Jamu Ginggang: Si Jamu Legendaris Asli Jogja

Sebagai seorang yang sedang belajar untuk hidup sehat, menemukan tempat minum jamu jadi hal yang menyenangkan. Baru tau kalau ada tempat macam ini diantara ratusan kedai kopi yang sekarang menjamur di Jogja. Namanya Jamu Ginggang! Lokasinya dekat dengan Pura Pakualaman (ada di google maps).

Tempatnya sederhana banget. Interiornya masih menggunakan furniture lama, baik itu kursi, meja, jendela dan etalase. Di dinding warungnya tertempel foto-foto berukuran besar seperti poster, foto-foto para buyut terdahulu. Udara di sini sejuk mungkin karena dekat dengan banyak pohon rindang, adem di dalam walaupun di luar sangat terik. Jalanan di depan warung pun tidak ramai karena termasuk area tempat tinggal, jadi jauh dari hiruk pikuk macet.

Warung Jamu Ginggang ini sudah ada sejak 1950. Tapi, Mbah Joyo sudah meracik jamu dari tahun 1920-an sejak beliau masih menjadi Abdi Dalem di Pura Pakualaman. Jamu-jamu racikan beliau ini banyak memberi khasiat buat pengobatan. Awalnya diberi nama oleh Kanjeng Ratu Sri Pakualam ke-VI dengan nama Tan Ginggang atau Tansah Ginggang, yang bermaksud agar hubungan antara kraton Pakualam dan para warga sekitar selalu rukun dan dekat tanpa ada jarak. Selanjutnya, resep ramuan jamunya terus dijaga oleh keturunan Mbah Joyo sampai sekarang yang sudah memasuki generasi ke lima.

Pilihan menu jamunya banyak! Dari yang berkhasiat untuk penambah stamina, penyembuh sakit sampai vitalitas. Dari yang pahit seperti brotowali sampai yang manis juga ada. Ada beberapa jamu juga yang bisa di minum dengan es, ada juga pilihan dengan tambahan telur ayam kampung atau madu. Kalau kita bingung mau pilih yang mana, bisa tanya dulu ke staffnya mengenai khasiat dan rasa jamunya gimana, biar tidak salah pilih hehehe.

Kebanyakan yang datang ke sini adalah orang-orang yang sudah berlangganan jamu belasan sampai puluhan tahun yang lalu. Saya bertemu dengan seorang bapak yang dulu pemain bola, dia sudah berlangganan sejak tahun 1965. Saya juga bertemu dengan sepasang orang tua yang ternyata setiap seminggu sekali selalu ke sini untuk minum jamu. Tidak bohong memang, usia mereka yang terlihat sudah lebih dari 50 tahun masih terlihat sehat, mungkin karena rajin konsumsi jamu.

Tapi kata pemilik warung, Pak Rudi, sekarang juga banyak anak muda yang datang. Turis mancanegara juga banyak yang datang karena Pak Rudi bekerja sama dengan tour dan travel.

Bahagia sekali bisa minum jamu drink-in sambil duduk manis sama teman-teman. Biasanya kalau minum jamu harus ke pasar pagi-pagi. Jamu Ginggang buka setiap hari! Dari Senin sampai Minggu, dari jam 09.00 sampai 20.00 WIB jadi minum jamu bisa sore-sore habis berolahraga atau malam setelah pulang kerja.

Pembuatan jamu di sini masih pakai cara tradisional setiap pagi sebelum warung buka. Mereka tidak menggunakan blender, khawatir merusak rasa. Walaupun sudah lebih dari setengah abad, kualitas ramuan dan rasa jamu ini masih oke, kata mereka. Mulai sekarang, saya perlu buat agenda rutin buat jajan ke warung ini. Sepuluh ribu sudah dapat minuman sehat~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s