Memang selalu ada aja pelajaran yang didapat setiap pendakian. Kali ini dari mulai perjalanan dari Jogja menuju basecamp pendakian Gn. Merapi di daerah Selo menggunakan motor! Iya, motor! Sudah beberapa kali naik gunung, tapi ini pertama kalinya naik gunung transportasi menuju basecampnya naik motor, pendakian sebelumnya biasanya naik transportasi umum atau mobil pribadi. Naik motor Jogja-Selo 3 jam dengan carrier di pundak dan jalanan yang nanjak serta menikung, sesungguhnya itu gak mudah. Jalur pendakian Merapi yang nggak ada “bonusnya”. Papan-papan penunjuk jalur yang ngasih harapan palsu, bilangnya 1 jam sampai, tapi tak kunjung sampai. Jalur dari Pos II menuju Pasar Bubrah yang berbatu, menanjak, plus combo nggak ada vegetasi lagi di kanan-kirinya kebayang deh tuhdinginnya kaya apa. Capek, lapar, dingin, rasanya pengen bilang “Khaaaan ngecampnya disini aja”. Padahal posisi kita di jalur, jadi sangat tidak mungkin membuka tenda dan bermalam di sana. Tiba di Pasar Bubrah, ternyata sepi bangeeeet, hanya ada tenda kita dan satu tenda kelompok lain. Pendakian kali ini carrier berat karena isinya lebih banyak makanan, menu kita ada sate ayam, ikan bakar, spaghetti bolognaise, sop ayam, tempe goreng, sosis goreng, telur asin, nutrijel coklat, coklat panas.
Jalur yang bikin ngeluh terus memang nggak pernah ngecewain kok akhirnya, kayausaha keras yang sudah kamu lakuin pasti hasil yang diperoleh juga gak ngecewain, apasih hehe. Merapi memang gak punya bukit Sabana cantik seperti Merbabu, tapi Merapi punya keindahan yang bisa kamu nikmatin dengan caramu sendiri. Terima kasih ya Fatkhan, Saki, Erik yang sudah sabar nungguin di jalur yang hampir bikin nangis. Senang sekali rasanya sudah sah deh jadi mahasiswa Jogja, sudah bisa nikmatin dan ngerasain Merbabu dan Merapi. Sampai jumpa diperjalanan berikutnya!
Perjalanan menuju Pulau Meosmanggara, pulau tempat gue dan tim akan mengabdikan diri membawa nama almamater kampus kerakyatan, Universitas Gadjah Mada. Menuju Meosmanggara, kita ngelewatin suatu tempat yang buat kita ngerasa amazing banget waktu itu. Namanya Teluk Kabui. Disini gue ngerasa WOW banget, ngerasa gue telah masuk dikawasan Raja Ampat. Pulau-pulau yang kaya di google dan jernih banget airnya!
Teluk Kabui
Kapal merapat di dermaga sebuah pulau. Beberapa warga berdiri menunggu kami di dermaga. Selamat datang di Meosmanggara! Kita ber-27 ditempatin di pondokan yang merupakan sebuah bangunan PKK dengan 3 ruang yang kita jadiin kamar dan tempat logistik, ada juga satu kamar mandi yang bak airnya nggak pernah penuh selama KKN dan biar keisi air harus nimba dulu disumur belakang. Dapur dengan atap daun tikar yang bocor kalo ujan deres. Koper dan carrier yang berjejer mepet ke tembok, barisan mesin jahit yang jadi lemari perlengkapan dadakan, hamook-nya Agung dan Fatkhan yang cuma bertahan mengayun di depan pondokan selama 3 minggu, tembok penuh tempelan pengumuman dari yang penting banget sampe pengumuman nombak orang. Tiga ruang utama; dapur logistik, rumah bordir dan kamar maxie. Ruangan tempat logistik dapur, dari cabe-cabean kering, bawang busuk, gula sekarung, beras 250 kg, mie instan segala rasa 2 kardus gede, galon yang lebih sering kosong daripada ada isinya, bumbu pecelnya gambris, telor yang ada aja busuknya, sampe roti bawangnya Agung, semuanya tersimpan disini! Tersimpan dengan gangguan beberapa tikus. Selanjutnya, “Rumah Bordir”. Bener-bener gak paham sama julukan ini, siapa lagi yang ngasih nama kalo bukan Kormanit paling sampah haha. Ini ruangan awalnya kamar buat 8 cewek, tapi lama-lama ini kamar isinya jadi cuma setengahnya, karena sisanya lebih milih tidur diluar kamar dan dikamar lain. Kamar cewek penuh misteri, katanya suka ada yang garuk-garuk tembok kalo malem. Segala jenis binatang juga ada disini, tikus, kecoa, laba-laba, semut sampe kepiting kecil. Tapi gak pake boong, ini kamar anget bener asli walaupun kita tidur cuma beralaskan tikar. Sebelahnya “Kamar Maxie”, lagi-lagi yang ngasih nama Kormanit. Disini kamar ini doang ada kasur yang lama kelamaan jadi bopak tapi selalu jadi bahan rebutan, dikasur ini semuanya numpuk kalo lagi nonton film. FYI aja, Maxie ini nama keren dari Maksiat, nama boleh maksiat, tapi kelakuan nggak kaya namanya kok hehe. Diluar tiga ruangan ini, depannya ada ruang kira-kira ukuran 6×3 meterlah, ruang ini juga dijadiin tempat tidur, ada “homestay” milik geng dapur dan “kontrakan” milik Bapak Yudhis. Disini jadi tempat kita buat rapat briefing-evaluasigelap-gelapan cuma modal headlamp, tempat makan bareng di siang dan malam, sholat berjamaah atau cuma sekedar santai bareng-bareng sesekali sambil main gitar dan nyanyi bareng. Terus ada dapur dibelakang rumah. Dapur yang isinya cuma ada satu kompor minyak tanah, bara perapian, meja kayu sederhana dan tempat hp di tiang dapur yang berguna banget jadi musik saat masak haha.
Kondisi PondokanHammock : Tempat Favorit SantaiPondokanDapur Semi Outdoor
KKN! Gimana gak ditunggu barbs, sambil menyelam minum air kalo kata pribahasa. Mengabdi sekaligus liburan, itu cuma sepenggal pikiran KKN di otak gue. Ada bener dan ada enggaknya juga sih, mungkin nanti bisa kalian tau setelah kalian membaca cerita gue selama kurang lebih tujuh minggu KKN ini yaw!
Dimulai dari open recruitment team KKN 2014, cari tempat-tempat yang mau dijadiin tempat mengabdi, menuhin syarat-syarat biar sah ikut KKN bahkan sampe gimana ucingnya nyari sponsor buat tim KKN. Perkenalkan kami, PPB 07. Rapat tiap Kamis malem di selasar FISIPOL, dari yang dateng full team sampe lama-lama jadi bosen sama rapat yang bahasannya itu-itu aja. Rapat dari yang adem ayem sampe panas hot adu argumen, anggota yang keluar dan masuk. Pala dibikin super ucing mikirin dana, dana mandiri. Mandiri dari tabungan lo atau mandiri dari kantong orang tua lo, itu pilihan. Sebelum ngerampok kantong orang tua, seenggaknya kita juga inisiatif usaha. Usaha jualan baju second di Sunmor super pagi ditiap minggu, usaha nyebar proposal sponsor dari gedung sini ke gedung sana, jual baju visit raja ampat, atau usaha jualin bunga di malam minggu? Cian. Alhamdulillah, menghasilkan uang walaupun gak seperti yang kita harepin. Dua minggu sebelum keberangkatan, semua mulai sibuk. Sibuk belanja perlengkapan dan logistik program, sibuk finalisasi program, sibuk urus tiket akomodasi, sibuk urus cargo barang atau sibuk dengan urusan masing-masing hahaha.
PPB 07Persiapan Cargo
H-1 sebelum keberangkatan, disuatu rumah makan didaerah Demangan, buka puasa bersama Dosen Pembimbing Lapangan. Ya walaupun kita gak hadir full team. Dipenutup acara, Mbak Pulung, DPL kami bercerita banyak tentang apa itu KKN dan tujuannya. Banyak pesan yang Mbak Pulung doktrin ke kita. “Nanti kalo sudah disana, tidak boleh ada pembatas antara kalian dan mereka, tidak ada yang bodoh, tidak ada yang lebih pintar, tidak ada yang lebih hebat. Semua sama!”. “Kalian harus menghargai dan menghormati apa saja kebiasaan sehari-hari mereka”. “Berhasilnya KKN nanti diliat dari seberapa warga yang sedih ketika kalian pergi, berapa banyak warga yang mengantar kalian pulang dan seberapa kenangan yang melekat diantara kalian dan mereka”.
Buka Puasa Bersama Mba Pulung (DPL)
Today is the day. Hari keberangkatan, Jumat 11 Juli 2014, boarding time 18:10 WIB. Over baggage dan harus bayar 7 juta, padahal udah dikasih extra bagasi 150 kg, gak tau ini pada bawa lemari apa gimana. Transit di Makassar, saur makan nasi padang di bandara yang apapun lauknya harganya 40ribu, fakir charger hp yang udah pada mulai lowbatt, tidur bodo amat dilantai bandara. Penerbangan selanjutnya menuju Sorong, boarding time 02:50 WITA. Penerbangan pagi buta! Mendarat di Sorong, sekitar pukul 07.00 WIT. Yuhuuuu, Papua we are arrived!Gue masih hapal gimana takutnya muka kita sesampenya di Bandara Sorong, gimana gak takut bro, ini bandara mana penumpang mana preman gak ada bedanya. Ngomong pada teriak-teriak. Ngeri deh pokoknya! Perjalanan selanjutnya kita harus naik kapal, menuju Pelabuhan Waisai. Dari Pelabuhan Sorong menuju Pelabuhan Waisai, naik kapal dengan tarif 150ribu. Kapal ini cuma ada hari-hari tertentu. Gausah khawatir, kapal ini fasilitasnya oke kok, AC yang dingin banget, televisi, tempat duduk dengan nomor, kamar mandi. Setelah 2 jam, tiba juga di Pelabuhan Waisai. Matahari yang hot banget, pelabuhan yang crowded, lagi puasa, fisik udah mulai melemah, cargo barang ratusan kilo yang harus diangkat, kebayang deh siang itu gimana kondisinya.
Loading Barang Super Berat di Pelabuhan Waisai
Di Waisai, semua tim harus presentasi program-program apa aja yang bakal lo realisasikan di pulau tempat lo mengabdi. 3 hari di Waisai, dari mulai jatah tempat tidur yang dijajah tim lain, upacara pembukaan oleh Bupati Raja Ampat, nasi bungkus yang porsinya kaya kuli gak makan dua hari, nikmatin senja dan malam lo di Pantai WTC (Waisai Torang Cinta), loncat ke laut dari atas dermaga, es buah seger seharga 10 ribu, dan beras yang harganya masih terjangkau! Hahaha. Semoga Allah mengampuni kelakuan Kormanit gue beserta Kormasitnya yang ngembat nasi bungkus punya kelompok lain, gak cuma satu-dua bungkus yang diembat, banyak hahaha. To be continue~
Pantai WTC (Waisai Torang Cinta)Sore Hari di Pantai WTC
Hi! For one reason, I moved from my previous blog platform to this WordPress. So for some posts, it is from my previous blog. Hopefully I can always share stories for you!