BELAJAR TENTANG GAYA HIDUP ZERO WASTE

Akhir pekan kemarin, dua hari berturut-turut saya ikutan dua workshop. Hari Jumat saya ikut workshop menulis bersama Uchita Pohan, Sabtunya saya ikut Zero Waste Class bersama Zero Waste Adventure dan Mindfullness bersama Ibu Janti Wignjopranoto (@alterjiwo). Akhir pekan yang sungguh produktif hahaha. Lewat tulisan ini saya mencoba berbagi ilmu yang saya dapat dari  Zero Waste class kemarin, semoga bermanfaat ya.

Lokasi acaranya di Rumah Maguwo, kediaman Ibu Janti. Rumahnya super asri! Banyak banget tanaman, hening dan tenang gitu. Adem! Workshopnya di joglo sambil lesehan, jadi tidak kaku kaya duduk di kelas. Salah satu alasan yang bikin saya tertarik banget buat ikutan karena workshop ini diperuntukkan buat yang hobi naik gunung ataupun traveling, jadi ya relate aja gitu hehe.

image

Zero waste class di Jogja ini spesial karena pertama kalinya film dokumenter Siska Nirmala dan team diputarkan, Ekspedisi Nol Sampah di Baduy. Mereka mengunjungi Baduy tidak cuma buat belajar dan mengangkat kearifan lokal setempat, tapi juga berkunjung dengan tidak menghasilkan sampah. Dalam film itu mereka mewawancarai beberapa orang Badui Dalam dan Baduy Luar.

Dari film dokumenter itu, kita diajak belajar dari konsep kesederhanaan dan minimalis yang dianut Suku Baduy yang sudah ada sejak dulu. Saya coba kasih beberapa contohnya dalam poin-poin ya.

– Suku Baduy hanya memiliki baju tidak lebih dari 10 buah. Bahkan salah satu orang Baduy Dalam yang diwawancara hanya punya baju 3 buah, satu buah untuk upacara dan dua lainnya untuk sehari-hari.

– Suku Baduy Dalam hanya memiliki baju berwarna hitam dan putih, karena mereka percaya itu adalah warna pertama yang ada di dunia. Sedangkan untuk Baduy Dalam, selain warna hitam dan putih juga ada warna biru. Warna biru ini bisa diperoleh dari warna daun, katanya.

– Suku Baduy Dalam pakaiannya tidak menggunakan kancing, hanya kerah saja.

– Suku Baduy tidak menggunakan sabun atau pasta gigi konvensional, karena mereka menghargai mata air dan tidak mau mencemari hulu dan aliran sungai lainnya. Mereka menggunakan lerak untuk cuci baju, lerak yang ditumbuk bisa menghasilkan busa. Mereka menggunakan jeruk nipis dan daun kica’ang untuk shampoo. Mereka menggunakan sabut kelapa untuk sikat gigi.

image

Tapi ternyata, Suku Baduy sekarang sudah mulai terpapar modernisasi, khususnya Baduy Luar. Sejak 2010, Baduy dikenal dengan wisata budaya. Dalam satu minggu bisa lebih dari 500 orang berkunjung ke Baduy. Sisi positifnya, ada kenaikan perekonomian karena pemesanan kain khas Baduy meningkat. Sisi negatifnya, sampah plastik juga jadi bertambah. Sekarang kalau berkunjng ke Baduy mudah sekali manemukan warung yang menjual air minum kemasan. Pengunjung malas membawa pulang sampah karena track yang susah dan edukasi mengenai sampah untuk warga lokal ini juga masih kurang. Mereka masih belum menemukan solusi terbaik untuk masalah sampah ini, biasanya sampah-sampah ini dibakar.

Kedatangan kita ke suatu tempat lokal (misalnya Baduy ini) secara tidak langsung memberikan dampak bagi warga lokal. Ketika kita berpakaian bagus atau memegang HP, mereka penasaran dan ingin seperti kita. Pemakaian bahan-bahan natural yang sekarang sedang trend ini ternyata sebenarnya mengajak kita kembali ke budaya lama, pastinya dengan kebaikan mengurangi limbah.

image

Selesai menonton film dan berdiskusi, kami makan siang super spesial. Ibu Janti sang pemilik rumah adalah seorang vegetarian, jadi menu kami hari ini semuanya dari sayuran. Makan siang tanpa makanan kemasan. Menunya ada lempeng tiwul, terancam, sayur lodeh ijo, tempe koro bacem dan opak. Minumnya juga tidak berkemasan, free refill disediakan infused water lemon dan mint serta wedang jahe. Selama makan siang kami harus mindfullness, menikmati setiap suapan makanan, tanpa ngobrol dan pegang HP. Tapi saya pegang kamera wkwk.

image
image

Gaya hidup zero waste ini punya efek domino lhoo, ketika kita punya kesadaran buat minimalisir sampah, kita akan mengeliminasi produksi sampah dengan memilih mengkonsumsi makanan yang sederhana yaitu natural food. Dampak dari mengkonsumsi makanan sederhana itu kita jadi eating clean, eating clean sudah pasti baik buat badan kita. Setujuuu!

Beberapa orang belum tergerak karena sudah melekat mindset sulit mempraktekannya, padahal zero waste akan membuat hidup lebih sederhana. Mulai aja dulu dari yang paling mudah dan sederhana kemudian dilakukan secara bertahap dan konsisten, bisa dengan bawa botol minum, tempat makan dan kantong belanja sendiri. Saya pun masih belajar buat minimalisir sampah dan tidak hidup konsumtif. Yuk, pelan-pelan ubah kebiasaan sehari-hari kita! Jangan lupa pakai sedotan reuseable dan botol minum sendiri kalau beli minuman kekinian ya hehe. Biar belasan bahkan puluhan tahun lagi kita tidak tambah stress sama urusan sampah ini.

image

Sekian dulu cerita tentang zero waste classnya, postingan selanjutnya saya akan bahas tentang mendaki gunung atau traveling tanpa menghasilkan sampah dari ilmu yang saya dapat di class kemarin. Ditunggu, ya! hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s