenak, meluruskan kaki dan mengatur nafas. Mungkin sebagian besar dari kami ini adalah pendakian Gunung Gede via Gunung Putri bukan untuk pertama kalinya, karena selama di organisasi kami dulu kami sering lewat jalur ini, jadi kami masih ingat bagaimana medannya. Yang paling saya ingat (dan mungkin teman-teman lain) adalah track menuju Surya Kencana yang benar-benar tanpa ampun, tanah dan akar-akar pohon setinggi lutut. Dan yang paling dinantikan dari jalur tanpa ampun itu adalah setelahnya akan ada jalur batu landai, literally landai, menuju Surya Kencana. Jadi sepanjang jalan menuju Surya Kencana kami mengeluh “Manasih jalur landainya?”, “Mana sih ini gak landai-landai?”, “Ini kok ga ada ujungnya”.

image

Jalur mulai engap.

Menemukan tulisan “Simpang Meleber”, saya makin senang karena artinya Surya Kencana semakin dekat. Benar saja, tidak lama setelah pos Simpang Meleber, akhirnya kami bertemu dengan jalur landai yang sejak tadi kami tunggu-tunggu. Bahagia! Akhirnya ketemu si landai, jalan menuju Surya Kencana. Sepuluh meter menuju Surya Kencana, sudah banyak beberapa tenda yang berdiri, saya mempercepat langkah berlari kecil dan merekam video dengan kamera smartphone. Tiba di Surya Kencana? Luar biasa bahagiaaaa! Sedikit haru juga, finally bisa berkunjung ke tempat ini lagi! Padang Eldelweis yang sangaaaaat luas. Rasanya semua lelah hilang.

image

SURYA KENCANAAAAAA.

Dari pos SIMAKSI sampai ke Surya Kencana kelompok saya (Juju, Alfa dan Irfan) membutuhkan waktu sekitar enam jam, not bad, karena umumnya juga membutuhkan waktu enam jam sampai Surya Kencana. Kami mencari tenda Aldio dan Naya yang sudah tiba terlebih dahulu di Surya Kencana, mereka tiba pukul 12.00. Karena posisi tenda awal yang tidak bagus, kami memindahkan tenda ke pinggiran diantara pepohonan supaya ada penghalang angin. Badai angin dan hujan turun ketika kami sedang memindahkan barang dan mendirikan dua tenda, udara menjadi sangat dingin. Yang lain mendirikan tenda dan flysheet, saya memasak air untuk menghangatkan tubuh kami yang sudah benar-benar dingin karena hujan dan badai.

image

Surya Kencana

Sambil menunggu kelompok yang lain, kami memasak dan beristirahat sebentar. Kelompok terakhir tiba di tenda kami pukul 09.00 malam. Kami memasak untuk makan malam sambil bersendau gurau di depan tenda hingga pukul 02.00 dini hari.

image

Cooking.

27 Januari 2016. Pukul 06.00 pagi kami sudah bersiap untuk memasak sarapan, beberapa ada yang mengambil air di sungai, sisanya memasak. Cooking is the most enjoyable part when hiking! Pukul 11.00 kami mulai bersiap-siap packing untuk mendaki ke puncak. Untuk menuju puncak, kita melewati Surya Kencana, sepanjang Surya Kencana kami tidak berhenti mengabadikan gambar. Surya Kencana was awesome! Setelah itu kita berbelok ke arah kanan, awalnya jalur tanah selanjutnya jalur tangga berbatu, tanpa bonus landai. 

Dari Surya Kencana, butuh waktu sekitar 45 menit sampai ke puncak Gunung Gede. Ternyata sekarang di Puncak Gede ada warung yang menjual Pop Mie, gorengan dan minuman. Pop mie tergigih dan termahal yang pernah saya makan, seharga Rp. 15.000,- dan harus mendaki terlebih dahulu. Kami tiba di puncak pukul 12.00 siang, kabut sudah mulai turun, jadi kami tidak mendapatkan pemandangan Gunung Pangrango dan kawah. Saran untuk kalian sebaiknya ke puncak saat sunrise karena pemandangannya sangat bagus.

image

Pop Mie pelipur lelah di Puncak Gede.

image

Sampai di puncak, kabut.

image

Reach the peak!

Satu jam menikmati puncak dan pop mie, kami bersiap untuk turun, kami turun lewat jalur Cibodas. Apabila melewati jalur Cibodas, akan melewati “Tanjakan Setan”, salah satu jalur agak terjal untuk naik atau turun diperlukan tali untuk pegangan. Untungnya jalur Cibodas ini kami pilih untuk jalur turun, benar-benar tidak terbayang kalau saya harus naik lewat jalur ini, jalur akar dan tanahnya benar-benar menanjak. Menurut informasi, naik Gunung Gede sampai puncak via jalur Cibodas ini butuh waktu sekitar 10 jam.

image

Tanjakan setan.

Formasi turun kali ini saya bersama dengan Juju, Naya, Irfan, Marbot dan Abeng. Kami tiba di pos Kandang Badak sekitar pukul 03.00 sore. Kandang Badak hari itu lumayan agak ramai, banyak pendaki yang mendirikan tenda disana, karena ini adalah salah satu pos terakhir sebelum puncak Gunung Gede via Cibodas. Karena hari semakin sore dan mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan. Pos selanjutnya adalah Kandang Batu. Jalur dari Kandang Badak dan Kandang Batu kamu akan menemukan banyak sumber air, ada sungai dan air terjun. Kami tiba di pos air panas pukul 18.00 hampir maghrib.

image

Kandang Badak.

image

Jalur turun, dari puncak Gunung Gede via Cibodas.

image

Air terjun setelah Kandang Badak.

Kami beristirahat sejenak, menghangatkan kaki yang mulai nyut-nyutan di sumber mata air panas sambil menunggu adzan maghrib. Karena mulai gelap, kami memutuskan untuk menunggu teman-teman lain yang masih dibelakang, mereka tiba setengah jam kemudian. Beberapa sholat maghrib, beberapa membuat masakan untuk kami makan karena kami terakhir makan tadi siang di puncak dan hanya pop mie. Honestly, saya pribadi kurang begitu nyaman harus beristirahat dan menggelar matras di pos ini, walaupun berbentuk bangunan dengan atap, tetapi sangat kotor dan bau. Banyak sampah bekas bungkus makanan dan tissue.

image

Merendam kaki di sumber mata air panas.

Pukul 19.00 kami memulai perjalanan turun, kali ini kami harus menggunakan jas hujan dan senter karena hujan dan sudah gelap. Perjalanan turun kami memutuskan untuk tidak terbagi dalam kelompok lagi, kami jalan dalam satu rombongan tanpa jeda. Melewati air panas, kami harus ekstra berhati-hati karena kami harus memijakkan kaki di batu-batu diatas air panas, di jalur yang sempit, sebelah kiri kami jurang air panas dan hanya berpegangan dengan tali dipinggir jurang. Pos selanjutnya adalah Pemancangan, jalur ke kiri ke arah air terjun Ciberum, dan ke kanan ke arah Cibodas (turun). Di pos ini ada bangunan beratap, kami beristirahat sebentar untuk meluruskan kaki, karena kaki kami mulai cenat-cenut. Kami hanya beristirahat 15 menit, kami sangat menghindari beristirahat terlalu lama agar tidak mengantuk. Rombongan kami akhirnya terpecah, Aldio, Mul dan Fajar sudah ada didepan. Kelompok saya kali ini masih sama, ada Juju, Naya, Irfan, Marbot, dan Abeng. Yang lainnya ada dikelompok belakang, perjalanan mereka agak lama karena salah satu teman kami ada yang keseleo.

Selanjutnya kami melewati jembatan, dulu terakhir kesini jembatannya masih berupa kayu, sekarang sudah disemen dan dibentuk menyerupai gelonggongan kayu. Karena hari sudah gelap, kami harus tetap berhati-hati karena beberapa bagian jembatan ini sudah rusak dan berlubang. Kalau kamu melewati jembatan ini saat terang, pemandangannya sangat bagus, jembatan ini sering dijadikan spot foto pre-wedding. Panjang jembatan ini sekitar 1 km, jadi ini seperti bonus setelah melewati jalur berbatu yang membuat jempol kaki kami cenat-cenut.

Setelah melewati jembatan panjang, kami kembali bertemu dengan jalur batu yang licin. Masih dengan jas hujan yang kami kenakan, fisik kami mulai menurun. Beberapa kali kami berhenti dipinggir jalur untuk beristirahat, karena sudah tidak ada pos lagi. Masih sama juga, kami sangat menghindari beristirahat terlalu lama karena takut kebablasan tidur dan hari semakin larut malam.

Setelah lama perjalanan, akhirnya kami melewati Telaga Biru dikanan jalan. Telaga Biru bentuknya seperti danau kecil, konon katanya tempat ini sangat mistis. Ketika melewati Telaga Biru spontan kami langsung mempercepat langkah kami. Telaga Biru ini merupakan indikator kami dalam perjalanan turun, karena ini adalah check point terakhir sebelum kami tiba di pos akhir Cibodas. Jalur menuju pos akhir juga masih sama, masih bebatuan rapi dan licin, jalurnya cukup lebar jadi saya dan Juju bisa berjalan bersama. Kami merasa waktu perjalanan kami sudah sangat lama, fisik kami sudah benar-benar menurun, sudah ngantuk, beberapa kali kepleset, tetapi kami tidak kunjung tiba di pos terakhir. Kami pun sudah mulai berhalusinasi, setiap melihat rombongan pendaki lain yang akan naik, kami melihat itu adalah lampu penerangan dari pos terakhir, ternyata itu adalah senter penerangan dari rombongan lain.

Akhirnya kami tiba di pos terakhir, disana sudah ada Aldio, Mul dan Fajar yang sudah tiba dari pukul 09.00 malam. Saya melihat jam tangan, kelompok saya tiba pukul 12.00 malam. Kami langsung melepas carrier dan menggelar matras. Its like in heaven, bisa melepas jas hujan, melepas sepatu yang sudah basah dan meluruskan kaki. Sambil menunggu kelompok terakhir, kami beristirahat, beberapa sudah tertidur karena sangat lelah. Saya memilih terjaga, karena sejujurnya saya khawatir dengan teman-teman dibelakang.

Mereka tiba di pos terakhir pukul 03.00 pagi. Beristirahat sebentar, kami langsung menuju ke villa karena angkot yang kami sewa sudah menunggu dari pukul 11.00 malam. By the way, setelah turun kami harus melapor kembali ke pos SIMAKSI di Cibodas. Kami tiba di villa sekitar pukul 04.00 pagi. Karena sudah hari masuk kerja, Irfan langsung kembali kerumah tanpa istirahat, rumah dan kantornya cukup jauh. Sisanya memilih tidur karena sudah terlalu lelah, karena jam 07.00 pagi kami harus sudah pulang ke Jakarta, beberapa teman sudah mulai masuk kerja. Sayang sekali kami tidak sempat mampir ke warung teteh, langganan kami sejak jaman SMA, karena kami turun diwaktu orang tidur.

Percaya atau tidak, ini adalah perjalanan turun gunung terlama dan terjauh yang kami rasakan. Waktu turun dari pos air panas (setelah beristirahat untuk sholat maghrib dan makan) adalah 5 jam! Total kami turun berarti sekitar 12 jam, lama bangeeet, padahal fisik kami tidak terlalu lemah, kami juga tidak beristirahat terlalu lama di pos. Karena ini bukan perjalanan pertama kami ke Gunung Gede, kami juga masih ingat urutan pos dan berapa lama biasanya kami turun, tapi kali ini kami benar-benar perjalanan ini sangat panjaaaaanggg dan lamaaa. Tapi ya itulah mendaki gunung, kami tidak disarankan untuk negative thinking, sudah bisa tiba di pos terakhir dan bertemu kasur di vila saja kami sudah sangat bersyukur. Bersyukur tidak djemput ranger.

image

Angkatan 19 ❤

Ini adalah perjalanan mendaki gunung yang benar-benar melepaskan rindu saya sejak enam tahun lalu, pada teman-teman SMA, pada jalur menuju Surya Kencana yang mau mati, pada Surya Kencana, pada edelweis, pada Gunung Gede dan semua yang pernah saya dan teman-teman lalui beberapa tahun lalu. Biasanya, saya ke Gunung Gede untuk menjadi peserta, panitia atau membantu Diklatsar organisasi, tapi kali ini benar-benar naik gunung santai hehe.

image

Finally, we met again, Edelweis.

Bagi beberapa teman dekat dan yang pernah mendaki gunung bersama saya pasti sudah paham kalau saya sering sekali pusing dan engap saat mendaki, tidak jarang sampai muka saya pucat. Sering sekali saya meminta berhenti untuk duduk. Tapi dipendakian kali ini, saya sama sekali tidak merasakan hal itu. Tidak pusing, tidak engap. Bahkan pada mempertanyakan, “Kok lo tumben sih kuat?”, bahkan saya sendiri juga tidak tahu mau menjawab apa, latihan fisik saja baru saya lakukan H-2 sebelum ke Jakarta, itu juga hanya dua putaran GSP yang sudah membuat saya engap hehe.

image

Good people.

Terima kasih ya semua teman-teman dalam perjalanan ini, apalagi yang sudah bersedia me-manage perjalanan ini. Setelah perjalanan panjang, lama, dan melelahkan, akhirnya kita bisa tiba di rumah dengan selamat walau betis nyut-nyutan. Sampai jumpa di trip selanjutnya, good people!

image

Kopi Klothok Pakem

Jalan-jalan ke Jogja bosen sama kuliner yang itu-itu aja, paling kalo nggak gudeg, bakmi jowo, ya sate klathak, ya nggak sih? Jangan sedih, sekarang kamu bisa coba kuliner baru yang lagi hitz ini, namanya Kopi Klothok. Lokasinya ada di Jalan Kaliurang KM 16, Pakem. Bisa di track di google maps kok! Hehe.

Warung kopi klothok ini terletak di tepi sawah, bangunannya berbentuk joglo, suasananya homeeeey banget! Recommended banget buat kamu yang ingin coba suasana ngopi baru dan muraaaahhhhh bangeet. Kopi Klothok emang apaan sih? Bedanya sama kopi biasa apa emang? Menurut hasil penelusuran, kopi klothok itu hampir sama seperti kopi tubruk, kopi bubuk dimasak diteko panas tanpa air sampai agak gosong kemudian kopi disiram air sampai mendidih.

image

Hidangan yang disajikan di warung ini nggak hanya kopi saja, ada wedang jahe gepuk, pisang goreng, hingga makanan berat seperti nasi, telur dan sayur lodeh.

Warung kopi klothok ini sistemnya prasmanan, setelah sampai di lokasi kamu bisa cari tempat duduk, terus menuju ke dapur untuk mengambil makanan kamu sendiri. Ambil nasi semau kamu, pilih sayur lodeh sesuka kamu, pilih lauk juga sesuka kamu. Pokoknya kamu disini makan sampai puasss! Tapi harus dihabiskan, karena makanan disini tidak boleh dibawa pulang, jadi jangan kalap ambil makan, ya. Makanan disini semuanya disajikan masih hangat, jadi kalau ada makanan yang kamu mau, seperti telur crispy, pindang atau tempe tidak ada di meja prasmanan tidak tersedia, kamu jangan malu untuk menanyakan ke pelayannya ya, karena bisa saja makanannya sedang dimasak.

image
image
image
image

Makanan wajib yang harus dipesan adalah pisang goreng! Pisang gorengnya juaraaaa!!! Para pengunjung rela antri di dapur untuk mendapatkan seporsi pisang goreng ini. Harganya cuma Rp. 6.500,- seporsi, isi dua buah pisang. Pisang gorengnya bisa dijadikan cemilan bersama kopi atau dessert kamu. Jangan lupa minta remahan tepung gorengnya yaaaaa hehehe.

image

Nasi Megono di warung ini juga sangat dicari-cari oleh pengunjung, katanya enak. Sayang setiap kesini saya selalu kehabisan menu satu ini. Warung kopi klothok buka dari jam 09.00 sampai 22.00. Tapi kalo sudah jam 16.00 biasanya beberapa menu sudah habis, apalagi kalau weekend, tempat ini ramai sekali. 

image

Tempatnya yang nyaman, makanan yang enak, dan harganya yang sangat muraaaah, jadi wajar saja kalo tempat ini selalu ramai pengunjung! Happy holidaaaay!

FIELD TRIP KE BUMI LANGIT INSTITUTE, IMOGIRI

Halooo buat kamu yang sedang atau ingin berkunjung ke Jogja dan ingin mencoba kuliner baru. I had the solutiooon! Bumi Langit Institute atau lebih dikenal denganWarung Bumi bisa jadi tujuan kalian. Apalagi lokasinya searah sama tempat wisata Hutan Pinus Imogiri dan Kebun Buah Mangunan.

image
image

                                               Joglo Warung Bumi

Warung Bumi langit seperti surga buat para pecinta makanan organik. Karena sekarang hidup sehat sudah menjadi bagian dari trend. Warung Bumi Langit menyediakan makanan yang berasal dari kebun mereka sendiri. Selain bisa menikmati makan siang di warung sambil nikmatin pemandangan sekitar Imogiri, Bumi Langit juga menyediakan trip dan course di kebun mereka.

image

Minuman fermentasi : kefir. Roti Sorghum dengan selai mulberry dan nanas

Bulan kemarin saya dan teman-teman berkesempatan mengikuti trip di Bumi Langit. Berkeliling kebun seluas 3,1 hektar selama kurang lebih 4 jam, tanpa alas kaki, belajar dan melihat langsung apa yang ada didalamnya. Berkeliling Bumi Langit membuat kita dapat melihat dan belajar bagaimana pentingnya hubungan manusia dengan alam.  Life is cooperative, not competition.

image

                Mendengarkan dan melihat langsung penjelasan Mas Krisna

Bumi Langit sendiri menggunakan Integrated Farming System. Integrated Farming System adalah sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan dalam satu lahan guna mencapai peningkatan produktivitas lahan. Integrated farming system meniru cara alam bekerja. Manusia sebagai makhluk hidup membutuhkan energi dan kebutuhan primer dari sektor pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan. Sumber energi sektor pertanian berasal dari daging, susu, telur serta organ tubuh lainnya bahkan kotoran hewan. Sedangkan fungsi penggerak ekonomi berasal dari hasil penjualan ternak, telur, susu dan hasil sampingan ternak (bulu dan kotoran).

Dalam perkebunan, tanaman yang bisa ditanam adalah tanaman yang bernilai ekonomi dan bisa menyediakan pakan untuk peternakan. Hasil samping pertanian berupa jerami, sekam dan sisa batang dapat digunakan sebagai pakan ternak dan ikan, pembuatan biogas dan kompos. Ikan yang digunakan untuk Integrated Farming System adalah ikan air tawar yang dapat beradaptasi dengan lingkungan air yang keruh, tidak membutuhkan perawatan ekstra, mampu memanfaatkan nutrisi yang ada dan memiliki nilai ekonomis. Ikan yang sering digunakan adalah ikan nila, gurami, mas, tambakan dan lele.

image

                                                  Pohon Trembesi

Dahulu keadaan tanah di Bumi Langit tidak sesubur sekarang, cuma tanah kering dan batu. Pohon Trembesi (famili Leguminoceae) ini usianya ‘baru’ 10 tahun, sengaja ditanam di Bumi Langit karena famili Leguminoceae punya Rhizobium di bintil akar yang mampu mengikat nitrogen. Akar trembesi bisa ngelepas nitrogen ke dalam tanah, ada simbiosis mutualisme didalam tanah, nitrogen jadi bertambah, tanah jadi subuuuurrr!

image

                                       Kebun dibuat berpetak-petak

Selanjutnya kita diajak ke kebun sayuran. Kebunnya dibuat berpetak-petak seperti di gambar. Menurut penjelasan Mas Krisna, semua tanaman disini tanpa pestisida dan pupuk pabrik. Di Bumi Langit tidak mengurusi tanaman, tapi tanah. Karena kalau tanah gembur, tanaman yang tumbuh pun menjadi subur. Tanah disini rajin dicangkul, agar gembur.

image

                                                  Helianthus annuus L.

Tanaman yang ditanam dipetak-petak tersebut tidak ditanam secara homogen. Setiap petak tanaman sayuran, pasti ada bunga cantik diantaranya. Bunga-bunga cantik ini fungsinya sebagai indikator ada tidaknya hama. Tujuan tanaman ditanam heterogen juga menghindari gagal panen, karena kalau tanaman ditanam homogen, hama akan “menghabiskan” seluruh tanaman.

image
image

                                       Kolam berisi ikan Patin

image

                           Solar panel sebagai sumber energi listrik

Selanjutnya, ke “pos” biogas. Sumber energi untuk memasak disini berasal dari kotoran manusia dan hewan (biogas). Dari biogas digester didapat limbah cair yang berasal dari dapur, toilet dan lain-lain yang kemudian diproses sebagai sumber air untuk menyirami tanaman, pupuk dan sirkulasi air kolam.

image

                                               Peternakan sapi

Tidak hanya berkeliling kebun, kita juga diajak ke peternakan sapi, kambing, ayam, kelinci dan cacing. Semua hewan disini juga dibiarkan hidup seperti di alam. Walaupun ayam ditaruh di kandang, tetapi bentuk kandang menyerupai di alam, ada tempat untuk mengerami telur dan tempat untuk mencari makan sendiri (tanah yang diberi cacing).

Semua kegiatan di bumi langit sangat menyenangkan, dari makan makanan organik sambil melihat pemandangan, berkeliling kebun, dan kurus parmakultur. Semua infonya dapat dilihat di wesite resmi Bumi Langit. Yuhuuu, semoga info ini bisa bermanfaat buat kaliaan, kalo kalian ingin lebih tau banyak hal lagi disini, segera deh daftar diri kalian buat ikut trip dan kursusnya!

image

                                Menu makan siang kami, semuanya organik!

Happy holiday!

Cheers, Tika. Xoxo.

Ayam Goreng Legendaris “Mbah Cemplung”

Mencicipi beragam kuliner di Jogja memang tidak akan pernah ada habisnya, apalagi kuliner khas dan legendarisnya. Kalo kamu sudah beberapa kali mengunjungi Jogja dan ingin mencoba kuliner baru selain gudeg (the most famous food in this city hehe), kamu bisa berkunjung ke Ayam Goreng Jawa “Mbah Cemplung”.

Lokasinya berada di daerah Kasihan, Bantul. Butuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Jogja menuju lokasi Mbah Cemplung. Di zaman yang canggih ini, kamu sudah bisa langsung search Ayam Goreng Mbah Cemplung di aplikasi maps di smartphone kamu, tidak perlu repot berhenti bertanya di setiap pertigaan jalan hehe. Tapi hati-hati ya, kalau kamu sudah menemukan Bakmi Pak Pele di kanan jalan, berarti lokasi Mbah Cemplung tidak jauh setelah Bakmi Pele, ada di kanan jalan.

image

Rumah makan Mbah Cemplung suasananya sangat sederhana, pengunjung dapat memilih untuk makan di meja dan bangku kayu panjang atau lesehan. Sangat cocok untuk lokasi makan bersama keluarga. Jangan khawatir, lokasi parkir kendaraan juga luas, kendaraan sejenis bis pariwisata pun bisa masuk ke area parkir.

Untuk menu, tentu sajian utamanya adalah ayam goreng. Tetapi ayam goreng yang disajikan bukan ayam goreng biasa, ayam gorengnya adalah ayam goreng kampung! Ukurannya super besaaarrr! Walaupun ukurannya besar, tetapi ayam goreng kampung ini tidak alot dan keras, sangat empuk! Kebanyakan masakan Jogja mengandalkan rasa manis, ayam goreng ini memiliki bumbu khas dan gurih. 

image
Ayam Goreng Super Besar

Konon katanya, ayam yang digunakan adalah ayam goreng kampung liar, bukan yang diternak di dalam kandang. Selain itu, ayam goreng ini juga dimasak semalaman agar bumbu khasnya meresap.

Ketika memesan makanan, biasanya saya dan teman-teman punya request untuk pelayan, “Mas, ayamnya yang ukuran besar ya!”. Dan benar saja, ayam yang datang ke meja kami adalah ayam dengan ukuran besar (banget). Oiya, kalau kamu datang tidak terlalu sore dan tidak ramai pengunjung, kamu bisa request mau ayam dada, paha atau kepala. Tetapi kalau sudah sore, biasanya kamu akan diberikan yang tersedia di dapur, tidak bisa memilih.

Ayam goreng Mbah Cemplung juga menyediakakan ayam goreng utuh satu ekor (ingkung). Selain ayam goreng, ada juga tahu goreng, tempe goreng, terong goreng, dan pete goreng. Pesanan yang datang akan di sajikan bersama nasi hangat, sambal matang, sambal mentah dan lalapan. Nasi di sini bisa re-fill sampai kamu kenyang! Mantap, kan?

image
Nasi, ayam goreng dada, ayam goreng paha, terong goreng, sambal dan lalapan

Untuk menu minuman, di sini tersedia teh hangat atau es, jeruk hangat atau es, air mineral, teh botol, soft drink dan yang wajib dipesan adalah es tape hijau.

Walaupun lokasinya tidak berada di pusat kota Jogja, tetapi rumah makan ini tidak pernah sepi pengunjung, baik pengunjung asli Jogja ataupun luar Jogja yang sedang berlibur. Ayam goreng Mbah Cemplung buka dari pukul 08.00 sampai habis. Kamu juga bisa melakukan reservasi, lho. Satu potong ayam goreng besar (dada atau paha) beserta nasi dihargai sekitar Rp. 45.000,- dan ayam ingkung sekitar Rp. 100.000,- (sesuai ukuran ayam yang tersedia). 

image
Ayam goreng paha dan nasi hangat
image

Menurut saya, ayam goreng Mbah Cemplung ini sangat recommended. Walaupun harganya agak mahal, tetapi ini worthy. Ukuran ayamnya besar dan enak, nasi di sini juga bisa re-fill sampai kenyang! Kebayang kan ayam besar bertemu nasi hangat dan sambal, bisa nambah berapa kali? 

Ayam goreng Mbah Cemplung, the best! Happy holiday!

PASAR TENUN RAKYAT (PTR) : WEAVING FOR LIFE!

Acara Pasar Tenun Rakyat (PTR) ini diadakan tanggal 23-24 April 2016, kemarin. Acara ini berlokasi di Sejatidesa, Moyudan, Sleman (20 km dari kota Jogja). Acara PTR ini sendiri memiliki tujuan menjadikan Sejatidesa sebagai desa Eco-tourismyang tetap melestarikan lingkungan. Kenapa melestarikan lingkungan? Karena pewarna kain tenun yang digunakan oleh warga Sejatidesa ini adalah pewarna alami. Pewarna yang digunakan berasal dari Mahoni dan Indigo. Selain ada workshop tentang menenun, pembuatan tiedye dan gamelan, para peserta PTR juga melakukan penanaman pohon disekitar Sungai Progo. 

Tradisi Baritan merupakan salah satu tradisi yang terdapat di Sejatidesa. Berlokasi di tepi Sungai Progo, tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur warga desa atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan YME. Diawali dengan pembacaan doa oleh para tetua, setelah itu memandikan hewan ternak, lalu diakhiri dengan makan berasama nasi tumpeng buatan para ibu-ibu desa.

image
image
image

Seluruh peserta dan volunteer PTR melakukan penanaman pohon di tepian Sungai Progo. Kondisi Sungai Progo saat ini tidak baik karena dampak dari penambangan pasir. Kawasan bantaran Sungai Progo sangat gersang.

image

Para peserta juga mengikuti workshop pembuatan kain berwarna menggunakan teknik celup ikat atau tiedye. Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami seperti mahoni, indigo, tawas, jeruk, dll. Setiap peserta bebas berkreasi membuat motif pada kainnya.

image
image
image

Berlatih memainkan alat musik gamelan juga menjadi salah satu kegiatan yang sangat menarik di acara PTR ini. Sampai di puncak acara, ada penampilan dari para pemuda Sejatidesa dan para peserta. Ada yang menari, ada juga yang menyanyi.

image
image

Satu kesempatan berharga bisa menjadi volunteer di acara PTR ini (volunteerdadakan lebih tepatnya). Mencoba kegiatan baru yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya lakukan, memainkan gamelan, kreasi tiedye hingga bertenun. Bertemu dengan teman-teman baru, bertemu dengan keluarga baru (Warga Sejatidesa). Terima kasih ya dreamdelion untuk kesempatan ini, teman-teman konservasi, khususnya. Sampai jumpa di acara selanjutnya, buruh polybag! hehe.

image
image

Cheers, Tika.

Ramadhan Camp di Gunung Ungaran

Gunung Ungaran terletak di Ungaran, Jawa Tengah. Gunung Ungaran memiliki ketinggian sekitar 2.050 mdpl dengan jalur pendakian yang relatif landai untuk pemula. Jalur pendakian yang dapat dipilih diantaranya jalur Jimbaran (Umbul Sidomukti), Medini, dan Candi Gedong Songo.

Dari Tembalang menuju basecamp Mawar (ke arah Umbul Sidomukti) hanya memerlukan waktu tempuh satu jam saja. Kondisi jalan menuju basecamp Mawar cukup bagus dapat dilalui oleh motor ataupun mobil, namun karena lokasi basecamp yang berada diketinggian membuat jalur agak menanjak dan terdapat beberapa tikungan tajam. Pastikan kondisi kendaraan baik.

Seperti basecamp pendakian gunung lainnya, di basecamp Mawar ini setiap pengunjung wajib melapor dan membayar biaya retribusi, retribusi yang diwajibkan sebesar Rp. 5.000,-. Di dekat basecamp Mawar terdapat “camping ground” luas dan dapat digunakan oleh pengunjung untuk camping bersama keluarga atau teman. Ketika melapor, pengunjung akan ditanyakan oleh petugas, akan bermalam di camping ground atau mendaki sampai puncak gunung. Di basecamp ini tersedia parkir yang luas untuk motor dan mobil, toilet, mushola dan warung.

Setelah melapor dan membayar retribusi, pendakian dimulai. Pendakian kami kali ini agak sedikit berbeda, karena dilakukan saat bulan Ramadhan. Waktu startpendakian sekitar pukul 01.00 WIB (dini hari). Jalur pendakian Gunung Ungaran relatif landai, “banyak bonusnya” dan papan petunjuk pun cukup jelas disetiap jalur bercabang. Setelah pos 2, kami melewati sumber mata air ditengah jalur pendakian. Tidak lama dari sumber mata air tadi, kami melewati pertigaan antara batas vegetasi hutan dan perkebunan teh. Di pertigaan ini terdapat kolam penampungan air. Kita dapat mengisi botol minum untuk persediaan minum atau memasak, disini juga terdapat toilet.

image
Banyak “Bonus”
image
Kolam Penampungan Air

Jalur disepanjang perkebunan teh berupa bebatuan yang cukup landai. Jalur ini pun cukup lebar. Setelah 30 menit berjalan santai, kita akan menemukan pertigaan ke arah kiri akan menuju puncak Gunung Ungaran. Lokasi pertigaan ini cukup luas dan landai, dapat digunakan untuk mendirikan tenda. Karena waktu menunjukkan pukul 03.00WIB (dini hari), kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan segera memasak untuk santap sahur. Apabila perjalanan kami lanjutkan hingga puncak, khawatir waktu tidak cukup untuk sahur karena masih membutuhkan waktu dua jam lagi untuk sampai puncak.

image
Lokasi Camp

Setelah santap sahur dan subuh, kami beristirahat tidur untuk bersiap menikmati sunrise.

image
Menu santap sahur : sop bakso-jamur, tahu dan bakso goreng, pecel, buah mangga, jelly sirsak dan salad buah.
image
Siap Terbang
Video by Fatkhan
image
Ramadhan Camp Squad : Bima, Rahma, Saya, Mey, Adistia, Agung dan Irwan. Photo by : Fatkhan.

Walaupun jalur pendakian Gunung Ungaran cukup mudah, perlengkapan dan logistik kalian juga harus memenuhi standar yang sesuai. Menggunakan sepatu tracking atau sendal gunung karena medan yang licin, sleeping bag dan tenda yang layak pakai, jaket tebal, logistik makanan dan minuman serta perlengkapan gunung lainnya.

Selamat berlibur!

ITINERARY BERLIBUR 4 HARI DI JOGJA

Selain Bali, Yogyakarta merupakan salah satu destinasi favorit untuk berlibur. Yogyakarta menyajikan wisata alam dan budaya yang mengagumkan. Wisata alam dari pantai-pantai cantik di daerah Gunung Kidul hingga Gunung Merapi yang gagah. Berbagai museum dan warisan budaya juga banyak terdapat di Yogyakarta. Berikut itinerary untuk berlibur di Yogyakarta selama 4 hari.

HARI KAMIS (MALAM)

18.20-19.30 Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan tiba di Bandara Adisucipto Yogyakarta

20.00-20.30 Menuju tempat makan malam dengan taksi bandara atau sewa mobil

20.30-21.30 Makan malam di angkringan KR (depan kantor Kedaulatan Rakyat)

21.30-22.00 Menuju penginapan di daerah Malioboro

22.00-22.30 Check-in di penginapan dan istirahat.

TIPS

– Tarif taxi dari Bandara Adisucipto menuju kawasan Malioboro Rp. 80.000,- sampai Rp. 120.000,- . Taxi yang tersedia antara lain JAS TAXI (0274) 373737, Indrakelana Taxi (0274) 565565, Sadewa Taxi (0274) 434343.

– Transportasi yang dapat digunakan selama berlibur di Yogyakarta yaitu sewa sepeda motor atau mobil. Tarif sewa sepeda motor sekitar Rp. 50.000,- (24 jam) dan untuk mobil sekitar Rp. 300.000,- sampai Rp. 450.000,- (24 jam). Harga tarif sewa kendaraan pada musim liburan biasanya mengalami kenaikan.

– Penginapan yang tersedia di kawasan Malioboro sangat banyak, dari guest house, hostel, sampai hotel berbintang. Anda bisa memilih sesuai dengan budget. Hotel berbintang seperti Hotel Inna Garuda atau Hotel Ibis, hotel-hotel dengan harga sangat murah juga banyak terdapat di gang-gang apabila anda cermat memilih.

HARI JUMAT

07.00-08.00  Persiapan berangkat ke Pantai Wediombo di Gunung Kidul (mandi, sarapan, dll)

08.00-10.30 Perjalanan menuju Pantai Wediombo

10.30-12.30 Menikmati Pantai Wediombo di Gunung Kidul (bermain-main, berenang, berfoto)

12.30-14.00 Makan siang di warung ikan di pinggir pantai (termasuk bersih-bersih)

14.00-16.30 Perjalanan menuju Bukit Bintang

16.30-18.00 Menikmati sunset di Bukit Bintang

18.00-19.00 Perjalanan menuju kota Yogyakarta

19.00-21.00 Makan malam di Raminten Kota Baru

21.00 Kembali ke penginapan untuk beristirahat

TIPS

– Pantai Wediombo terletak di daerah Wonosari. Akses perjalanan menuju Pantai Wediombo sangat mudah, dari Kota Yogyakarta dapat menuju Jalan Raya Wonosari. Di sepanjang jalan, petunjuk arah menuju pantai-pantai di daerah Wonosari juga cukup jelas. Pantai-pantai di Wonosari masih sangat bersih dan bagus. Tarif tiket masuk dan parkir kendaraan pun masih cukup masuk akal, tarif tiket masuk tidak mencapai Rp. 10.000,-.

image
Pantai Wediombo di Gunung Kidul
image
Kolam Renang Alami di Pantai Wediombo

– Pantai Wediombo memiliki kolam yang terbentuk secara alami. Selain dengan berfoto dan bermain pasir, anda juga dapat menikmati dengan berenang atau snorkeling di kolam ini. Harga makanan dan minuman di Pantai Wediombo juga masih terjangkau, harga satu buah kelapa bulat untuk melepas dahaga hanya Rp. 10.000,-.

–  Bukit Bintang terletak di Jalan Wonosari. Perjalanan dari kota Yogyakarta menuju pantai atau sebaliknya pasti melewati Bukit Bintang. Bukit Bintang lebih indah bila dinikmati pada sore hari sambil menunggu sunset dan malam hari. Pada malam hari, lampu-lampu kota yang menyala akan terlihat dari sini.

HARI SABTU

07.00-08.00 Persiapan berangkat (mandi, sarapan, dll)

08.00-10.00 Perjalanan menuju Puncak Becici di Bantul

10.00-12.00 Menikmati Puncak Becici

12.00-12.30 Perjalanan menuju Kebun Buah Mangunan

12.30-14.00 Menikmati Kebun Buah Mangunan

14.00-15.00 Perjalanan menuju Sate Klathak

15.00-16.00 Makan Sate Klathak Pak Pong

18.00-20.00 Wisata dan makan malam di daerah Alun-alun kidul (selatan)

21.00 Kembali ke penginapan dan beristirahat

TIPS

image
Gardu Pohon di Puncak Becici
image
View dari Puncak Becici

–  Puncak Becici berada di daerah Dlingo, Bantul. Tarif tiket masuk Puncak Becici untuk sepeda motor hanya Rp. 3.000,- dan mobil Rp. 10.000,-. Panorama yang disajikan oleh Puncak Becici berupa hutan pinus dan pemandangan hijaunya daerah Yogyakarta dari ketinggian. Disini juga terdapat gardu pandang diatas pohon.

image
Kebun Buah Mangunan

– Kebun Buah Mangunan juga masih terletakdi daerah Bantul. Tarif tiket masuk hanya Rp. 5.000,-. Dari puncak Kebun Buah Mangunan anda dapat melihat bukit-bukit dan Sungai Oyo.

image
Sate Klathak

– Sate klathak adalah salah satu kuliner yang terkenal dikawasan Imogiri, Bantul. Sate klathak disajikan unik, tusukan sate menggunakan jeruji sepeda. Dagingnya merupakan daging kambing muda. Satu porsi sate klathak beserta nasi dan es teh dibandrol dengan harga Rp. 28.000,-. Sate klathak yang terkenal diantaranya Pak Pong, Pak Bari dan Mak Adi. Apabila berkunjung saat akhir pekan dan liburan tiba, anda harus sabar menunggu antrian.

HARI MINGGU

07.00-08.00 Persiapan berangkat (mandi, sarapan, dll)

08.00-09.30 Perjalanan ke Candi Borobudur

09.30-11.30 Menikmati Candi Borobudur

11.30-12.30 Perjalanan menuju Jejamuran Resto

12.30-13.30 Makan siang di Jejamuran Resto

13.30-15.00 Perjalanan menuju Candi Prambanan

15.00-18.00 Menikmanti Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko (sunset)

18.00-19.00 Perjalanan menuju kota Yogyakarta

19.00-21.30 Makan di Bakmi Kadin

22.00 Tiba di penginapan untuk beristirahat

TIPS

image
Candi Borobudur

– Candi Borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia yang terletak di Magelang, sekitar satu setengah jam menempuh perjalanan menggunakan mobil. Tarif tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp. 35.000,- dan wisatawan mancanegara Rp. 180.000,-

– Jejamuran Resto terletak di Jalan Magelang. Menu yang tersedia di Jejamuran Resto semuanya adalah olahan jamur, harganya sangat terjangkau dan rasanya enak. Tempatnya juga cukup luas dan bersih.

– Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko menawarkan tiket terusan dengan tarif Rp. 30.000,-. Jangan lupa membawa tripod, agar mendapat hasil maksimal saat hunting sunset di Candi Ratu Boko.

– Bakmi Kadin merupakan salah satu Bakmi Jowo legendaris di Kota Yogyakarta. Lokasinya berada di Jalan Bintaran Kulon. Harga satu porsi bakmi rebus atau bakmi goreng Rp. 17.000,-.

HARI SENIN

07.00-08.00 Persiapan dan check-out penginapan

08.00-08.20 Perjalanan menuju Keraton

08.20-10.00 Menikmati Keraton Yogyakarta

10.00-10.25 Perjalanan menuju Taman Sari

10.25-12.00 Menikmati Taman Sari

12.30-13.30 Makan siang di Sentra Gudeg Wijilan

13.30-14.00 Menuju Malioboro

14.00-17.00 Berbelanja dan menikmati Malioboro

20.00 Kembali ke Jakarta dari Bandara Adisucipto Yogyakarta

TIPS

– Keraton dan Taman Sari berada di kota Yogyakarta, apabila anda berada di kawasan Malioboro, cukup mudah menemukan petunjuk arah jalan menuju lokasi tersebut. Tarif tiket masuk wisata keraton sebesar Rp. 5.000,- dan Taman Sari sebesar Rp. 7.000,-. Untuk pengunjung yang membawa kamera di wisata Keraton akan dikenakan tambahan biaya tidak lebih dari Rp. 2.000,-

– Sentra Gudeg Wijilan menyajikan beragam masakan gudeg sesuai selera (gudeg manis atau pedas, gudeg basah atau kering). Yang paling terkenal adalah Gudeg Yu Djum. Untuk harga gudeg per porsi dibandrol 13.000,- hingga dengan lauk komplit Rp. 25.000,- (ayam kampung, telur, tahu bacem, tempe bacem).

– Di Malioboro dan Pasar Beringharjo anda dapat berbelanja untuk keluarga dan para sahabat, dari mulai batik kerajinan tangan hingga bakpia yang merupakan khas Yogyakarta. Bakpia yang terkenal adalah Bakpia 25, letaknya dibelakang Malioboro. Anda dapat memilih oleh-oleh yang berada di toko maupun para pedagang di pinggir jalan. Jangan lupa untuk tawar-menawar harga. Selain Bakpia 25, Bakpia yang terkenal enak adalah Bakpia Kurnia Sari.

Ini adalah list beberapa tempat wisata di Yogyakarta dan sekitarnya :

– Kalibiru di Kulon Progo

– Kebun Teh Nglinggo di Kulon Progo

– Kedung Pedut di Kulon Progo

– Pantai Jungwok, Pantai Timang, Pantai Indrayanti, dll di Wonosari

– Pantai Parangtritis dan Gumuk Pasir Parangkusumo (menikmati sunset)

– Runaway Pantai Depok

–  Pantai Depok (makan seafood langsung dari Pasar Ikan)

– Bukit Paralayang atau Parangdok (menikmati sunset)

– Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam di Magelang (menikmati sunrise)

– Museum Gunung Merapi

– Lava Tour Merapi

– Museum Ulen Sentalu

– Rafting Sungai Elo

– Goa Pindul (Cave tubing)

Itulah itinerary untuk menikmati Yogyakarta, seru bukan? Selamat berlibur!

Pantai Wediombo Jogja

Pantai Wediombo terletak di daerah Desa Jepitu, Gunung Kidul, Yogyakarta. Lama perjalanan untuk tiba di Pantai Wediombo sekitar tiga jam dari Kota Yogyakarta menggunakan kendaraan pribadi. Dari kota Yogyakarta anda dapat mengambil jalan menuju arah Wonosari, petunjuk arah dan akses jalan untuk mencapai ke lokasi ini cukup mudah. Tarif tiket masuk tidak mencapai Rp. 10.000,-/orang. Pantai Wediombo masih sangat sepi dan bersih.

image

Dari lokasi parkir kendaraan, anda harus menuruni puluhan anak tangga yang akan mengantarkan anda sampai bibir pantai. Di kanan dan kiri jalan menuju bibir pantai banyak terdapat kios penjual makanan dan minuman, penjual kacamata hingga penjual baju pantai. Tiba di bibir pantai kalian akan disajikan oleh panorama pantai dengan pasir putih yang bersih dan bukit karang. Anda dapat menggelar tikar dan bersantai bersama keluarga. Harga makanan dan minuman yang dijual di kios-kios masih tergolong masuk akal, tidak mahal. Para penjual menyediakan menu olahan laut seperti ikan dan udang, hingga air kelapa untuk melepas dahaga. Di Pantai Wediombo ini juga terdapat fasilitas musholla dan kamar mandi yang memadai.

image
image
image

Pantai Wediombo memiliki kolam renang alami, airnya sangat jernih. Dari akhir tangga menuju pantai, anda bisa berjalan ke sebelah kiri hingga ujung. Anda akan melewati bebatuan dan bukit karang yang licin, jadi berhati-hatilah agar tidak terpeleset. Anda dapat berenang di kolam alami ini saat air tenang, saat pagi hari biasanya ombak besar dan berbahaya untuk dibuat renang. Selain berenang, anda juga bisa memancing di pinggir pantai. Selain berenang dan memancing, anda bisa berselancar dan berkemah di Pantai Wediombo. Beberapa kios menyewakan perlengkapan berkemah dari tenda hingga alat penerangan. Pantai Wediombo bisa dijadikan destinasi berlibur bersama keluarga atau kerabat. Selamat berlibur!

Enjoying Sunrise at Punthuk Setumbu Magelang

Who does not know Borobudur Temple? Every travelers who visited Jogja always made Borobudur temple as their list travel destination. Borobudur Temple located in Magelang, not in Jogja. For some travelers, sunrise and sunset are the target of their travel trip. They will find out the best location of sunrise and sunset at their location. One of the best spots to enjoy the sunrise in Magelang is Punthuk Setumbu.

Puntuk Setumbu located in Karang Rejo village, Borobudur, Magelang. Access to Punthuk Setumbu easy enough, we can use GPS in our smartphone. From Jogja we need an hour drive to Borobudur Temple. From the junction of Manohara Hotel there are signs direction “Borobudur Nirvana Sunrise” or “Punthuk Setumbu”, we can follow the road directions to find Puntuk Setumbu parking lot. The road to the location is small but open for cars and motorcycles, the parking lot is also extensive enough. Each visitor need to pay IDR. 15.000/person for entrance ticket.

Punthuk Setumbu has a good view to watch the sunrise from 400 meters above sea level. To reach the peak of Punthuk Setumbu, we will take about 20 minutes with the good track with lots of stairs and lighting (when trekking early morning). 

On both side of the track there are several small shop which provide snacks such as gorengan and instant noodles, there are also mineral water and hot drinks like tea and coffee. Not to worry, there are also toilets on the track to the peak. Arrive at the peak Puntuk Setumbu there are gazebo and chairs to relax while wait the sunrise and enjoy the hot drinks.

Before sunrise, the visitors will be looking for get the forefront of their best sunrise shots. The photographer with a tripod and expensive lenses, and the tourists are ready to wait the sun rises in the Borobudur’s sky.

image

Puntuk Setumbu present the view of fog-mist blanketed the hills around Borobudur.The best time to visit this location is during the dry season, to get the perfect sunrise, not covered with clouds. Sadly, I get the cloudy-sunrise.

image
image
image
image

After enjoy the sunrise, not far from the Punthuk Setumbu, there are Gereja Ayam (Chicken Church). Follow the road access down from the peak we will find an ancient building shaped chicken. This ancient building looks neglected, but still standing strong in the area of Bukit Rhema. The visitors can go up to the top floor to see the view from the top of the church. The visitors come here looks interested because the unique building. This Chicken Church also used for photo hunting.

image

Ticket Punthuk Setumbu IDR. 15.000.

The Car Park IDR. 5.000.